Jumat, 06 April 2012

Aku di Masa itu



Benar-benar sedang tersadar bahwa aku merasa asing dengan lingkungan yang aku kenal, pergaulan teman sebaya, masyarakat desa, dan pertemanan di sekolah. Entah apa yang merujuk untuk kesana, seperti terhantam badai dan kemudian terseret ke tengah samudra yang dikelilingi hiu dan paus. Sehari-hari berkerumun dan berkumpul, semenit saja untuk merasa hidup, rasanya sesak.






Aku merasa hilang di sana, diantara hal-hal yang harusnya menjadi bagian dari hidup yang ku jalankan. Tapi kenapa, itu tidak berlaku dalam skenarioku. Rumit? Alurnya yang rumit, atau metode adaptasiku yang rumit. masih samar, benar-benar samar.






Setiap pagi, yang harusnya aku sambut dengan histeria teriakan do it, win; sepertinya tidak layak pada masa-masa itu, just nonsense! so pity,,,,, Seperti cacing tanah yang menggeliat di tengah gurun pasir sangat tepat di bawah teriknya matahari. Itulah aku di masa itu, yang sudah terlanjur pincang dengan awalan yang salah. *berharap Alloh memaafkan ketulianku tentang nama hati






Setiap siang, yang semestinya aku nyatakan sebagai waktu untuk berbagi, only a shadow! so terrible,,, Seperti hiu yang sampai hati menerkam ikan-ikan kecil tanpa berfikir untuk mengiyakan bahwa mereka juga ingin hidup bebas dan berbagi. Itulah aku di masa itu, yang sudah tenggelam dengan selang yang salah.


*berharap Alloh memaafkan kebutaanku tentang nama hati






Setiap sore, yang selayaknya aku indahkan sebagai waktu untuk mengerti bahwa hidupku tidak sendiri, I never did! too don't care,, Seperti kelelawar yang hanya mengerti tentang malamnya, tanpa ia mau tahu tentang siangnya merpati. Ya, itulah aku di masa itu, yang telah terdikte pola individualis.


*berharap Alloh memaafkan ketumpulan logikaku tentang nama hati






Setiap malam, yang harusnya aku maknai sebagai waktu mengenal-Nya lebih dekat, I sleep! too bad,,, Seperti ayam yang hanya mengenal dirinya, tanpa ia tahu bahwa ada seorang ibu yang dititipi-Nya untuk menjaganya. Ya, itulah aku di masa itu, yang terlanjur dekat dengan ketidakramahan hidup.


*berharap Alloh memaafkan ketidakpedulianku tentang nama hati.






Aku di masa itu, benar-benar menyedihkan ................






pelajaran: rabalah ke dalam hatimu itu, dan kamu akan mengerti ada hati - hati lain yang juga harus kamu mengerti.


0 komentar:

Posting Komentar