Rabu, 12 Desember 2012

Senyum yang (Sengaja) Terlupakan


Kadang saja atau memang sudah sering. Buku-buku berat itu telah menjadi beban punggung untuk mereka. Merenggut masa bermainnya dan mengabaikan hangat tawa yang semestinya menjadi simbol kemerdekaan mereka. Berkali-kali dan berulang-ulang selalu mengutip kalimat ini " Pak, Buk, jangan cabut anak-anak kita dari dunia bermainnya, karena nanti jika  ia besar, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" Elly Warisman. 
 
Hari itu, sedikit mataku terbelalak tajam. Melihat anak-anak seusia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau gaulnya Play Group bermain-main dan tertawa bareng dengan teman-teman sepermainannya. Aku? Turut senang. Di lain itu, sebuah pemandangan menyipitkan mataku seketika; hey lihat di atas ayunan itu! Anak kecil sedang mendekorasi wajahnya dengan konsep murung. Ini berbeda. Aku mengangguk-angguk dan mengambil pose terbaiknya (menurut kamera seadaku)

Tidak mengherankan jika akupun sama dengan anak itu. Kenapa memilih diam daripada menggotong badanku untuk bergabung dengan kerumunan anak-anak yang lain itu. Mungkin karena tidak sejiwa, mungkin juga karena merasa dicurigai: ini bukan kehidupan di masaku. aiihh, plak!

Kalaupun juga aku adalah anak autis yang penyendiri itu, maka aku pun punya alasan kenapa menarik diri dari kerumunan "kampungan itu". why? Karena mereka membahas lagu-lagu yang mereka ubah liriknya menjadi lebih kotor, dan bagiku itu sangat menjijikkan, walaupun itu sangat menyenangkan, lucu atau apapun itu bagi mereka.

(ehmm, jadi terbawa suasana mood)

Sejujurnya adalah pesan hati yang ingin bisa tersampaikan. Aku rindu lagu pelangi-pelangi alangkah indahmu, lagu pada hari minggu ku turut Ayah ke kota, ataupun sejenisnya. Aku rindu itu. Orang dewasa sekarang lebih jahat, membingkai kemalangan hidupnya dalam sebuah lirik, lalu menyebarkan virus-virus pada anak-anak yang sesungguhnya akan sangat cemerlang masa depannya. Orang dewasa lebih tega membunuh cita-cita anak-anak ini.

0 komentar:

Posting Komentar