Belakangan ini, mengungkit-ungkit hubungan posisi duduk dengan prestasi anak di sekolah, entah kenapa cukup menggoda dan menyita perhatian saya. Mengamati dan menelisik keseharian mereka bersama teman sebangkunya di sekolah. Ada kecenderungan mereka duduk di bangku yang sama dengan orang yang sama dan hampir di semua kelas begitu, meskipun ada satu atau dua yang tidak begitu. Mungkin ini suatu kondisi yang biasa dianggap lumrah dalam keseharian kita, karena memang manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kenyamanan. Jika dia sudah mendapatkan rasa nyaman, maka akan terasa aneh ketika ia menghadapi situasi dan keadaan yang berbeda. Saya menyebut kondisi seperti inilah yang dinamai culture shock. Saya pun pernah mengalami itu. Ketika kita sudah nyaman dengan seseorang tetapi waktu berlalu, sesuatu terjadi dan keadaan berubah, pasti ada rasa tidak terima dengan perubahan itu. Saya rasa itu hal yang manusiawi, selama kita masih bisa kembali ke alur yang semestinya. Life must go on!
Suatu ketika saya mencoba mengubah pola duduk mereka yang biasanya di belakang, saya minta untuk maju ke depan. Ada yang berbeda. Antusias dan perhatian mereka tidak sekosong seperti pada saat mereka duduk di belakang, bahkan pola tingkah mereka bisa terkontrol dengan lebih baik, karena biasanya mereka adalah komplotan trouble maker di kelas. Salah satu alasan saya melakukan hal itu adalah untuk mengkondisikan kelas agar situasi belajar lebih mendingan, mengingat karakteristik anak-anak era milenium yang aktifnya luar biasa.
Pekan lalu saya mengadakan uji kompetensi aksara Jawa. Pada saat itu saya memilih tipe ulangan open book, saya tahu pasti bahwa mereka tidak hafal aksara Jawa karena sebelumnya ada kegiatan belajar untuk mendeteksi itu. Di tahun sebelumnya, saya tidak begitu mempermasalahkan kalau mereka tidak perlu belajar mendalam tentang aksara Jawa, karena konsentrasi mereka sudah jelas. Mengingat bahwa latar belakang mereka adalah anak SMK dan saya memaklumi, jika mereka tidak begitu tertarik dengan hal semacam itu. Tetapi, di tahun ini saya merasa memiliki tanggungjawab untuk andil dalam melestarikan budaya Jawa. Saya memutar otak bagaimana supaya anak-anak ini akrab dengan aksara Jawa. Saya jelaskan dari awal; dongeng Aji Saka, Aksara Nglegena, Sandhangan, Pasangan, Aksara Murda, Aksara Rekan dan Aksara Swara. Saya mencoba menyampaikan sejauh apa yang saya ketahui. Dan pekan lalu adalah puncaknya, menguji apakah mereka paham apa yang saya katakan. Ada kekhawatiran dalam diri saya bahwa mereka hanya akan melakukan kesia-siaan dengan mengerjakan seingatnya, karena nyatanya mereka tidak hafal aksara-aksara itu. Kekhawatiran itu disempurnakan oleh skandal percontekkan selama ulangan dan saya paling membenci itu. Maka saya memutuskan untuk melakukan ulangan open book, meskipun ada beberapa kelas yang menghendaki close book.
Saya cukup puas dengan proses ulangan yang mereka ikuti, setidaknya saya tidak menemukan anak yang berbisik atau bertanya kepada temannya, karena mata saya memastikan itu. Saya lebih menyukai jalannya ulangan daripada nilai yang mereka dapat, meskipun pasti akan jauh lebih menyenangkan jika keduanya sama-sama memuaskan. Tentang hasil? Selalu ada pemakluman untuk itu. Paling tidak, ketika mereka mengerjakan sendiri cukup bagi saya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka. Dan hari itu juga saya melawan, posisi tidak menentukan apa-apa pada saat ulangan. Tetapi selama proses, itu sangat menentukan. Ya, karena manusia butuh kenyamanan dan kenyamanan itulah yang menjadi jembatan proses menuju hasil.
Komentar
Posting Komentar