Langsung ke konten utama

Teman Setia


Engkau mengingatkanku untuk mencintai perdamaian,

Engkau mengutuk amarahku, sebab menurutmu aku sudah tidak lagi bisa mengendalikannya,

Engkau berkata kepadaku: “Apakah selama ini engkau menyembunyikan kebencian yang terlalu dalam itu, dariku?”

Engkau membantahku: “Kau bilang semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi kenapa agamamu melarangmu menjadikanku sebagai teman setiamu?”

Hari ini, izinkanlah aku untuk menyampaikannya kepadamu, bahwa memang ada perbedaan di antara kita. Perbedaan yang selamanya akan membuat kita tetap berbeda. Kita memang berteman dan saling menghormati keyakinan kita masing-masing. Kamu beribadah dengan cara agamamu dan aku beribadah dengan cara agamaku. Itulah aturannya, dan bukankah sudah sangat lama kita memahami ini?! Kita tidak pernah memperdebatkan masalah ini, karena kita paham batasan toleransi dalam beragama. Kita saling menghargai untuk sama-sama taat pada ajaran agama kita masing-masing. Berkali ku katakan kepadamu, bahwa dasar hukum dalam agamaku adalah Al-Qur’an dan Hadist. Apapun yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan Hadist, maka aku wajib untuk mempelajari dan menjalankannya.

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengatakan bahwa jangan mau dibohongi dengan Surat Al-Maidah ayat 51. Kau harus tahu, bahwa aku terluka dengan pernyataan itu. Al-Qur’an yang aku baca dan pelajari setiap hari, yang menjadi pedoman hidupku, disebut sebagai alat untuk berbohong. Bisakah kau membayangkan rasa sakitnya? Aku rasa kau tidak tahu rasa sakitnya seperti apa, sebab kau tidak merasakannya. Tetapi mungkin rasa sakitmu berbeda. Kau merasa bahwa agamaku menyimpan kebencian yang teramat dalam kepada agamamu karena aku tidak diizinkan menjadikanmu sebagai teman setiaku. Menjadikanmu sebagai teman setia saja tidak boleh, apalagi memilih dari golonganmu menjadi pemimpin bagi kami.

Yang harus kau tahu, Tuhanku tidak pernah mengajarkan kebencian, tetapi Dia hanya memerintahkan untuk tidak menjadikan dari golonganmu sebagai teman setia bagiku. Ada kisah-kisah terdahulu yang harus menjadi pelajaran bagi kami, dan itu adalah perintah dari Tuhanku, maka aku harus mematuhinya. Kau tahu, sekalipun aku punya keluarga, sahabat, kerabat dan bahkan kamu (yang ku sebut sebagai temanku) ketika aku merasa sangat terpuruk, tidak ada yang mampu setia mendamaikan hatiku, kecuali Al-Quran. Sebab kalian punya urusan masing-masing. Al-Quran adalah penyembuh ketika aku terpuruk. Al-Quran adalah petunjuk ketika aku tersesat dan merasa sendiri. Al-Quranku adalah pembeda antara yang haq dan yang batil. Al-Quran adalah perantaraku untuk berbicara kepada-Nya. Dan Al-Quran adalah sebenar-benar teman setiaku, bukan ayah ibuku, saudara-saudaraku, atau bahkan kamu! Dan sekarang, apakah keliru, jika aku merasa tersakiti sebab ada yang mengatakan Al-Quranku dipakai untuk berbohong?! Tidak pernah sekalipun Al-Quran membohongiku. Apa yang Dia katakan dalam Al-Quran adalah BENAR! Sungguh, Tuhanku tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

Ini bukanlah tentang kebencian, bukan tentang SARA. Ini adalah aturan akidah dalam agamaku, yang harus diperjuangkan. Kehormatan agamaku telah dihina, maka aku wajib untuk membelanya! Bahkan untuk tanah air pun, kita diajarkan untuk mengorbankan jiwa dan raga, darah! Apalagi untuk agama Tuhanku, Dzat yang telah menganugerahkan negeri yang indah ini? Tuhan yang aku sembah dengan apa yang kamu sembah, itulah yang menjadikan kita berbeda. Aku tidak memaksamu untuk menyembah Tuhanku, tetapi biarkan aku untuk taat kepada Tuhanku. Inilah batas toleransi di antara kita. Jika itu berkaitan dengan akidah, maka aku diperintahkan membuat batas pembeda di antara kita, hitam dan putih.

Yang harus kau tahu, bahwa aku bersama saudara-saudara seimanku tersakiti dengan perkataan seseorang yang menyebut bahwa Al-Quran digunakan untuk membohongi. Kami terluka oleh satu orang yang telah menghina Al-Quran dan apakah tidak boleh kami meminta untuk hukum ditegakkan bagi orang yang telah menistakan agama? Kau dan aku adalah saudara, sebab kita tinggal di tanah air yang sama. Kita tidak menghendaki perpecahan atau terusiknya persatuan. Kita memiliki dasar negara yang sama, Pancasila. Di sana tercantum 5 sila. Sila Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.

1. Ketuhanan : Apakah tidak boleh kami membela kehormatan agama Tuhan kami?

2.Kemanusiaan : Apakah kami tidak boleh sakit hati, ketika AlQuran (pedoman hidup kami) dianggap sebagai alat berbohong?

3. Persatuan : Apakah tidak boleh kami menginginkan persatuan dan kedamaian untuk negri ini yang sempat terusik hanya karena satu orang saja?

4. Kerakyatan: apakah tidak boleh kami sebagai rakyat meminta untuk didengar aspirasinya? 5. Keadilan : apakah tidak boleh kami menuntut pelaku penistaan agama diproses secara hukum yang jujur dan adil?

Kita memang berbeda. Tetapi, apakah engkau bukan saudaraku? Kita adalah saudara se-tanah air dan kita harus bersatu untuk menjaga keutuhan persatuan dan perdamaian negeri kita. Negeri ini dibangun dengan perjuangan dan pengorbanan nyawa, maka kita juga harus mempertahankannya dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Tidak ada yang bisa menggugatnya, sebab itulah aturan mainnya. Negeri ini adalah negara yang berdasarkan atas hukum. Ketika agama temanmu ini dinistakan oleh seseorang di negeri ini, maka apakah kami tidak boleh memberikan efek jera padanya sebab ini sudah sangat melampaui batas. Aku harap kita tetap menjadi pondasi, gerbong-gerbong pengawal masa depan di negeri ini. Kita memang berbeda, tetapi kita tetap bersama membangun negri yang dititipkan Tuhan kepada kita.

"Seperti bunga yang boleh berwarna berbeda dalam satu dahan, tetapi akan tetap terlihat indah "


Salam,
Dari aku yang menyayangimu sebagai saudaraku sesama makhluk.

Winwin Ada Ya
Yogyakarta, 11 November 2016 pukul 09.42 WIB


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...