Kita terlanjur sibuk dengan suatu
hal yang tidak penting. Banyak hal yang hanya membuang waktu dan mengabaikan
daya otak kita. Semua itu karena kita terlalu sabar dengan kelambanan dan
penyiksaan batin yang menahun. Sering salah mengartikan bahwa ini adalah zona
aman, padahal sesungguhnya ini adalah duplikat baru dari penjajahan. Mau atau
tidak, inilah generasi yang kita hadapi. Generasi Z yang sudah cukup akrab dan
berbaur damai dengan persoalan-persoalan yang complicated. Pernah dulu sebuah ungkapan mampir di telinga, “kita
ini seperti duyung, modern masih ketinggalan, tapi untuk disebut njawani sudah tidak mampu lagi mengindahkan budaya timur kita”. Ya, polemik sebuah kata mutiara yang sempat
terpajang di dinding kelas waktu dulu, “ambillah ketegasan untuk satu
keputusan”. Cukup sulit memang, tapi untuk sebuah perubahan why not *dahi agak naik? Dan lagi tidak
jarang mendengar senjata ampuh ini: kalau bukan diri kita yang memulai lantas
siapa? Waow, sindiran yang bernada motivasi bisa dibilang menyulut bara
semangat. (yeha, I think it’s great)
Mengajak hati untuk mulai berani
mengambil sikap, meskipun banyak sekali tantangan yang harus dijinakkan
beberapa saat. Bukan persoalan memilih sikap idealis-realistis ataupun kritis,
tapi bisa menempatkan otak di tengah masyarakat kita, 10 jempol kiranya cukup
fantastis. Baru saja, mendapat inspirasi lagi: pendidikan macam apa yang kalian
impikan? Aku tidak bangga, kalau cucuku hanya cerdas di otak, tapi tidak cerdas
di hati (ngutip dari simbah di film serdadu kumbang).
Masalah-masalah yang kita hadapi
sekarang, tidak jauh lebih kompleks seperti masalah kita di usia 6 tahun,
bedanya hanya satu, ranking. Ya, ranking. Kita sedang bersama-sama mengalahkan
diri kita sendiri untuk menuju proses penyesuaian “tingkatan”. Bukan hal yang
salah, ketika ada pepatah yang mengatakan, musuh terbesar menuju kesuksesan
hidup adalah diri kita sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar