Langsung ke konten utama

Jarum atau Duri? sama saja?

Banyak yang bilang, cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Emmm, bisa jadi memang benar begitu. Bukankah manusia biasa itu penuh pamrih? I think begitu lah. 

Seperti telapak kaki yang tertusuk jarum atau duri. Semakin membiarkannya tertancap di dalam kulit karena takut mencabut, maka susah bagi kita untuk mengajaknya berjalan. Bahkan belum mulai menginjak tanah pun,  rasa sakitnya berkecamuk di dalam otak. Parahnya, jika luka itu dibiarkan tanpa ada keberanian kita untuk mencabutnya, kulit itu akan membusuk sia-sia.  

Sebaliknya, jika kita memilih untuk mencabutnya. Benar, akan terasa sangat sakit di awal, tapi bukankah itu menjadi lebih baik? Meskipun, bakal sakit juga bila dipakai untuk berjalan. Hanya saja, kesempatan untuk sembuh dan pulih, mendapatkan kulit yang baru akan menjadi lebih cepat kan?
Yakinlah, ini hanya jalan batuan terjal yang wajib dilewati untuk menaikkan peringkat. 

CUKUP ALLAH BAGIKU
Memang harusnya begitu kan? 

Kenapa harus merasa sendiri setelah kehilangan seseorang yang sangat dicintai? Ku jawab: itu manusiawi, karena aku masih manusia. Ya, selama aku dan sekitarku mempercayai bahwa aku masih berwujud seorang manusia, bukankah hal yang wajar jika kata "manusiawi" itu disematkan padaku. 
Terkadang, kita memang perlu mengungkapkan apa yang kita rasakan, karena itu perlu! Dia perlu tahu, apakah kita merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan (aduuuh malah bahas apa sih). Setidaknya, adalah ungkapan pujian yang tertinggi, when you say that you love him... 

tapi ingat pesan Aa Gym ya:
"Tak setiap ingin bicara harus langsung dikatakan..Sebaiknya periksa hati, apa niatnya ?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...