Langsung ke konten utama

Karena Allah

Saat aku ingin menangis, izinkan aku untuk memeluk bayanganku sendiri. 

Berkali-kali menegaskan pada diri sendiri: Allah cukup bagiku. Entahlah, memang sedang ingin kembali pada masa yang dikehendaki. 

Hari ini memutuskan untuk nggak belajar bareng sama jyestha, belum sempat juga beliin anak itu coklat. Memberinya PR untuk membuatkan puisi. Ya, begitulah, ada 3 amanah organisasi kampus yang membuatku sempat bolak-balik, meskipun hanya 2 amanah yang terjamah. satunya? ilang. Sesuatu yang harus memaksa otak untuk mengingat, mencatat dan merencanakan. Kadang berfikir, Allah sedang bercanda padaku. Anak sekecil ini harus berhadapan dengan amanah yang sebesar ini. Bagiku ini terlalu baik Ya Allah untukku. Merasa tidak pantas dan sejenis pengutaraan maksud yang melemahkan. Tentang air mata yang kering 3 tahun lalu. Ketika teman-teman seusiaku memilih lebih dulu, aku hanya terdiam. Terlalu lama mempertimbangkan dan akhirnya hanya terpasung di balik jeruji keminderan yang menyakitkan. 

Aku ini apa dan siapa sebenarnya aku? Bukankah aku remaja dewasa tanggung yang masih mengemis ribuan  kepada orang tuaku? Aku malu! Di saat sebagian temanku yang lain, bisa membelikan ini itu yang bisa membuat cerah senyum orangtuanya, sedang aku bagaimana kabarnya? Bahkan hanya untuk bersedekah 100 rupiah saja, aku belum bisa. Aku ini apa? 

Sedih ini tak ingin berkurang. Aku ingin terus seperti ini saja, jika begini membuatku lebih dekat dengan-Mu.  

Mengingat ayah? 
Ingin memeluk ibuk?
Bukankah ini adalah solusi cengeng yang harusnya ku hindari, jika aku sedang dalam keadaan tertekan.

Berkali-kali bukankah harusnya aku sudah hafal dengan keadaan seperti ini. Bukan siapa-siapa yang salah, hanya satu yang harusnya diperbaiki dan dibingkai tidak hanya sebatas permak, sebut dia IMAN YANG LEMAH. 








MUHASABAH 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...