Langsung ke konten utama

Daun Mati yang Terlihat Hijau



Dari sudut mana kau bisa menyebutnya daun hijau, sementara senyawa klorofilnya sudah mati. Ia tidak mengalami fotosintesis seperti yang kau kenal biasanya. Cairan kimia itu berhasil mempertahankan warna hijau daunnya, tapi sesungguhnya cairan jahat itulah yang mengambil nyawanya.


tertanda: Daun Mati yang (menurutmu) terlihat hijau.


Kenapa aku lebih sering ingin menyandarkan pusingnya kepalaku di pundakmu? Sementara, kau ini siapa? Bahkan, untuk sekedar menyebut namamu pun, bukankah aku ini tidak pernah pantas. Tidak ada dari kesalahanmu yang menghalangiku untuk mengantarkan rindu ini agar sampai ke hatimu. Apa kau mendengar rindu itu?



Maka betapa sering berkali-kali aku memohon: Tuhan jangan timpakan aku cinta, sebelum aku memahami siapa tuannya cinta yang sebenarnya: "Engkau"setidaknya itu akan menjadi alasan, kenapa melepaskn simpul 2 tali itu menjadi lebih baik, daripada mengikatnya kencang, lalu putus. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maka itulah kenapa aku lebih suka sekat, pagar, dinding, bahkan tebing sekalipun. Meskipun kadang, hati menjadi brutal di tengah-tengahnya nanti. Bagaimana menahan rindu itu untuk tidak sampai ke hatimu.

Aku membayangkan, bagaimana kau sedang menulis tentang aku. Ah, tapi apa mungkin: bagaimana kau bisa menulis tentang aku, sementara aku adalah bagian yg sangat ingin kau hapuskan.


Mungkin, aku akan sering membutuhkan tong sampah atau kresek putih setiap paginya. Untuk apa? untuk membuang rindu itu agar ia tidak pernah sampai ke hatimu.


Kau ingat, kadang jika aku sedang marah, aku akan menganggap semua sikapmu buruk. Bahkan sering aku akan mengatakan: "kaca yang retak sulit utk kelihatan utuh, meskipun telah ada perekat yang menyatukan sekalipun" :)

Bagaimana bisa, kau tidak menyebutku bahwa aku sangat mencintaimu.....




eaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... -.-"

sayang ....... ???? siapa ???

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...