Sepi beralun menggulung pendar ramai sesaat yang kuikuti
gaduhnya,
Berbekas di antara sahutan suara bunga api yang masih
terbayang jelas di petang ini.
Terasa semilir angin berpacu dengan tirai-tirai daun yang
menghunjam sekat-sekat diantaranya.
Tidak mudah… sungguh tidak mudah
Lingkar peristiwa yang bisa ku bacakan alurnya,
Tapi mustahil bagiku menceritakan yang sesungguhnya terjadi,
2 mata, 2 telinga, satu hati menyatu dalam satu paham,
Ah, tetap saja aku manusia.
Dayaku hanya mampu berkata apa yang terlihat dan terdengar,
Bahkan sering meniadakan yang pernah atau yang sedang
dirasa,
Tapi sungguhlah adalah Allah pemegang kuasa
atas keMAHA
tahuan-Nya tentang apa yang ada di balik hati makhluknya.
Tentang hari ini, tentang hari kemarin;
Hanyalah pemahamanku sebagai manusia yang bisa terevisi
ataupun tereliminasi oleh pemahaman yang baru.
Bukankah hakikat hidup yang sebenarnya adalah proses
menjalani ?
Maha Tahu Allah yang menjadikan aku hidup di hari ini dari hari yang kemarin;
bukankah sendiri adalah penegas, bahwa Allah cukup bagiku!
Satu hari berikutnya
satu hari setelahnya
satu hari sesudahnya
satu hari kemudian
satu hari selanjutnya
hanya satu hari yang tertata bersambung dengan sangat rapi
itulah satu hariku di dunia
yang bertahun-tahun lamanya menanti hari itu
jika di satu hari nanti
rel oksigen di tubuh ini
diperintahkan tersendat dan diizinkan berhenti
kala yang ku harap ada satu hari sebelumnya
cintaku pada-Nya menuntun dan membimbingku
menyebut asma-Nya dengan sangat santun dan merendah
"Lailla ha illallah muhammaddarrasullullah"
itu saja
Komentar
Posting Komentar