Langsung ke konten utama

Senyum yang (Sengaja) Terlupakan


Kadang saja atau memang sudah sering. Buku-buku berat itu telah menjadi beban punggung untuk mereka. Merenggut masa bermainnya dan mengabaikan hangat tawa yang semestinya menjadi simbol kemerdekaan mereka. Berkali-kali dan berulang-ulang selalu mengutip kalimat ini " Pak, Buk, jangan cabut anak-anak kita dari dunia bermainnya, karena nanti jika  ia besar, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" Elly Warisman. 
 
Hari itu, sedikit mataku terbelalak tajam. Melihat anak-anak seusia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau gaulnya Play Group bermain-main dan tertawa bareng dengan teman-teman sepermainannya. Aku? Turut senang. Di lain itu, sebuah pemandangan menyipitkan mataku seketika; hey lihat di atas ayunan itu! Anak kecil sedang mendekorasi wajahnya dengan konsep murung. Ini berbeda. Aku mengangguk-angguk dan mengambil pose terbaiknya (menurut kamera seadaku)

Tidak mengherankan jika akupun sama dengan anak itu. Kenapa memilih diam daripada menggotong badanku untuk bergabung dengan kerumunan anak-anak yang lain itu. Mungkin karena tidak sejiwa, mungkin juga karena merasa dicurigai: ini bukan kehidupan di masaku. aiihh, plak!

Kalaupun juga aku adalah anak autis yang penyendiri itu, maka aku pun punya alasan kenapa menarik diri dari kerumunan "kampungan itu". why? Karena mereka membahas lagu-lagu yang mereka ubah liriknya menjadi lebih kotor, dan bagiku itu sangat menjijikkan, walaupun itu sangat menyenangkan, lucu atau apapun itu bagi mereka.

(ehmm, jadi terbawa suasana mood)

Sejujurnya adalah pesan hati yang ingin bisa tersampaikan. Aku rindu lagu pelangi-pelangi alangkah indahmu, lagu pada hari minggu ku turut Ayah ke kota, ataupun sejenisnya. Aku rindu itu. Orang dewasa sekarang lebih jahat, membingkai kemalangan hidupnya dalam sebuah lirik, lalu menyebarkan virus-virus pada anak-anak yang sesungguhnya akan sangat cemerlang masa depannya. Orang dewasa lebih tega membunuh cita-cita anak-anak ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...