Apa yang dilihat mata, kadang memang
belum tentu yang sebenarnya,
Maka akal sehat ada,
untuk menyangkalnya.
Beruntung, ada ia yang membantu
hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.
Sayangnya,
kisah, akhirnya menagih waktu,
Pelan-pelan banyak cerita menyatu,
Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku.
Mungkin tersudut & terpojokkan.
menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.
Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.
Baginya, setiap pesan adalah ancaman.
Sisi lain,
Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,
nasehat tak sanggup menyentuh dada.
ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.
Tak lagi mengganggu yang dikasihi,
dengan tajamnya kata.
Nampak tak lagi menyakitinya,
tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?
Beralasan ia juga punya luka,
yang menuntut disembuhkan.
bukan tentang cela yang hendak diumumkan,
melainkan hati yang merintih ingin dipulihkan.
atas kecewa yang lama ingin disampaikan.
Bisik-bisik menjadi gemar di banyak pintu,
Mata telinga saling berbagi,
Tentang banyak hal terjadi di hari kemarin,
Banyak mata menuju,
hanya ingin menjadi pengingat,
Salah langkah yang membelokkan arah niat,
Tapi, kepala memilih
menunduk meredam malu.
Tak apa, biar mata batinnya
kembali beradaptasi,
menuju arah yang ia kenali.
Jeda jarak memilih antara,
Harap selamat menjadi doa,
kembali pada kasih sejatinya,
dengan sepenuh jiwa & hatinya.
Komentar
Posting Komentar