Langsung ke konten utama

Satu Hari

Sepi beralun menggulung pendar ramai sesaat yang kuikuti gaduhnya,
Berbekas di antara sahutan suara bunga api yang masih terbayang jelas di petang ini.
Terasa semilir angin berpacu dengan tirai-tirai daun yang menghunjam sekat-sekat diantaranya.

Tidak mudah… sungguh tidak mudah

Lingkar peristiwa yang bisa ku bacakan alurnya,
Tapi mustahil bagiku menceritakan yang sesungguhnya terjadi,
2 mata, 2 telinga, satu hati menyatu dalam satu paham,

Ah, tetap saja aku manusia.

Dayaku hanya mampu berkata apa yang terlihat dan terdengar,
Bahkan sering meniadakan yang pernah atau yang sedang dirasa,

Tapi sungguhlah adalah Allah pemegang kuasa
atas keMAHA tahuan-Nya tentang apa yang ada di balik hati makhluknya.

Tentang hari ini, tentang hari kemarin;
Hanyalah pemahamanku sebagai manusia yang bisa terevisi ataupun tereliminasi oleh pemahaman yang baru.

Bukankah hakikat hidup yang sebenarnya adalah proses menjalani ?

Maha Tahu Allah yang menjadikan aku hidup di hari ini dari hari yang kemarin;

bukankah sendiri adalah penegas, bahwa Allah cukup bagiku!

Satu hari berikutnya
satu hari setelahnya
satu hari sesudahnya
satu hari kemudian
satu hari selanjutnya

hanya satu hari yang tertata bersambung dengan sangat rapi
itulah satu hariku di dunia
yang bertahun-tahun lamanya menanti hari itu
jika di satu hari nanti
rel oksigen di tubuh ini
diperintahkan tersendat dan diizinkan berhenti
kala yang ku harap ada satu hari sebelumnya
cintaku pada-Nya menuntun dan membimbingku
menyebut asma-Nya dengan sangat santun dan merendah
"Lailla ha illallah muhammaddarrasullullah"

itu saja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...