Langsung ke konten utama

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang 

belum tentu yang sebenarnya, 

Maka akal sehat ada, 

untuk menyangkalnya. 

Beruntung, ada ia yang membantu 

hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.

 

Sayangnya,

kisah, akhirnya menagih waktu, 

Pelan-pelan banyak cerita menyatu, 

Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku.

Mungkin tersudut & terpojokkan.

menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan. 

Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman. 

Baginya, setiap pesan adalah ancaman. 


Sisi lain, 

Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka, 

nasehat tak sanggup menyentuh dada. 

ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda. 

Tak lagi mengganggu yang dikasihi, 

dengan tajamnya kata. 

Nampak tak lagi menyakitinya, 

tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya? 

Beralasan ia juga punya luka, 

yang menuntut disembuhkan. 

bukan tentang cela yang hendak diumumkan, 

melainkan hati yang merintih ingin dipulihkan.

atas kecewa yang lama ingin disampaikan.


Bisik-bisik menjadi gemar di banyak pintu,

Mata telinga saling berbagi,

Tentang banyak hal terjadi di hari kemarin,

Banyak mata menuju, 

hanya ingin menjadi pengingat, 

Salah langkah yang membelokkan arah niat,

Tapi, kepala memilih 

menunduk meredam malu. 

Tak apa, biar mata batinnya 

kembali beradaptasi,

menuju arah yang ia kenali. 


Jeda jarak memilih antara, 

Harap selamat menjadi doa, 

kembali pada kasih sejatinya, 

dengan sepenuh jiwa & hatinya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...