Langsung ke konten utama

Kemuliaan di Balik Ketaatan



"Mikul dhuwur mendhem jero", junjunglah tinggi, pendamlah yang dalam. Pepatah jawa yang sarat makna ini, jika dipahami dan dikaji lebih seksama akan mewakilkan do’a setiap orang tua kepada anak-anaknya. Harapan orang tua yang mendambakan putra-putrinya segera mentas dari sedih-dukanya hidup menuju pada kemuliaan hidup. Seperti itulah kiranya, garis besar do’a dan harapan dari setiap orang tua di muka bumi ini.

Menuju pada harapan itu, tidak bisa membiarkannya hanya dengan tangan kosong saja, tanpa senjata, setidaknya kita butuh strategi. Ya, salah satunya adalah strategi bagaimana orang tua mendidik anak sampai dengan bagaimana mengikat hati si anak untuk tetap teguh pada keyakinannya kepada Allah SWT, itulah pointnya. Teringat pada sebuah peribahasa melayu: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga -tindak tanduk anak tidak jauh beda dengan perilaku orang tuanya. Yupss, peribahasa yang juga berkerabat dekat dengan konsep jawa: sapa nandur, mesthi ngundhuh. Coba diingat-ingat ketika kata “siapa” lantang dikumandangkan di puncak gunung, apa yang terdengar? Apakah kata “mengapa” yang terdengar. Tidak kan! Yang kita dengar adalah kata yang sama, bukan? Analogi yang semakna: jika kita terbiasa berkomunikasi dengan anak menggunakan kata-kata yang kasar, maka adalah sebuah kewajaran, jika suatu hari nanti kita akan mendengar kata yang sama seperti apa yang kita ucapkan kepada mereka.

Seribu nasehat, tidak jauh lebih baik dari satu keteladanan. Perhatikan sikap yang dicontohkan Nabi Ismail yang tanpa berlama-lama memutuskan “iya, bersedia” ketika ayahnya, Nabi Ibrahim meminta pertimbangannya bahwa ia hendak disembelih: “Nak, kemarilah! Semalam tadi, Ayah bermimpi Allah meminta untuk menyembelihmu. Maukah engkau aku sembelih, Nak?” Teman-teman, masih ingatkah apa yang segera dikatakan nabi Ismail kepada ayahnya: “Duhai ayah, jikalau itu adalah perintah Allah, maka  segeralah sembelih aku”. Dari dialog ayah dan anak ini, ada simpul manis yang bisa kita tarik untuk menjadi benang penyatu iman kita: keistimewaan sosok ayah ada pada Nabi Ibrahim. Tidak mungkin, seketika Nabi Ismail mengiyakan perkataan ayahnya, jika sosok ayah ini tidak memiliki kemuliaan. Ya, kemuliaan itu adalah ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah dan keteladanan sikap seorang ayah yang dicontohkan kepada Nabi Ismail selama hidupnya. Sosok mulia itu terekam dan menjadi teladan dalam jejak perjalanan Nabi Ismail mengejar cinta dan kasih Allah, betapa ia benar-benar memiliki seorang ayah yang “bersosok ayah”, bahkan tidak ada keraguan sedikitpun darinya ketika Ayahnya meminta hendak menyembelihnya karena Allah. Wallahu a’lam bisshawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...