Langsung ke konten utama

Postingan

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...

Daun Mati yang Terlihat Hijau

Dari sudut mana kau bisa menyebutnya daun hijau, sementara senyawa klorofilnya sudah mati. Ia tidak mengalami fotosintesis seperti yang kau kenal biasanya. Cairan kimia itu berhasil mempertahankan warna hijau daunnya, tapi sesungguhnya cairan jahat itulah yang mengambil nyawanya. tertanda: Daun Mati yang (menurutmu) terlihat hijau. Kenapa aku lebih sering ingin menyandarkan pusingnya kepalaku di pundakmu? Sementara, kau ini siapa? Bahkan, untuk sekedar menyebut namamu pun, bukankah aku ini tidak pernah pantas. Tidak ada dari kesalahanmu yang menghalangiku untuk mengantarkan rindu ini agar sampai ke hatimu. Apa kau mendengar rindu itu? Maka betapa sering berkali-kali aku memohon: Tuhan jangan timpakan aku cinta, sebelum aku memahami siapa tuannya cinta yang sebenarnya: "Engkau"setidaknya itu akan menjadi alasan, kenapa melepaskn simpul 2 tali itu menjadi lebih baik, daripada mengikatnya kencang, lalu putus. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maka itulah kenapa aku lebih s...

Kemuliaan di Balik Ketaatan

"Mikul dhuwur mendhem jero",  junjunglah tinggi, pendamlah yang dalam. Pepatah jawa yang sarat makna ini, jika dipahami dan dikaji lebih seksama akan mewakilkan do’a setiap orang tua kepada anak-anaknya. Harapan orang tua yang mendambakan putra-putrinya segera mentas dari sedih-dukanya hidup menuju pada kemuliaan hidup. Seperti itulah kiranya, garis besar do’a dan harapan dari setiap orang tua di muka bumi ini. Menuju pada harapan itu, tidak bisa membiarkannya hanya dengan tangan kosong saja, tanpa senjata, setidaknya kita butuh strategi. Ya, salah satunya adalah strategi bagaimana orang tua mendidik anak sampai dengan bagaimana mengikat hati si anak untuk tetap teguh pada keyakinannya kepada Allah SWT, itulah pointnya. Teringat pada sebuah peribahasa melayu: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga - tindak tanduk anak tidak jauh beda dengan perilaku orang tuanya. Yupss, peribahasa yang juga berkerabat dekat dengan konsep jawa: sapa nandur, mesthi ngundhuh. Co...

Karena Allah

Saat aku ingin menangis, izinkan aku untuk memeluk bayanganku sendiri.  Berkali-kali menegaskan pada diri sendiri: Allah cukup bagiku. Entahlah, memang sedang ingin kembali pada masa yang dikehendaki.  Hari ini memutuskan untuk nggak belajar bareng sama jyestha, belum sempat juga beliin anak itu coklat. Memberinya PR untuk membuatkan puisi. Ya, begitulah, ada 3 amanah organisasi kampus yang membuatku sempat bolak-balik, meskipun hanya 2 amanah yang terjamah. satunya? ilang. Sesuatu yang harus memaksa otak untuk mengingat, mencatat dan merencanakan. Kadang berfikir, Allah sedang bercanda padaku. Anak sekecil ini harus berhadapan dengan amanah yang sebesar ini. Bagiku ini terlalu baik Ya Allah untukku. Merasa tidak pantas dan sejenis pengutaraan maksud yang melemahkan. Tentang air mata yang kering 3 tahun lalu. Ketika teman-teman seusiaku memilih lebih dulu, aku hanya terdiam. Terlalu lama mempertimbangkan dan akhirnya hanya terpasung di balik jeruji keminderan yang me...

Jarum atau Duri? sama saja?

Banyak yang bilang, cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Emmm, bisa jadi memang benar begitu. Bukankah manusia biasa itu penuh pamrih? I think begitu lah.  Seperti telapak kaki yang tertusuk jarum atau duri. Semakin membiarkannya tertancap di dalam kulit karena takut mencabut, maka susah bagi kita untuk mengajaknya berjalan. Bahkan belum mulai menginjak tanah pun,  rasa sakitnya berkecamuk di dalam otak. Parahnya, jika luka itu dibiarkan tanpa ada keberanian kita untuk mencabutnya, kulit itu akan membusuk sia-sia.   Sebaliknya, jika kita memilih untuk mencabutnya. Benar, akan terasa sangat sakit di awal, tapi bukankah itu menjadi lebih baik? Meskipun, bakal sakit juga bila dipakai untuk berjalan. Hanya saja, kesempatan untuk sembuh dan pulih, mendapatkan kulit yang baru akan menjadi lebih cepat kan? Yakinlah, ini hanya jalan batuan terjal yang wajib dilewati untuk menaikkan peringkat.  CUKUP  ALLAH BAGIKU Memang harusnya begitu kan?...

Senyum yang (Sengaja) Terlupakan

Kadang saja atau memang sudah sering. Buku-buku berat itu telah menjadi beban punggung untuk mereka. Merenggut masa bermainnya dan mengabaikan hangat tawa yang semestinya menjadi simbol kemerdekaan mereka. Berkali-kali dan berulang-ulang selalu mengutip kalimat ini " Pak, Buk, jangan cabut anak-anak kita dari dunia bermainnya, karena nanti jika  ia besar, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" Elly Warisman.    Hari itu, sedikit mataku terbelalak tajam. Melihat anak-anak seusia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau gaulnya Play Group bermain-main dan tertawa bareng dengan teman-teman sepermainannya. Aku? Turut senang. Di lain itu, sebuah pemandangan menyipitkan mataku seketika; hey lihat di atas ayunan itu! Anak kecil sedang mendekorasi wajahnya dengan konsep murung. Ini berbeda. Aku mengangguk-angguk dan mengambil pose terbaiknya (menurut kamera seadaku) Tidak mengherankan jika akupun sama dengan anak itu. Kenapa memilih diam daripada menggotong ba...

Lalu Bagaimana dengan Bhinneka Tunggal Ika?

Jawaku terusir dari tanahnya sendiri. Miris, tapi beginilah yang terjadi. Aku, Kau, Dia, Mereka dan Kita hanya memilih diam kan? Cukup saja dengan mengumpat, mencibir bahkan sampai keluar air mata melihat palu itu diketokkan. Kita tidak melawan?  Aku ragu, apa kita memang benar-benar sudah merdeka, sementara untuk berbahasa dengan bahasa kita sendiri, dilarang? Unbelievable! Apa Jawa pernah menyakitimu?  Kau berdalil, bilang Jawaku ini sarang kemusyrikan. Letaknya dimana? Kau tahu, karena kewibawaan Jawalah masyarakat berlapang hati menerima ajaran Islam yang mereka, para ulama syiarkan. Aku sempatkan kali ini untuk membiarkan hatiku tercabik-cabik terluka dan mendiamkan saja mataku membengkak karena segelintir air mata. Ingatkah Kau, bagaimana seorang wali Allah yang betapa gigihnya menyelip-nyelipkan sebuah ajaran untuk memberikan pemahaman hidup yang sesungguhnya bagi masyarakat Jawa kala itu; agar pedoman hidupnya sesuai dengan Ajaran Al-Qur'an dan Sunnatullah. Kau ...