Jawaku terusir dari tanahnya sendiri. Miris, tapi beginilah yang terjadi. Aku, Kau, Dia, Mereka dan Kita hanya memilih diam kan? Cukup saja dengan mengumpat, mencibir bahkan sampai keluar air mata melihat palu itu diketokkan. Kita tidak melawan?
Aku ragu, apa kita memang benar-benar sudah merdeka, sementara untuk berbahasa dengan bahasa kita sendiri, dilarang?
Unbelievable!
Apa Jawa pernah menyakitimu?
Kau berdalil, bilang Jawaku ini sarang kemusyrikan. Letaknya dimana? Kau tahu, karena kewibawaan Jawalah masyarakat berlapang hati menerima ajaran Islam yang mereka, para ulama syiarkan. Aku sempatkan kali ini untuk membiarkan hatiku tercabik-cabik terluka dan mendiamkan saja mataku membengkak karena segelintir air mata. Ingatkah Kau, bagaimana seorang wali Allah yang betapa gigihnya menyelip-nyelipkan sebuah ajaran untuk memberikan pemahaman hidup yang sesungguhnya bagi masyarakat Jawa kala itu; agar pedoman hidupnya sesuai dengan Ajaran Al-Qur'an dan Sunnatullah. Kau Bohong! Gamelan, wayang tidak pernah menyakitimu.
Unbelievable!
Apa Jawa pernah menyakitimu?
Kau berdalil, bilang Jawaku ini sarang kemusyrikan. Letaknya dimana? Kau tahu, karena kewibawaan Jawalah masyarakat berlapang hati menerima ajaran Islam yang mereka, para ulama syiarkan. Aku sempatkan kali ini untuk membiarkan hatiku tercabik-cabik terluka dan mendiamkan saja mataku membengkak karena segelintir air mata. Ingatkah Kau, bagaimana seorang wali Allah yang betapa gigihnya menyelip-nyelipkan sebuah ajaran untuk memberikan pemahaman hidup yang sesungguhnya bagi masyarakat Jawa kala itu; agar pedoman hidupnya sesuai dengan Ajaran Al-Qur'an dan Sunnatullah. Kau Bohong! Gamelan, wayang tidak pernah menyakitimu.
Apa Jawa pernah mencelamu? Apa Jawa mengajarkan pada anak-anakmu untuk membuang secuil nasi dalam kresek hitam lalu melemparkannya ke sungai, laut atau menumpuknya di dasar tanah. Tidak pernah. Jawa ini yang kau bilang, norak, udik, kuno, ndeso, kampungan atau apalah itu sesungguhnya tidak pernah mengajarkan anak-anakmu itu menyakiti alam. Kau Lupa, bagaimana nenek-nenek tua itu membungkus tempenya dengan sehelai daun pisang yang ramah. Kau Lupa! Kau biarkan gedung-gedung tinggi itu merampas masa depan cucu-cucu kami. Kau ini lupa atau memang durhaka. Apa kau cukup kenyang dengan sebungkus roti saja?! Tidak. Kau butuh nasi, Pak. Lalu kenapa kau membiarkan lahan sawah kami tergerus oleh otak-otak licik yang memperebutkannya.
Dulu. Bukankah kita pabrik gula terbesar di dunia? Dulu, bukankah kita eksportir beras terbesar se-dunia? Dulu, bukankah kita negara yang kaya?
Jawa tidak pernah miskin, andaipun tidak Kau jajah, Pak. Kau licik. Mempermainkan hati-hati lembut, pemikir-pemikir yang sederhana, jiwa-jiwa yang penuh kesantunan. Mereka tidak pernah berfikir untuk bersaing, berebut atau menikam saudaranya, tapi Kau tiba-tiba datang membawa doktrin pembunuh itu, menghancurkan Jawaku yang sungguh penyayang.
Lalu, aku harus bagaimana, ketika nanti aku berdiri di atas podium sekelas dunia, apa yang ingin aku banggakan dari negaraku, sementara negaraku saja mengusirku dari tanahku sendiri. Aku malu, malu, sangat malu. Kenapa mereka yang selalu berbicara How, What, Why lebih menghormatiku sebagai seorang jawa daripada negaraku sendiri. Lalu Bagaimana dengan Bhinneka Tunggal Ika-ku yang sangat aku bangga untuk menggaungkannya di atas podium itu.
"Jawaku ditundhung minggat ana ing lemahku dhewe"
0 komentar:
Posting Komentar