Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Februari Menulis

Sing Lumrah

Angudi lathi anggone ngracik ukara ngalembana lan mbebungah ati, anyingkiri tetembungan, kang bisa milara ati. Geneya, nalika padha ngendika ora nganggo duga kira, paugeran disasak, mblarah tekan mrana-mrana. Kamangka, yen wong gawe luput, kuwi rak ya lumrah, ora gage-gage nibakke pangipat-ipat "Dadiya banyu ora gelem nyawuk, dadiya godhong ora bakal nyuwek." Dudu kaya mengkono, sing diarani paseduluran ya, ngger. Samirono, 23 Februari 2020

Cerita Seorang Lajang

Menjadi biasa dan mengikuti kebanyakan orang ternyata cukup membosankan, sebab pribadi yang tadinya independen dan bebas dari intervensi, mau tidak mau harus mengikuti pendapat orang banyak, yang pada akhirnya membentuk karakter “pembeo”. 2 tahun ini, saya mencoba bermasyarakat dengan normal (menurut banyak orang). Menjalani hidup seperti itu, tentu sangat bertolakbelakang dengan karakter saya, tetapi mau tidak mau saya harus menjalani itu. Sebab selain tuntutan suasana kerja, hal itu juga saya butuhkan untuk bisa memberikan contoh kehidupan yang normal bagi anak didik saya. Tidak mungkin saya bisa mengajarkan “karyènak tyasing sesami” (menjaga perasaan orang lain), jika saya sendiri justru menyingkir dari pergaulan. Bukan berarti saya tidak suka bergaul, hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan kerumunan orang dan memperbincangkan orang lain. It’s not my style. Tentu tidak semua pergaulan begitu, hanya saja itu yang saya alami setiap berkumpul dengan kawan-kawan saya.  Pa...

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

Belakangan ini, mengungkit-ungkit hubungan posisi duduk dengan prestasi anak di sekolah, entah kenapa cukup menggoda dan menyita perhatian saya. Mengamati dan menelisik keseharian mereka bersama teman sebangkunya di sekolah. Ada kecenderungan mereka duduk di bangku yang sama dengan orang yang sama dan hampir di semua kelas begitu, meskipun ada satu atau dua yang tidak begitu. Mungkin ini suatu kondisi yang biasa dianggap lumrah dalam keseharian kita, karena memang manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kenyamanan. Jika dia sudah mendapatkan rasa nyaman, maka akan terasa aneh ketika ia menghadapi situasi dan keadaan yang berbeda. Saya menyebut kondisi seperti inilah yang dinamai culture shock . Saya pun pernah mengalami itu. Ketika kita sudah nyaman dengan seseorang tetapi waktu berlalu, sesuatu terjadi dan keadaan berubah, pasti ada rasa tidak terima dengan perubahan itu. Saya rasa itu hal yang manusiawi, selama kita masih bisa kembali ke alur yang semestinya. Life must go on!...

Nekuk Ilat

"Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang menjadi kepeduliannya"  (John Gardner) Kepada hati yang merindukan kedamaian, maka menulislah! Ada pepatah Jawa bagian barat yang mengatakan bahwa : " the palest ink is better than the best memory" Baik, mari berselancar mengudari simpul apa yang akan saya tulis. 13rd of February, 2014 was the second time for me to presented about responsibility reporting to the public, especially to others people in Javanese Programme. I did not really know how to make sure the others about what I do as long as I was to be a driving-head in PENA division. It was so awkward moment, right?! You know what, I had to speak krama Javanese and you can imagine how is so hard for me to speak well. Yes, I was so nerveous! But I give you my word if I efforted as much as I can. In the middle of my presentation, I gave up and said "I'm really sorry can't speak krama Javanese fluently". The audiences looked at me like ...

Sajak Pengantar

Aku pilihkan sajak pengantar sebagai obat penawar aku yang diam membujur sudah berkali jatuh tersungkur sembari bersenandung lirih berharap luka itu memulih Setiap kehilangan adalah menyakitkan terlebih yang sengaja tak berpamitan pergi begitu saja membisu tanpa pesan dan kata Aku benci setiap kali ia tiba-tiba kembali meramu kata dan berkisah cinta semaunya tanpa memberikan penjelasan pada hati yang bertahun ia diamkan. Setidaknya jadilah seperti petang yang ketika beranjak malam, ia selalu memberi pertanda kaki langit berwajah semburat yang terubung warna gelap, Padamu, aku ingin berakhir. tapi kini, inginku bersikeukeuh untuk mengakhiri, hingga akhirnya kita adalah saling mengakhiri, tanpa merasa dihianati.

Jadilah Obyektif

Adanya hak memilih, bukan berarti kita boleh berlaku tidak adil dalam memberikan informasi atau pun pemberitaan sejenisnya. Coba kita renungkan, ketika seseorang sudah memiliki tendensi terhadap sesuatu, maka hal yang akan dilakukan adalah mengupayakan berbagai tindakan untuk mengunggulkan tendensinya. Dengan kata lain, upaya itu adalah untuk pembelaan sekaligus menyelamatkan tendensi tersebut dari stigma negatif yang terlanjur berkembang di masyarakat. Sadar atau tidak, seringkali kita memilih tidak peduli terhadap dampak dari apa yang kita lakukan, mungkin saja akibat dari dukungan dan motivasi yang kita berikan justru menimbulkan gap (jurang pemisah) antara idola yang kita usung dengan kawan mainnya (yang mungkin kita juga mengenalnya) . Ditambah lagi, dukungan itu disampaikan secara subjektif, artinya kemungkinan untuk mendukung idola lain sangatlah tidak mungkin, sebab kita sudah terlanjur menghibahkan diri untuk condong ke salah satu idola. Hal ini akan berdampak buruk pasc...

Teman Setia

Engkau mengingatkanku untuk mencintai perdamaian, Engkau mengutuk amarahku, sebab menurutmu aku sudah tidak lagi bisa mengendalikannya, Engkau berkata kepadaku: “Apakah selama ini engkau menyembunyikan kebencian yang terlalu dalam itu, dariku?” Engkau membantahku: “Kau bilang semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi kenapa agamamu melarangmu menjadikanku sebagai teman setiamu?” Hari ini, izinkanlah aku untuk menyampaikannya kepadamu, bahwa memang ada perbedaan di antara kita. Perbedaan yang selamanya akan membuat kita tetap berbeda. Kita memang berteman dan saling menghormati keyakinan kita masing-masing. Kamu beribadah dengan cara agamamu dan aku beribadah dengan cara agamaku. Itulah aturannya, dan bukankah sudah sangat lama kita memahami ini?! Kita tidak pernah memperdebatkan masalah ini, karena kita paham batasan toleransi dalam beragama. Kita saling menghargai untuk sama-sama taat pada ajaran agama kita masing-masing. Berkali ku katakan kepadamu, bahwa dasar hukum...

Kadhung Cidra

Wujuding lelayang kang kasimpen ing sajeroning kotak abang, saktlerap kedawa-dawa ngangen-angen sing wis kedaden. Nyenyet, mung ana lelamun sing tumindake kaya brambang abang, bisa gawe mrebes mili ngrungkep sedhakep tangan. Suara jangkrik sing biasane kudu ana, sinulih udan deres sing nambah-nambahi abot rasaning rasa sing kadung nggondheli. Krekat kreket… Obahing uwit lan suara godhong sing pating sesamplukan, gawe giris. E lha gene, sing isih melek mung Rasti. Ibune sajak wis katrem ana ing impen-impen. Omah ing sapinggiring alas, dirubung wit-witan sesandhingan karo tangga teparo sing mesthi wis padha ngglethakke awak merga lungkrah bubar nyambut gawe sedina muput. Mbaleni lelayang sing tinata rapi lan ora ana sing untel-untelan, nadyanta cacahe mung siji. Seprana seprene ngenteni wangsulan kang dadi pangajab, rasane kaya ngudhali ati dhewe. “Layang kangenmu, Mas Adi”. Iseping madu, rasane sepa. Sawangane manis, ora ngertiya yen rasane kaya keiris lading sing m...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...

Karena Allah

Saat aku ingin menangis, izinkan aku untuk memeluk bayanganku sendiri.  Berkali-kali menegaskan pada diri sendiri: Allah cukup bagiku. Entahlah, memang sedang ingin kembali pada masa yang dikehendaki.  Hari ini memutuskan untuk nggak belajar bareng sama jyestha, belum sempat juga beliin anak itu coklat. Memberinya PR untuk membuatkan puisi. Ya, begitulah, ada 3 amanah organisasi kampus yang membuatku sempat bolak-balik, meskipun hanya 2 amanah yang terjamah. satunya? ilang. Sesuatu yang harus memaksa otak untuk mengingat, mencatat dan merencanakan. Kadang berfikir, Allah sedang bercanda padaku. Anak sekecil ini harus berhadapan dengan amanah yang sebesar ini. Bagiku ini terlalu baik Ya Allah untukku. Merasa tidak pantas dan sejenis pengutaraan maksud yang melemahkan. Tentang air mata yang kering 3 tahun lalu. Ketika teman-teman seusiaku memilih lebih dulu, aku hanya terdiam. Terlalu lama mempertimbangkan dan akhirnya hanya terpasung di balik jeruji keminderan yang me...