Apa yang dilihat mata, kadang memang belum tentu yang sebenarnya, Maka akal sehat ada, untuk menyangkalnya. Beruntung, ada ia yang membantu hingga prasangka itu sempat menjadi buntu. Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu, Pelan-pelan banyak cerita menyatu, Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan. Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman. Baginya, setiap pesan adalah ancaman. Sisi lain, Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka, nasehat tak sanggup menyentuh dada. ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda. Tak lagi mengganggu yang dikasihi, dengan tajamnya kata. Nampak tak lagi menyakitinya, tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya? Beralasan ia juga punya luka, yang menuntut disembuhkan. bukan tentang cela yang...
GERBANG RASA Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama. Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian. Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah. Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...