Langsung ke konten utama

Semua Ada


Bareng sama temen-temen HIMA JAWA


Euforia Ospek UNY 2012 seolah ingin mengulang dan terus meretas keberhasilan ospek dari tahun ke tahun. Menjunjung tinggi asas persatuan dan membumikan semangat multikultural yang tidak akan pernah akan pernah lepas dari masyarakat Bhinneka Tunggal Eka di negeri ini.

Semangat perjuangan yang melantangkan motto pendidikan seraya menggugah jiwa-jiwa muda untuk bangun & menatap dunia, mempersembahkan aksi nyata untuk Ibu pertiwi tercinta.


"semangat kreativitas dalam keberagaman"
Mahasiswa adalah cerminan pelopor perubahan yang tidak cukup untuk diam & meratapi kegagalan masa lalu, tetapi jiwa muda yang sanggup mengentaskan dirinya dari perbedaan kecil yang menyatukan jutaan kepala berdarah egois memboyong milyaran ide, gertakan tenaga dalam kemanunggalan kreativitas. Jiwa itu adalah masyarakat multikultural.



"Lembah manah amarga budaya"
Semangat muda yang tidak hanya berhenti pada kata "kita mahasiswa". Ya, budaya sebagai identitas bangsa yang harus kita akui keberadaannya dan kita junjung tinggi nilai dari filosofinya. Kita adalah masyarakat budaya, yang tidak akan pernah lepas dari jiwa dan darah seorang budayawan. Berani untuk mengatakan budayawan, ya, karena kita adalah pemilik aset budaya negeri ini.



"Meraih Religiusitas dalam Kehidupan"

I T U L A H- Y A N G- S E D A N G - D I P R O S E S

^.^



"ono fotone mb wulan, jadi males mau buat kata-kata" ha ha ha (ketemu orangnya dipenthung aku)


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...