Langsung ke konten utama

Pilihan

Hari ini, males aja pengen pulang. Pertimbangannya; pasti capek, udah gitu musti pake ongkos, tugas kuliah numpuk dan belum terjamah satupun. Mending bertapa aja di kos, lagian cucian satu mingguku juga menggunung. Gini nih, kalo ga nurut sama jadwal yang udah di mou in sendiri. Ga ada manajer ga ada yang ngingetin, manajernya ya dirimu itu win. Berantakan karena organisasi? agak setuju sih, tapi itu udah pilihan. hampak banget kalo, kuliah ga ada keribetan-keribetan lain selain tugas. Tapi, resikonya ya harus berbagi, padahal sebenarnya paling sulit itu, kalo harus berbagi; berbagi hati, berbagi idola, tapi nek berbagi cerita ga ya? uang inti di kantong tinggal 50 ribu doang, sms bapak uangnya abis, katanya suruh ngambil aja di ATM. Tapi, entar-entarlah, 50 ribu kayaknya cukup kok buat seminggu, alasan lain yang lebih rumit lagi ATM itu ga pernah diisi, padahal tiap kali kepepet ga pulang, sarannya bapak suruh ngambil di ATM gitu, tapi og ga pernah diisi to. hmmm, orang tua.....

udah selesai nyuci gombalan yang numpuk satu minggu ini, terus bersihin kamar. Selanjutnya keluarin deh tuh bantal sama mattres-mattres nya. Semua diungsiin ke papan jemuran. Ga beruntungnya, langit hari ini bener-bener galau, segalau hatiku mungkin #halah

nyolong waktu bentar ah, buka laptop, tancepin modem, browsing deh. Alih-alih pengen merefresh otak, eh malah kegoda baca artikelnya pak harun yahya. Ya uwislah, turuti aja dulu. Sambilan sama baca, sign in deh tuh ke facebook, ah jeleh itu-itu aja. sign out seketika, close window dan shut down. 

bosen tuh kan mo ngapain hayo? coba pulang, mesti bisa klayapan kemana-mana. heh, pilihan-pilihan. Liat henpon, smsan nya sama itu-itu aja, bosen!!! matiin, tidur deh. Belum ada 1,5 jam melelapkan mata, temen kos ku dodok-dodok pintu, namanya si Pitri, dia mau tuker uang 50 ribuan gitu, yah uang lagi pikirku. Tak inget-inget kayae ga ada recehan 50an ribu gitu, soalnya uangku, ya tinggal satu lembar itu.
emm, akhirnya dia minjem 1ribu, buat ngangkot. 1ribu minjem? ah udah ah kasih aja.

Tepar lagi di lantai kamar, eyayaya, hampir aja mak kleyup nutupin mata. Temen kosku yang satunya lagi manggil-manggil aku, kalo ini namanya Kasanah. Dia nawarin jasa, mau nitip beli makan ga gitu, oh, giras seketika, mau mau mau. Lagi sakit po, Win? si dianya nanya. tak jawab; ga kok, cuma capek aja, kemarin ada kegiatan sampe malem  #ah, Al-huda kasian tak jadiin kambing hitam, padahal capeknya gara-gara aku lagi seneng aja bergalau hari ini, khusus.

Pas lagi nulis ini, nyambi sama buka pesbuk; keinget sama temen yang ngajak pulang hari sabtu. Apa hari sabtu???? hoahhh, mending tua sampe senin deh di kos daripada mesti pulang dan beristirahat cuma 17 jam di rumah. Udah gitu, belum tentu tugas kuliah kesentuh. Eyyy, pikirannya jahil, berkelana buka profil fb nya orang, ah gapapa ah, lagian ga ada larangan fans buka profilnya idolanya. idola? padahal cuma kakak tingkat aja. tapi gapapa, tetep saya sebut idola. Abis asik sih baca status-statusnya, ga jarang justru saya malah dapetnya ide nulis itu dari mb idola ini. keren ya? ow, pasti! mau kenalan sama mb nya itu? langkahi dulu sandal saya.

Pengalaman hari ini: kewenangan untuk memilih itu ada ketika pilihan-pilihan itu sudah ada; tinggal luruskan saja niat dan mantapkan pilihan, selebihnya jalankan saja, pahitpun itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...