Langsung ke konten utama

Jadilah Obyektif

Adanya hak memilih, bukan berarti kita boleh berlaku tidak adil dalam memberikan informasi atau pun pemberitaan sejenisnya. Coba kita renungkan, ketika seseorang sudah memiliki tendensi terhadap sesuatu, maka hal yang akan dilakukan adalah mengupayakan berbagai tindakan untuk mengunggulkan tendensinya. Dengan kata lain, upaya itu adalah untuk pembelaan sekaligus menyelamatkan tendensi tersebut dari stigma negatif yang terlanjur berkembang di masyarakat. Sadar atau tidak, seringkali kita memilih tidak peduli terhadap dampak dari apa yang kita lakukan, mungkin saja akibat dari dukungan dan motivasi yang kita berikan justru menimbulkan gap (jurang pemisah) antara idola yang kita usung dengan kawan mainnya (yang mungkin kita juga mengenalnya) . Ditambah lagi, dukungan itu disampaikan secara subjektif, artinya kemungkinan untuk mendukung idola lain sangatlah tidak mungkin, sebab kita sudah terlanjur menghibahkan diri untuk condong ke salah satu idola. Hal ini akan berdampak buruk pasca pemilihan itu selesai, karena walaupun sudah ditetapkan yang terpilih misalnya X, maka simpatisan kubu Y yang kalah tetap akan menjadi lawannya. Setiap kali X tersandung masalah ketika menjalankan project-nya, maka simpatisan kubu Y akan terus menerus menyerang bahkan menjatuhkan, dan ini bukan pendidikan politik yang baik. Seharusnya, ketika pemilihan itu sudah selesai maka kedua kubu harus saling mendukung siapapun yang terpilih, tetapi sayangnya harapan masih belum mau berdamai dengan kenyataan. Lihatlah negri kita!

Ketika kita merasa yakin dengan pilihan kita, seringkali kita bangga untuk mendeklarasikannya, mungkin dengan harapan bisa menarik massa yang lebih banyak agar sama-sama mendukung pilihan kita. Setelah melakukan deklarasi, kita akan intens berkoar-koar tentang semua sisi positif atau kelebihan dari pilihan kita, dan sangat kecil kemungkinan kita akan menampilkan sisi kekurangannya. Mengingat tujuan utama kita adalah menampilkan idola kita tanpa cacat dan bahkan mungkin tanpa dosa, sehingga goal-nya akan banyak simpatisan yang mendukung pilihan kita, maka inilah yang disebut dengan istilah kampanye. Beberapa waktu terakhir ini, sedang gencar dilakukan kampanye baik itu pemilihan wakil mahasiswa maupun pilkada di beranda facebook. Ada yang menarik, bahwa pesta demokrasi ini masih disambut meriah oleh penggemarnya. Terbukti dengan adanya sekelompok orang yang mendeklarasikan dirinya memilih salah satu idola tertentu. Dan konsep deklarasinya masih tetap sama, persis seperti apa yang sudah dijelaskan di atas. 

Menyoroti salah satu asas dari pemilihan umum yang dulu (?) sempat diterapkan di negara kita: LUBER JURDIL (Langsung, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil), asas Rahasia; bahwa memang sebaiknya hanya cukup kita yang tahu siapa yang menjadi pilihan kita, persoalan orang lain mau memilih apa, itu urusan mereka. Asas ini mengajarkan tentang bagaimana kita menjaga perasaan sesama agar tidak terlukai, barangkali ada yang tidak sejalan dengan kita. Perbedaan ideologi, prinsip, visi dan misi adalah hal yang biasa, tinggal bagaimana kita memilih payung yang sama untuk saling meneduhkan. 

Tidak ada hak bagi kita mempengaruhi bahkan memaksa orang lain untuk ikut serta memilih idola kita. Kewajiban kita terhadap sesama hanyalah mengajak teman-teman yang lain agar turut berpartisipasi dalam pemilihan. Sayangnya, seringkali kita berpikir bahwa pilihan kitalah yang terbaik, seolah-olah kita merasa bahwa kitalah penyelamat yang diturunkan dari langit, tetapi bukankah ada Allah Yang Maha Mengetahui yang terlihat maupun yang tiada. Di jaman serba ada ini, air comberan bisa diubah menjadi air minum, hanya sebab tampilan. Begitu pun dengan aksi kampanye, simpatisan berbondong-bondong membuat amunisi agar idolanya semakin dikenal banyak orang. Disulaplah ia menjadi tokoh rupawan nan bijaksana, walaupun memang kenyataannya tidak jauh berbeda atau justru sebaliknya. Kita semua adalah pewarta, bertanggungjawab atas tersampaikannya berita yang benar kepada khalayak. Setidaknya, jadilah pewarta yang adil, menyampaikan berita yang tidak berat sebelah sebab di luar sana, banyak orang yang masih awam tentang apa yang kita sampaikan. Jangan sampai kecintaan dan kebencian terhadap suatu kaum, menjadikan kita berlaku tidak adil. Menjadi di tengah, karena dengan begitu kita akan bisa melihat mana yang kurang dan mana yang berlebihan. 


***
Selamat berpesta demokrasi, adik-adik kampus. Izinkan saya tidak memihak salah satu di antara kalian, karena saya percaya kalian semua adalah pemuda-pemuda yang hebat, tangguh, bercita-cita tinggi untuk Indonesia. Jadilah ksatria dalam bertanding dan damailah dalam kebersamaan. Maafkan kakak-kakakmu yang telah meninggalkan benih-benih ketidakdamaian di persahabatan kalian. Hari ini bebaslah, belajarlah dan berkawanlah! 

Tertanda : dari kakakmu yang mencintai perbedaan 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...