Langsung ke konten utama

Duyung


Kita terlanjur sibuk dengan suatu hal yang tidak penting. Banyak hal yang hanya membuang waktu dan mengabaikan daya otak kita. Semua itu karena kita terlalu sabar dengan kelambanan dan penyiksaan batin yang menahun. Sering salah mengartikan bahwa ini adalah zona aman, padahal sesungguhnya ini adalah duplikat baru dari penjajahan. Mau atau tidak, inilah generasi yang kita hadapi. Generasi Z yang sudah cukup akrab dan berbaur damai dengan persoalan-persoalan yang complicated. Pernah dulu sebuah ungkapan mampir di telinga, “kita ini seperti duyung, modern masih ketinggalan, tapi untuk disebut njawani sudah tidak mampu lagi mengindahkan budaya timur kita”. Ya, polemik sebuah kata mutiara yang sempat terpajang di dinding kelas waktu dulu, “ambillah ketegasan untuk satu keputusan”. Cukup sulit memang, tapi untuk sebuah perubahan why not *dahi agak naik? Dan lagi tidak jarang mendengar senjata ampuh ini: kalau bukan diri kita yang memulai lantas siapa? Waow, sindiran yang bernada motivasi bisa dibilang menyulut bara semangat. (yeha, I think it’s great)

Mengajak hati untuk mulai berani mengambil sikap, meskipun banyak sekali tantangan yang harus dijinakkan beberapa saat. Bukan persoalan memilih sikap idealis-realistis ataupun kritis, tapi bisa menempatkan otak di tengah masyarakat kita, 10 jempol kiranya cukup fantastis. Baru saja, mendapat inspirasi lagi: pendidikan macam apa yang kalian impikan? Aku tidak bangga, kalau cucuku hanya cerdas di otak, tapi tidak cerdas di hati (ngutip dari simbah di film serdadu kumbang).

Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang, tidak jauh lebih kompleks seperti masalah kita di usia 6 tahun, bedanya hanya satu, ranking. Ya, ranking. Kita sedang bersama-sama mengalahkan diri kita sendiri untuk menuju proses penyesuaian “tingkatan”. Bukan hal yang salah, ketika ada pepatah yang mengatakan, musuh terbesar menuju kesuksesan hidup adalah diri kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...