GERBANG RASA
Tulisan ini
tidak lahir dari satu peristiwa besar,
melainkan dari hal-hal kecil
yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.
Ia tumbuh
dari jarak yang mula-mula terasa wajar,
dari kebersamaan yang disebut aman,
dari diam yang dianggap cukup
untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh.
Di
halaman-halaman ini,
tidak ada tuduhan yang lantang.
Yang ada
hanyalah catatan seorang saksi—
tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar,
tentang kepedulian yang menjadi beban,
tentang kelelahan menahan sesuatu
yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.
Ini bukan
kisah tentang benar dan salah
yang hitam-putih.
Ini adalah kisah tentang “hampir”,
tentang niat yang tidak selalu jahat
namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang.
Tentang kata-kata baik
yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani,
bukan menghentikan langkah.
Tulisan ini
juga bukan tentang mereka.
Ini tentang seseorang
yang belajar melihat tanpa menyangkal,
belajar peduli tanpa kehilangan diri,
dan akhirnya memilih jarak
bukan sebagai hukuman,
melainkan sebagai cara bertahan.
Jika ada yang
terasa akrab,
barangkali karena kita semua
pernah berdiri di titik yang sama:
melihat sesuatu yang tidak sepenuhnya salah,
namun juga tidak lagi benar.
Puisi-puisi
ini ditulis
bukan untuk membuka luka orang lain,
melainkan untuk menyembuhkan luka sendiri—
pelan, tanpa suara,
agar tidak ada lagi yang runtuh
sebelum benar-benar bernama.
SEBELUM BERNAMA
Aku
melihat, tapi memilih kata yang lunak
agar kenyataan tidak runtuh seketika.
Dua
bayang berjalan beriring,
terlalu sering untuk disebut kebetulan,
terlalu rapi untuk disebut salah.
Aku
menyebutnya jarak aman,
latah menganggapnya kakak beradik,
sebab ada rumah yang kukenal alamatnya,
ada anak-anak yang kupanggil namanya
tanpa pernah salah.
Pesan-pesan
datang, seperti hujan tipis—
tidak deras, tapi cukup membuat tanah
lupa cara kering.
Ada
tawa yang tinggal
setengah detik lebih lama dari yang seharusnya,
dan diam yang terasa
lebih dekat daripada sentuhan.
Aku
berpaling, namun bayangan itu menetap:
gerak yang nyaris melampaui niat, bukan perbuatan,
hanya keberanian untuk membayangkan.
Aku
tidak menuduh. Aku hanya mencatat
bahwa batas itu rapuh, dan seringkali
retak tidak berbunyi saat lahir.
Aku
memilih diam, sebab menjaga
kadang berarti menyangkal apa yang terlihat.
Semoga
ini berhenti, sebelum benar-benar bernama.
Sebelum sesuatu yang “hampir”
Aku
terus berharap, sebelum benar-benar melukai.
Sebelum anak-anak belajar bahwa retak bisa lahir
dari hal-hal yang awalnya disebut “tidak apa-apa”.
JEDA
BATAS
Aku
melihat lagi.
Kali ini tanpa menyangkal, tanpa
kata pengaman untuk melunakkan kenyataan.
Aku
menegur dengan suara yang tak lagi berdoa.
Lugas. Tajam.
Karena ada saatnya, kasih harus berhenti berbisik.
Kau
menunduk, penyesalan tampak rapi di wajahmu.
Aku hampir percaya, bahwa cukup sampai di situ.
Namun
esok hari, kalian berdiri lagi
di tempat yang tak lagi sembunyi.
Terang-terangan.
Seolah mataku, seolah kata-kataku,
hanya angin lalu.
Padahal aku sudah bilang: banyak mata melihat.
Bukan hanya mataku—mata yang lebih jujur dari kita semua.
Tapi
rupanya, takut bukanlah bahasa yang kalian pahami.
Batas hanya terdengar bagi mereka yang masih ingin menjaganya.
Aku
marah. Bukan karena dikhianati,
melainkan karena kepedulianku, diperlakukan seperti berlebihan.
Aku
kesal pada diriku sendiri, yang berharap kata-kata
bisa menghentikan sesuatu yang sudah memilih jalannya.
Sejak
hari itu, aku tahu:
ada orang yang tidak jatuh karena tidak tahu,
melainkan karena tidak ingin berhenti melangkah.
Dan
amarah ini—
bukan ingin menghukum,
hanya lelah menjadi satu-satunya
yang masih takut pada akibat.
RUNTUH
KAMUFLASE
Kalian
menamainya komitmen.
Aku menyebutnya kamuflase yang terlalu percaya diri.
Saling
jaga, katamu—
padahal yang dijaga hanyalah keberanian
untuk tetap dekat tanpa terlihat salah.
Jika
niatnya lurus,
mengapa langkahnya tetap ke sana?
Jika sungguh menjaga,
mengapa berhenti, tidak pernah jadi pilihan?
Akal
sehatku berdiri tegak
dan menolak tunduk.
Ia tahu: komitmen tidak lahir
setelah batas diinjak,
tidak disepakati, sambil tetap mengulang.
Kalian
muncul terang-terangan
seolah cahaya bisa menghapus niat.
Padahal terang hanya membuat segalanya
tak lagi bisa disangkal.
Ini
bukan kedewasaan. Ini keberanian yang kehilangan rem.
Ini rasa bersalah yang belajar berdiplomasi.
Aku
marah,
karena kata baik
dipakai untuk menipu diri sendiri.
Karena tanggung jawab
dipelintir agar terasa ringan.
Karena kalian tahu risikonya—
dan tetap berjalan.
Dan
aku,
aku muak menjadi saksi yang diajak percaya
pada kebohongan yang dibungkus rapi.
Sebut
saja apa pun namanya.
Tapi jangan minta akal sehat
ikut menyetujui persembunyian
yang terlalu terang.
TOPENG
LELAH MENAHAN
Setelah pesan
itu dikirim,
udara berubah.
Langkah-langkah jadi pelan,
suara menunduk,
malu menggantung
di antara jarak yang dibuat-buat.
Ia sering
tidak ada
ketika yang lain datang.
Atau mungkin sebaliknya.
Aku tidak tahu—
dan memilih tidak tahu.
Ada hal-hal yang lebih aman
ditinggalkan dalam gelap.
Namun beban
ini, terlalu berat
untuk satu dada.
Ia berputar, menggerus,
meminta keluar tanpa izin.
Maka
kata-kata
kuberikan pada beberapa telinga
yang kupikir aman.
Tidak untuk menghakimi,
hanya agar aku tidak runtuh sendirian.
BENANG MASIH TERIKAT
Hari-hari
berjalan
dengan langkah yang lebih hati-hati.
Jarak kembali belajar menyebut dirinya batas.
Tak ada lagi
tawa yang terlalu dekat,
tak ada lagi waktu yang sengaja dipanjangkan.
Jika pun bertemu, ia segera pergi—
seolah kehadiran adalah sesuatu yang harus dihindari.
Semua ini
baru terjadi
setelah sunyi menjadi berbunyi.
Setelah banyak mata
belajar melihat hal yang sama.
Kadang
gelisah datang,
berbisik pelan:
bagaimana jika semua ini hanya berpindah tempat?
Namun aku mengusirnya,
bukan karena yakin, melainkan karena lelah.
Aku berkata
pada diriku:
ini bukan lagi tugasku.
Ada batas yang juga harus kujaga
untuk diriku sendiri.
Wajahnya
pucat berhari-hari.
Seperti seseorang yang kehilangan sesuatu—
entah rasa aman, entah keberanian,
entah hanya harga diri.
Entah itu
penyesalan yang sungguh,
atau hanya malu yang belum selesai.
Dan untuk
pertama kalinya,
aku membiarkan ketidaktahuan itu tinggal.
Tidak semua
pertanyaan harus dijawab.
Ada yang cukup diterima
sebagai jarak yang akhirnya
benar-benar ada.
SESAL
RETAKAN
Keesokan
harinya
kau menyapaku. Memelukku.
Dan kalimat itu jatuh dengan lembut
yang hampir membuatku lupa
rasa bersalahku sendiri: jangan begitu.
Kami
berdamai.
Setidaknya di permukaan.
Seperti dua orang yang sepakat
untuk berhenti mengungkit
agar hari bisa berjalan.
Namun
kemudian aku mengetahui
ada ruang kecil yang tidak lagi menyebut namaku.
Sejak kapan, aku tidak tahu.
Hanya tahu aku tidak diundang ke sana.
Aku
disisihkan dari layar kecil
yang menyimpan keseharianmu.
Ada bagian darimu
yang sengaja tidak boleh lagi kulihat.
Aku bertanya
dalam diam:
sebegitunya aku harus dijauhkan?
Sejak itu aku
tahu—
ada pelukan yang menyembuhkan sesaat,
dan ada kebenaran kecil
yang membuat retak
tinggal lebih lama.
Dan di
situlah aku menyadari:
kadang kita berbaikan,
tanpa benar-benar kembali.
CUKUP
Dan
di sepanjang itu,
aku
perlahan kehilangan ruang untuk bernapas.
Komentar
Posting Komentar