Dari sudut mana kau bisa menyebutnya daun hijau, sementara senyawa klorofilnya sudah mati. Ia tidak mengalami fotosintesis seperti yang kau kenal biasanya. Cairan kimia itu berhasil mempertahankan warna hijau daunnya, tapi sesungguhnya cairan jahat itulah yang mengambil nyawanya.
tertanda: Daun Mati yang (menurutmu) terlihat hijau.
Kenapa aku lebih sering ingin menyandarkan pusingnya kepalaku di pundakmu? Sementara, kau ini siapa? Bahkan, untuk sekedar menyebut namamu pun, bukankah aku ini tidak pernah pantas. Tidak ada dari kesalahanmu yang menghalangiku untuk mengantarkan rindu ini agar sampai ke hatimu. Apa kau mendengar rindu itu?
Maka betapa sering berkali-kali aku memohon: Tuhan jangan timpakan aku cinta, sebelum aku memahami siapa tuannya cinta yang sebenarnya: "Engkau"setidaknya itu akan menjadi alasan, kenapa melepaskn simpul 2 tali itu menjadi lebih baik, daripada mengikatnya kencang, lalu putus. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maka itulah kenapa aku lebih suka sekat, pagar, dinding, bahkan tebing sekalipun. Meskipun kadang, hati menjadi brutal di tengah-tengahnya nanti. Bagaimana menahan rindu itu untuk tidak sampai ke hatimu.
Aku membayangkan, bagaimana kau sedang menulis tentang aku. Ah, tapi apa mungkin: bagaimana kau bisa menulis tentang aku, sementara aku adalah bagian yg sangat ingin kau hapuskan.
Mungkin, aku akan sering membutuhkan tong sampah atau kresek putih setiap paginya. Untuk apa? untuk membuang rindu itu agar ia tidak pernah sampai ke hatimu.
Kau ingat, kadang jika aku sedang marah, aku akan menganggap semua sikapmu buruk. Bahkan sering aku akan mengatakan: "kaca yang retak sulit utk kelihatan utuh, meskipun telah ada perekat yang menyatukan sekalipun" :)
Bagaimana bisa, kau tidak menyebutku bahwa aku sangat mencintaimu.....
eaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... -.-"
sayang ....... ???? siapa ???
wah, tulisannya keren :D
BalasHapusterimakasih :)
BalasHapus