Saat aku ingin menangis, izinkan aku untuk memeluk bayanganku sendiri.
Berkali-kali menegaskan pada diri sendiri: Allah cukup bagiku. Entahlah, memang sedang ingin kembali pada masa yang dikehendaki.
Hari ini memutuskan untuk nggak belajar bareng sama jyestha, belum sempat juga beliin anak itu coklat. Memberinya PR untuk membuatkan puisi. Ya, begitulah, ada 3 amanah organisasi kampus yang membuatku sempat bolak-balik, meskipun hanya 2 amanah yang terjamah. satunya? ilang. Sesuatu yang harus memaksa otak untuk mengingat, mencatat dan merencanakan. Kadang berfikir, Allah sedang bercanda padaku. Anak sekecil ini harus berhadapan dengan amanah yang sebesar ini. Bagiku ini terlalu baik Ya Allah untukku. Merasa tidak pantas dan sejenis pengutaraan maksud yang melemahkan. Tentang air mata yang kering 3 tahun lalu. Ketika teman-teman seusiaku memilih lebih dulu, aku hanya terdiam. Terlalu lama mempertimbangkan dan akhirnya hanya terpasung di balik jeruji keminderan yang menyakitkan.
Aku ini apa dan siapa sebenarnya aku? Bukankah aku remaja dewasa tanggung yang masih mengemis ribuan kepada orang tuaku? Aku malu! Di saat sebagian temanku yang lain, bisa membelikan ini itu yang bisa membuat cerah senyum orangtuanya, sedang aku bagaimana kabarnya? Bahkan hanya untuk bersedekah 100 rupiah saja, aku belum bisa. Aku ini apa?
Sedih ini tak ingin berkurang. Aku ingin terus seperti ini saja, jika begini membuatku lebih dekat dengan-Mu.
Mengingat ayah?
Ingin memeluk ibuk?
Bukankah ini adalah solusi cengeng yang harusnya ku hindari, jika aku sedang dalam keadaan tertekan.
Berkali-kali bukankah harusnya aku sudah hafal dengan keadaan seperti ini. Bukan siapa-siapa yang salah, hanya satu yang harusnya diperbaiki dan dibingkai tidak hanya sebatas permak, sebut dia IMAN YANG LEMAH.
MUHASABAH
0 komentar:
Posting Komentar