"Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang menjadi kepeduliannya"
(John Gardner)
Kepada hati yang merindukan kedamaian, maka menulislah!
Ada pepatah Jawa bagian barat yang mengatakan bahwa : "the palest ink is better than the best memory"
Baik, mari berselancar mengudari simpul apa yang akan saya tulis.
13rd of February, 2014 was the second time for me to presented about responsibility reporting to the public, especially to others people in Javanese Programme. I did not really know how to make sure the others about what I do as long as I was to be a driving-head in PENA division. It was so awkward moment, right?!
You know what, I had to speak krama Javanese and you can imagine how is so hard for me to speak well. Yes, I was so nerveous! But I give you my word if I efforted as much as I can.
In the middle of my presentation, I gave up and said "I'm really sorry can't speak krama Javanese fluently". The audiences looked at me like "oh poor you!"
Finnally, I continued my explanation about the report with Indonesian language. It's so miserable, right?! You studied Javanese, but you can not speak with it.
Kira-kira begitu alur cerita ini bermula. Maaf tulisan bahasa Inggris saya berantakan, setidaknya ini adalah usaha saya untuk belajar bahasa Inggris (lagi). Yang sebenarnya, juga bisa dibilang ini adalah ancang-ancang / pasang kuda-kuda untuk tes TOEFL besok hari sabtu.
Menurut saya, tetap bernama cacat jika saya yang seorang pendalam ilmu bahasa Jawa, tidak bisa berbicara Bahasa Jawa krama standar halus. Bagi saya, ini adalah aib! Tapi, ya sudahlah!
Beberapa hari yang lalu saya mendapat keluh kesah dari sahabat kelas saya, dia berkata : " kenapa ya win, aku masih susah banget menggunakan kata 'sampeyan' dibanding kata 'kowe'. Rasanya itu susah banget!"
Sebenarnya, kalau saya mau jujur, saya pun merasakan hal yang sama : susah banget!
Baik, mari berselancar mengudari simpul apa yang akan saya tulis.
13rd of February, 2014 was the second time for me to presented about responsibility reporting to the public, especially to others people in Javanese Programme. I did not really know how to make sure the others about what I do as long as I was to be a driving-head in PENA division. It was so awkward moment, right?!
You know what, I had to speak krama Javanese and you can imagine how is so hard for me to speak well. Yes, I was so nerveous! But I give you my word if I efforted as much as I can.
In the middle of my presentation, I gave up and said "I'm really sorry can't speak krama Javanese fluently". The audiences looked at me like "oh poor you!"
Finnally, I continued my explanation about the report with Indonesian language. It's so miserable, right?! You studied Javanese, but you can not speak with it.
Kira-kira begitu alur cerita ini bermula. Maaf tulisan bahasa Inggris saya berantakan, setidaknya ini adalah usaha saya untuk belajar bahasa Inggris (lagi). Yang sebenarnya, juga bisa dibilang ini adalah ancang-ancang / pasang kuda-kuda untuk tes TOEFL besok hari sabtu.
Menurut saya, tetap bernama cacat jika saya yang seorang pendalam ilmu bahasa Jawa, tidak bisa berbicara Bahasa Jawa krama standar halus. Bagi saya, ini adalah aib! Tapi, ya sudahlah!
Beberapa hari yang lalu saya mendapat keluh kesah dari sahabat kelas saya, dia berkata : " kenapa ya win, aku masih susah banget menggunakan kata 'sampeyan' dibanding kata 'kowe'. Rasanya itu susah banget!"
Sebenarnya, kalau saya mau jujur, saya pun merasakan hal yang sama : susah banget!
Mengajak hati untuk mengurai apa yang juga saya rasakan, lalu dengan hati-hati saya mencoba menjabarkannya perlahan : "saya pun begitu! mungkin karena tingkat kesombongan kita sangat tinggi, sehingga untuk bersikap rendah hati kepada orang lain, kita merasa sangat berat, bahkan hanya untuk mengindahkan sapaan 'kowe' menjadi 'sampeyan' sekalipun "
Di lorong C14 FBS, tepatnya perjalanan kami menyambangi mata kuliah sanggar sastra, sebelum itu setidaknya kami sempat bersepakat bahwa : kowe adalah anak lutung dan apa pantas kita melutung-lutung kan anak orang?
Ada rasa sakit, ketika mendapati seorang anak yang harusnya memberikan hormat kepada yang lebih tua, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Menengok keseharian saya di rumah, bahkan betapa susahnya untuk membiasakan diri berbuat demikian. Anehnya, yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka (kaum tua) berterima saja dengan apa yang kami lakukan. Ironis?!
Saya berfikir bahwa semakin jarak itu jauh dan intensitas bertemu yang jarang, maka rasa pekewuh untuk menjadi lebih penyantun, sangat terfasilitasi.
Contohnya, ini: ketika di rumah, Kanjeng rama nimbali putrinipun (kula) : " ndhuk, tumbaske aqua botol neng kulon kana. gek cepet, gelak arep digawa neng ngalas".
Di lorong C14 FBS, tepatnya perjalanan kami menyambangi mata kuliah sanggar sastra, sebelum itu setidaknya kami sempat bersepakat bahwa : kowe adalah anak lutung dan apa pantas kita melutung-lutung kan anak orang?
Ada rasa sakit, ketika mendapati seorang anak yang harusnya memberikan hormat kepada yang lebih tua, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Menengok keseharian saya di rumah, bahkan betapa susahnya untuk membiasakan diri berbuat demikian. Anehnya, yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka (kaum tua) berterima saja dengan apa yang kami lakukan. Ironis?!
Saya berfikir bahwa semakin jarak itu jauh dan intensitas bertemu yang jarang, maka rasa pekewuh untuk menjadi lebih penyantun, sangat terfasilitasi.
Contohnya, ini: ketika di rumah, Kanjeng rama nimbali putrinipun (kula) : " ndhuk, tumbaske aqua botol neng kulon kana. gek cepet, gelak arep digawa neng ngalas".
Putri (kula) : nggih pak, mangkih riyin. (itu pun menjawabnya dari kejauhan sambil teriak pastinya, sementara menurut etika, harusnya mendekat dan lembutkanlah suaramu!)
Ketika di perantauan, ingkang putri miwiti atur : " bapak, lare sehat, arta telas"
Ketika di perantauan, ingkang putri miwiti atur : " bapak, lare sehat, arta telas"
Setidaknya, saya memang harus bersyukur, dipertemukan dengan dosen-dosen yang luar biasa. Mengajarkan banyak hal dan sangat mencintai ilmu.
Ajining raga, saka busana,
Ajining awak, saka tumindak,
Ajining dhiri, saka ing lathi.
Saya tidak bisa bercerita banyak hal tentang ni'mat ilmu yang luar biasa ini, maka benarlah firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 109 : "Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."
Ajining raga, saka busana,
Ajining awak, saka tumindak,
Ajining dhiri, saka ing lathi.
Saya tidak bisa bercerita banyak hal tentang ni'mat ilmu yang luar biasa ini, maka benarlah firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 109 : "Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."

0 komentar:
Posting Komentar