Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Senyum yang (Sengaja) Terlupakan

Kadang saja atau memang sudah sering. Buku-buku berat itu telah menjadi beban punggung untuk mereka. Merenggut masa bermainnya dan mengabaikan hangat tawa yang semestinya menjadi simbol kemerdekaan mereka. Berkali-kali dan berulang-ulang selalu mengutip kalimat ini " Pak, Buk, jangan cabut anak-anak kita dari dunia bermainnya, karena nanti jika  ia besar, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" Elly Warisman.    Hari itu, sedikit mataku terbelalak tajam. Melihat anak-anak seusia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau gaulnya Play Group bermain-main dan tertawa bareng dengan teman-teman sepermainannya. Aku? Turut senang. Di lain itu, sebuah pemandangan menyipitkan mataku seketika; hey lihat di atas ayunan itu! Anak kecil sedang mendekorasi wajahnya dengan konsep murung. Ini berbeda. Aku mengangguk-angguk dan mengambil pose terbaiknya (menurut kamera seadaku) Tidak mengherankan jika akupun sama dengan anak itu. Kenapa memilih diam daripada menggotong ba...

Lalu Bagaimana dengan Bhinneka Tunggal Ika?

Jawaku terusir dari tanahnya sendiri. Miris, tapi beginilah yang terjadi. Aku, Kau, Dia, Mereka dan Kita hanya memilih diam kan? Cukup saja dengan mengumpat, mencibir bahkan sampai keluar air mata melihat palu itu diketokkan. Kita tidak melawan?  Aku ragu, apa kita memang benar-benar sudah merdeka, sementara untuk berbahasa dengan bahasa kita sendiri, dilarang? Unbelievable! Apa Jawa pernah menyakitimu?  Kau berdalil, bilang Jawaku ini sarang kemusyrikan. Letaknya dimana? Kau tahu, karena kewibawaan Jawalah masyarakat berlapang hati menerima ajaran Islam yang mereka, para ulama syiarkan. Aku sempatkan kali ini untuk membiarkan hatiku tercabik-cabik terluka dan mendiamkan saja mataku membengkak karena segelintir air mata. Ingatkah Kau, bagaimana seorang wali Allah yang betapa gigihnya menyelip-nyelipkan sebuah ajaran untuk memberikan pemahaman hidup yang sesungguhnya bagi masyarakat Jawa kala itu; agar pedoman hidupnya sesuai dengan Ajaran Al-Qur'an dan Sunnatullah. Kau ...

Simpangan

Luka hatiku mana lagi, yang kau dustakan? penuh. sudah penuh. Dan tapi, seremuk apapun itu sesungguhnya, aku harus terpaksa untuk tersenyum di depanmu. berbohong pada keadaan yang mengapit, seolah-olah memang tidak ada apa-apa. kita baik-baik saja (menurutmu).  setega itukah? sampai-sampai untuk berucap kata maaf pun (selalu sengaja) tidak kau sempatkan. apa yang salah? jabatanmu yang menghalangi? Demi Tuhan, aku sangat membencinya. lagi-lagi kita bertemu di persimpangan yang sangat menjemukan bagiku (entah bagimu seperti apa). -------------------------------------------------------------------------------------------------------- mengenalmu (boleh aku menyesalinya?)

Kita Sama-sama Sombong

ini adalah hari yang sesungguhnya. meminta dan sangat memaksa diriku sendiri untuk tidak lagi mengemis hati  yang sengaja kau tawarkan pada siapapun (yang mungkin tertarik padamu). aku bosan!!! kalau saja, ada hitam di atas putih untuk memperjelas bahwa akulah orang pertama yang melarangmu menjadi seorang operator. aku membencinya! sangat membencinya! kau tahu? berbagi hati itu tidak semudah memotong satu roti menjadi 6 bagian. sangat sulit. mengibaratkan dirimu layaknya operator, yang sangat ramah menjawab segala tanya menjemukan dari para pelangganmu. dan aku yang mendengarnya, sangat membenci itu. itulah kenapa aku memutuskan untuk berhenti mengemis hati padamu. aku tidak sanggup untuk berbagi hati. aku cemburu! cemburu! hanya itu! ah, cemburu. (mungkin bisa jadi) karena aku juga terlanjur menumpuk dosa bohongmu yang sangat menyakiti (masa itu). kita terjebak dalam persimpangan; melihat, menatap, tapi berlempar senyum pun enggan. acuh! that's our choice. kenapa kita sa...

Satu dan Satu

Yang satu, membuat hijau dari tanah yang kering dan tandus ringan baginya, bertaruh peluh demi humus bagi rumputnya Satu yang lain, membuat bisu kertas-kertas yang bertulis angka kadang dilebihkan, kadang dikurangi bukankah sama-sama berlahan?! penggeraknya pun juga sama: tangan dan pikiran hanya mungkin berbeda hati antara berbagi dan milik sendiri yang satu paham betul, bagaimana memuliakan alam sejalan dengan kehidupannya satu yang lain terbujuk, kemana hutan ini bisa ku jual ah, jelas saja berlain kaki satu ke surga satu yang lain memilih neraka

Satu Hari

Sepi beralun menggulung pendar ramai sesaat yang kuikuti gaduhnya, Berbekas di antara sahutan suara bunga api yang masih terbayang jelas di petang ini. Terasa semilir angin berpacu dengan tirai-tirai daun yang menghunjam sekat-sekat diantaranya. Tidak mudah… sungguh tidak mudah Lingkar peristiwa yang bisa ku bacakan alurnya, Tapi mustahil bagiku menceritakan yang sesungguhnya terjadi, 2 mata, 2 telinga, satu hati menyatu dalam satu paham, Ah, tetap saja aku manusia. Dayaku hanya mampu berkata apa yang terlihat dan terdengar, Bahkan sering meniadakan yang pernah atau yang sedang dirasa, Tapi sungguhlah adalah Allah pemegang kuasa atas keMAHA tahuan-Nya tentang apa yang ada di balik hati makhluknya. Tentang hari ini, tentang hari kemarin; Hanyalah pemahamanku sebagai manusia yang bisa terevisi ataupun tereliminasi oleh pemahaman yang baru. Bukankah hakikat hidup yang sebenarnya adalah proses menjalani ? Maha Tahu Allah yang menjadikan aku...

Duyung

Kita terlanjur sibuk dengan suatu hal yang tidak penting. Banyak hal yang hanya membuang waktu dan mengabaikan daya otak kita. Semua itu karena kita terlalu sabar dengan kelambanan dan penyiksaan batin yang menahun. Sering salah mengartikan bahwa ini adalah zona aman, padahal sesungguhnya ini adalah duplikat baru dari penjajahan. Mau atau tidak, inilah generasi yang kita hadapi. Generasi Z yang sudah cukup akrab dan berbaur damai dengan persoalan-persoalan yang complicated. Pernah dulu sebuah ungkapan mampir di telinga, “kita ini seperti duyung, modern masih ketinggalan, tapi untuk disebut njawani sudah tidak mampu lagi mengindahkan budaya timur kita”. Ya, polemik sebuah kata mutiara yang sempat terpajang di dinding kelas waktu dulu, “ambillah ketegasan untuk satu keputusan”. Cukup sulit memang, tapi untuk sebuah perubahan why not *dahi agak naik? Dan lagi tidak jarang mendengar senjata ampuh ini: kalau bukan diri kita yang memulai lantas siapa? Waow, sindiran yang bernada motivasi ...

Pita hitam untuk pemuda

tanahku berduka merindukan semangat jiwa-jiwa muda yang telah beralih malas dan enggan bekerja dimana pemuda? Ketika desaku tengah bersedih Menantikan suara adzan di tengah siang dan di puncak petang Tak ada yang bergerak Tak ada yang menghiraukan Mereka semua diam Ya, aku malu padamu usia Jika dulu negriku hanya butuh 10 pemuda Untuk mengguncang dunia Maka hari ini aku mencarinya Dimanakah bara semangat itu bersembunyi? Siapa yang menculiknya? TIDAK!!!!         Keterpurukan ini harus segera berakhir Harus dilawan Harus dihentikan Kejayaan pemuda harus diperjuangkan

Semua Ada

Bareng sama temen-temen HIMA JAWA Euforia Ospek UNY 2012 seolah ingin mengulang dan terus meretas keberhasilan ospek dari tahun ke tahun. Menjunjung tinggi asas persatuan dan membumikan semangat multikultural yang tidak akan pernah akan pernah lepas dari masyarakat Bhinneka Tunggal Eka di negeri ini. Semangat perjuangan yang melantangkan motto pendidikan seraya menggugah jiwa-jiwa muda untuk bangun & menatap dunia, mempersembahkan aksi nyata untuk Ibu pertiwi tercinta. "semangat kreativitas dalam keberagaman" Mahasiswa adalah cerminan pelopor perubahan yang tidak cukup untuk diam & meratapi kegagalan masa lalu, tetapi jiwa muda yang sanggup mengentaskan dirinya dari perbedaan kecil yang menyatukan jutaan kepala berdarah egois memboyong milyaran ide, gertakan tenaga dalam kemanunggalan kreativitas. Jiwa itu adalah masyarakat multikultural. " Lembah manah amarga budaya" Semangat muda yang tidak hanya berhenti pada kata "kita mahasiswa...

Kakak kedua

gemetar hati melawan nada bicaramu yang semakin meninggi. aku hampir tidak mengenalimu, sepertinya bukan yang aku kenal selama ini. sesak dadaku mengenang santun budimu, yang benar-benar aku rindukan. ya, itulah saat kau marah. kau mengajari aku bagaimana mengeja a ba ta, sementara aku lebih senang bermain bola-bola kecil yang sungguh engkau membencinya kala itu. sungguh, aku masih ingat betapa cemas dan merindingnya rona wajahmu, ketika darah mengalir dari mata kakiku yang sempat terjepit roda sepedamu. kau tahu, betapa lucunya kala itu. ketika tanpa berfikir panjang kau sobek bajumu untuk membalut kucuran darah yang menderas dari kakiku. bahkan, omelan ibu yang akan segera kau dengarkan, tidak kau hiraukan... yang penting bagimu adalah aku berhenti menangis pada waktu itu... ya, kau lebih dari takut.... mengkhawatirkan hukuman apa yang akan segera ayah berikan padamu. aku tahu kau takut.... dan karena itu, aku terlarut dalam nina bobo rayuanmu yang meredakan rasa sak...

Sendiri, ya... hanya sendiri

merebahkan angan di bawah kaki langit, sendiri, hanya sendiri diantara larik gulungan tikar mengeja huruf satu demi satu ingin menyebut kurang, tapi terasa sangat penuh menatap keanggunan malam-Mu yang tidak mungkin bisa ku jabarkan dengan indah seperti kerlipan benda-benda yang telah menjadi wakil keindahan-Mu, hanya helaan nafas panjang yang ingin aku serahkan sendiri, ya... hanya sendiri 5 jam bermalam dengan 4 jam perjalanan, entahlah, semua terasa sangat begitu ringan ringan, ya.. ringan mungkin karena rindu yang menikam rasa kaku batinku yang terlanjur tak bisa ku reka sendiri, ya... hanya sendiri menyewa 1 malam, walau hanya 5 jam untuk mendekap hangat tubuhnya Ya Rabb, sempat 2 jam lalu aku mengeluh & merasa berdosa karena kuasa-Mu yang menitipkan aku kepada kedua orang yang begitu mencintaiku maaf, jika aku telah menyemaikan luka di hati keduanya, merasa gagal dengan yang telah aku lakukan selama 9 bulan ini, Ayah...... Ibu....... beruntungnya ...

Pagar Menjadi Tebing

makilah sesukamu, semua yang terkira olehmu, bahwa itu salah, silahkan.... toh, pada nyatanya; pagar yang berdiri itu telah roboh, kini, berubah menjadi tebing yang sangat tinggi, membuatku mengerti bahwa akulah yang paling datar  diantara yang menanjak tajam, memahamkan aku bahwa akulah yang paling berdebu diantara yang mengkilat....  terimakasih, atas ketegasan bahasamu yang menyadarkan siapa aku... berhenti mengagumimu, tidak berarti menghilangkan rasa hormatku padamu...

Ibu dalam Ingatanku, Ayah dalam Bayanganku

"Aku tidak bisa mengenal laki-laki itu,  bahkan untuk menjabat tangannya atau hanya sekedar melihatnya, dayaku seperti suai terikat yang tiba-tiba getas seketika. Bantu aku untuk mengenalnya, Ibu” *** Angin mengibas pelan gundukan gumuk di tepian laut, hamparan luasnya  membentangkan arah timur dan barat; Berdiri seorang diri, yang lebih akrab dikenal sebagai cucu dari seorang pemuka desa pinggiran, yang memilih nyaman dengan suasana malam bersama celoteh jangkrik dan cercauan belalang  kecek  di antara petak-petak sawah yang mengapit gubuk tua milik kakeknya. Jemu dengan suasana kota yang nyaris , hampir pernah menyapa dan memperdulikannya. Bahkan kekejaman kotalah yang membuat ia enggan bersuara dalam hidupnya. ‘Bila pun waktu terulang aku ingin bersama denganmu saja Ibu, tidak pernah ingin beranjangsana kepada dunia yang sering Ibu bilang membuat rindu dalam mimpiku itu. Bohong, semua bohong Ibu. Tidak bisakah, engkau mendengar tangis pijarku kare...

Aku Membohongimu

Aku membohongimu ...... bahwa aku tidak mungkin tidak seperti bank, yang sempat kau sematkan juga dalam dirimu; mengharapkan bunga dari peluh yang sengaja diperjuangkan, Aku membohongimu ...... bahwa aku telah menyediakan hati yang utuh untukmu, tidak mungkin, sementara aku adalah bagian dari hati yang remuk itu, melantangkan bahwa hati ini mampu menyanggamu, itu bohong!!! menyadari bahwa hatimu telah berpaku halus dan lembut, itupun baru sekarang,, bodoh, benar-benar bodoh ...... berantuk dengan hati yang sudah terlanjur mulia, itulah hatimu ...... cukup untuk membuatku paham bahwa tidak ada andil bagiku untuk kembali meminta hatimu, terlalu mulia, telalu halus ...... itulah hatimu, maaf, bila pagimu sempat terbuat berantakan, samarnya pemahamanku tentang hatimu, karena aku belum cukup waktu mengenalimu. *** Seorang kakak yang dengan kesantunannya menasehati adiknya, tanpa harus berkata 'jangan' atau 'tidak' tapi cukup dengan kata 'tafadhol win saja' Kena...

Aku di Masa itu

Benar-benar sedang tersadar bahwa aku merasa asing dengan lingkungan yang aku kenal, pergaulan teman sebaya, masyarakat desa, dan pertemanan di sekolah. Entah apa yang merujuk untuk kesana, seperti terhantam badai dan kemudian terseret ke tengah samudra yang dikelilingi hiu dan paus. Sehari-hari berkerumun dan berkumpul, semenit saja untuk merasa hidup, rasanya sesak. Aku merasa hilang di sana, diantara hal-hal yang harusnya menjadi bagian dari hidup yang ku jalankan. Tapi kenapa, itu tidak berlaku dalam skenarioku. Rumit? Alurnya yang rumit, atau metode adaptasiku yang rumit. masih samar, benar-benar samar. Setiap pagi, yang harusnya aku sambut dengan histeria teriakan do it, win; sepertinya tidak layak pada masa-masa itu, just nonsense! so pity,,,,, Seperti cacing tanah yang menggeliat di tengah gurun pasir sangat tepat di bawah teriknya matahari. Itulah aku di masa itu, yang sudah terlanjur pincang dengan awalan yang salah. *berharap Alloh memaafkan ketulianku tentang nama hati Se...

Pilihan

Hari ini, males aja pengen pulang. Pertimbangannya; pasti capek, udah gitu musti pake ongkos, tugas kuliah numpuk dan belum terjamah satupun. Mending bertapa aja di kos, lagian cucian satu mingguku juga menggunung. Gini nih, kalo ga nurut sama jadwal yang udah di mou in sendiri. Ga ada manajer ga ada yang ngingetin, manajernya ya dirimu itu win. Berantakan karena organisasi? agak setuju sih, tapi itu udah pilihan. hampak banget kalo, kuliah ga ada keribetan-keribetan lain selain tugas. Tapi, resikonya ya harus berbagi, padahal sebenarnya paling sulit itu, kalo harus berbagi; berbagi hati, berbagi idola, tapi nek berbagi cerita ga ya? uang inti di kantong tinggal 50 ribu doang, sms bapak uangnya abis, katanya suruh ngambil aja di ATM. Tapi, entar-entarlah, 50 ribu kayaknya cukup kok buat seminggu, alasan lain yang lebih rumit lagi ATM itu ga pernah diisi, padahal tiap kali kepepet ga pulang, sarannya bapak suruh ngambil di ATM gitu, tapi og ga pernah diisi to. hmmm, orang tua..... ...

Yang Penting Nulis Aja

partikel yang terisolasi itu telah menjadi senyawa, mungkin bisa ramah, tapi juga sebaliknya. mungkin itu juga terjadi padanya dan padaku: aku yang terasingkan itu telah menjadi sendiri, mungkin bisa terlihat, tapi juga sebaliknya. meracau sendiri,  menulis pun ku rasa begitu, autis!!! melihat, menerka, dan kemudian menuduh apa salahnya? apa hebatnya? belum dijelaskan! memahamkan apa yang seharusnya dia tahu, itu terlalu sulit, tapi mereka bilang itu akan mudah, jika kamu mengatakan itu mungkin oyaka? ragu,  tapi itu yang harus dijalankan. 

Mutter

Ia yang memilih buta, jika ketulusannyaa disetarakan dengan lembaran merah, biru yang sering mereka sebut uang; yang rela menjadikan pagi dan siangnya hanya untuk memastikan bahwa prajurit yang ditempanya tak gentar menghadapi teriknya badai dan gemuruhnya perang masa depan.  Pangkuan, dekapan dan pelukan lembutnya memberikan ruh ksatria bagi jiwa muda yang bergegas memijakkan langkahnya untuk bumi yang telah membesarkan namanya. Mendayung arus pergantian generasi dari abad ke abad; siaga mempertaruhkan nyawanya demi beralihnya tongkat peradabann dunia. Srikandi itu, sebutlah ia IBU,

Kesia-siaan

Apa bedanya, aku ini dengan parit-parit kosong di musim kemarau berharap berangan, bertegur sapa dengan air-air itu; tidakkah sama, aku ini dengan air di musim penghujan, berlalu lalang dan tak jarang menjadi kambing hitam atas si banjir, kesia-siaan.......... dimana letak benarnya aku ini? seorang anak kecil, yang dahulunya pemberani tapi sekarang tidak lagi; merdekaku tertali oleh sakitku mungkin sebentar lagi, dan mungkin tidak lama lagi ingin menunjukkan betapa rasa sakit itu ada menyakitkan, tapi, pada siapa? dia? mereka? tidak akan pernah yakin! aku enggan bila harus seperti karbon monoksida; yang nyaman dengan kesendiriannya tapi menjadi seorang polutan, hanya ingin menjadi oksigen, yang bisa bersapa halus dengan paru-paru  yang kemudian akan bercerita tentang anugerah hidup yang Tuhan berikan; tidak banyak, hanya ini.

Untitled

di sini aku bisa melihatmu, walau hanya diterjemahkan oleh sebuah benda datar yang sedang memantulkan bayanganmu; bukan seperti cipratan lumpur di baju, yang sering kau ceritakan itu.... bukan aku lebih tahu darimu hanya aku masih saja berada di belakangmu, untuk apa? hanya untuk menjabat tanganmu; itu cukup;

Ayahku itu

menata warna? aku tak bisa, apalagi menerjemahkan tema, garis, ruang dan volume; teori yang harus ku mengerti ini, membuat aku gerah.. memilih kata? aku tak pandai, apalagi berlika-liku dengan arti yang harus dibedakan, ini membuatku lelah, berkompromi dengan not-not? bukan bakatku, apalagi melagukan nada dengan suara yang memukau, mereka bilang itu, sungguh membuatku semakin gusar, bergerak-gerak dengan jari atau kaki? bukan minatku, apalagi menyertakan hati untuk bermain-main dengannya, Tuhan, tak bisa aku memaksanya. ekspansi ke seberang..... bermanja-manja dengan sel, CH3COOH, mistar? aku tak lulus, apalagi bemesraan dengan ritual laboratorium, jenuhku semakin menjadi, berkelana ke jalur selanjutnya... mengotak-atik angka? kepalaku berjaring, apalagi harus menghitung ini itu, hah, terbentur 1 2 3, peta kebingungan ini belum berhenti, segerombol program ,sofware yang harus ku pahami, turbo pascal membuatku jengkel! apalagi ini,,,, beradu sis...

Sabtu Malam

malam minggu, yang ku sebut hanya milikmu; terpasung di antara sisi tanduk yang pincang, hati ini... sabtu malam, yang ku  pastikan hanya malammu, luluh tersedia di sekitar retakan-retakan, ide ini... 1 malam sebelum malam senin, yang ku tuduh hanya untukmu, sedang tersungkur lemah di tepian, ruh sakit ini, malam yang berbeda menurutmu, bagiku tetap biasa saja... persimpangan di perempatan, sadis... wewenangku tak ada andil untuk menyatakan keberadaanmu ooohh, 2 malam sesudah malam jum'at, malam yang singgah di malamku, miris,