Langsung ke konten utama

Postingan

Karena Allah

Saat aku ingin menangis, izinkan aku untuk memeluk bayanganku sendiri.  Berkali-kali menegaskan pada diri sendiri: Allah cukup bagiku. Entahlah, memang sedang ingin kembali pada masa yang dikehendaki.  Hari ini memutuskan untuk nggak belajar bareng sama jyestha, belum sempat juga beliin anak itu coklat. Memberinya PR untuk membuatkan puisi. Ya, begitulah, ada 3 amanah organisasi kampus yang membuatku sempat bolak-balik, meskipun hanya 2 amanah yang terjamah. satunya? ilang. Sesuatu yang harus memaksa otak untuk mengingat, mencatat dan merencanakan. Kadang berfikir, Allah sedang bercanda padaku. Anak sekecil ini harus berhadapan dengan amanah yang sebesar ini. Bagiku ini terlalu baik Ya Allah untukku. Merasa tidak pantas dan sejenis pengutaraan maksud yang melemahkan. Tentang air mata yang kering 3 tahun lalu. Ketika teman-teman seusiaku memilih lebih dulu, aku hanya terdiam. Terlalu lama mempertimbangkan dan akhirnya hanya terpasung di balik jeruji keminderan yang me...

Jarum atau Duri? sama saja?

Banyak yang bilang, cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Emmm, bisa jadi memang benar begitu. Bukankah manusia biasa itu penuh pamrih? I think begitu lah.  Seperti telapak kaki yang tertusuk jarum atau duri. Semakin membiarkannya tertancap di dalam kulit karena takut mencabut, maka susah bagi kita untuk mengajaknya berjalan. Bahkan belum mulai menginjak tanah pun,  rasa sakitnya berkecamuk di dalam otak. Parahnya, jika luka itu dibiarkan tanpa ada keberanian kita untuk mencabutnya, kulit itu akan membusuk sia-sia.   Sebaliknya, jika kita memilih untuk mencabutnya. Benar, akan terasa sangat sakit di awal, tapi bukankah itu menjadi lebih baik? Meskipun, bakal sakit juga bila dipakai untuk berjalan. Hanya saja, kesempatan untuk sembuh dan pulih, mendapatkan kulit yang baru akan menjadi lebih cepat kan? Yakinlah, ini hanya jalan batuan terjal yang wajib dilewati untuk menaikkan peringkat.  CUKUP  ALLAH BAGIKU Memang harusnya begitu kan?...

Senyum yang (Sengaja) Terlupakan

Kadang saja atau memang sudah sering. Buku-buku berat itu telah menjadi beban punggung untuk mereka. Merenggut masa bermainnya dan mengabaikan hangat tawa yang semestinya menjadi simbol kemerdekaan mereka. Berkali-kali dan berulang-ulang selalu mengutip kalimat ini " Pak, Buk, jangan cabut anak-anak kita dari dunia bermainnya, karena nanti jika  ia besar, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" Elly Warisman.    Hari itu, sedikit mataku terbelalak tajam. Melihat anak-anak seusia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau gaulnya Play Group bermain-main dan tertawa bareng dengan teman-teman sepermainannya. Aku? Turut senang. Di lain itu, sebuah pemandangan menyipitkan mataku seketika; hey lihat di atas ayunan itu! Anak kecil sedang mendekorasi wajahnya dengan konsep murung. Ini berbeda. Aku mengangguk-angguk dan mengambil pose terbaiknya (menurut kamera seadaku) Tidak mengherankan jika akupun sama dengan anak itu. Kenapa memilih diam daripada menggotong ba...

Lalu Bagaimana dengan Bhinneka Tunggal Ika?

Jawaku terusir dari tanahnya sendiri. Miris, tapi beginilah yang terjadi. Aku, Kau, Dia, Mereka dan Kita hanya memilih diam kan? Cukup saja dengan mengumpat, mencibir bahkan sampai keluar air mata melihat palu itu diketokkan. Kita tidak melawan?  Aku ragu, apa kita memang benar-benar sudah merdeka, sementara untuk berbahasa dengan bahasa kita sendiri, dilarang? Unbelievable! Apa Jawa pernah menyakitimu?  Kau berdalil, bilang Jawaku ini sarang kemusyrikan. Letaknya dimana? Kau tahu, karena kewibawaan Jawalah masyarakat berlapang hati menerima ajaran Islam yang mereka, para ulama syiarkan. Aku sempatkan kali ini untuk membiarkan hatiku tercabik-cabik terluka dan mendiamkan saja mataku membengkak karena segelintir air mata. Ingatkah Kau, bagaimana seorang wali Allah yang betapa gigihnya menyelip-nyelipkan sebuah ajaran untuk memberikan pemahaman hidup yang sesungguhnya bagi masyarakat Jawa kala itu; agar pedoman hidupnya sesuai dengan Ajaran Al-Qur'an dan Sunnatullah. Kau ...

Simpangan

Luka hatiku mana lagi, yang kau dustakan? penuh. sudah penuh. Dan tapi, seremuk apapun itu sesungguhnya, aku harus terpaksa untuk tersenyum di depanmu. berbohong pada keadaan yang mengapit, seolah-olah memang tidak ada apa-apa. kita baik-baik saja (menurutmu).  setega itukah? sampai-sampai untuk berucap kata maaf pun (selalu sengaja) tidak kau sempatkan. apa yang salah? jabatanmu yang menghalangi? Demi Tuhan, aku sangat membencinya. lagi-lagi kita bertemu di persimpangan yang sangat menjemukan bagiku (entah bagimu seperti apa). -------------------------------------------------------------------------------------------------------- mengenalmu (boleh aku menyesalinya?)

Kita Sama-sama Sombong

ini adalah hari yang sesungguhnya. meminta dan sangat memaksa diriku sendiri untuk tidak lagi mengemis hati  yang sengaja kau tawarkan pada siapapun (yang mungkin tertarik padamu). aku bosan!!! kalau saja, ada hitam di atas putih untuk memperjelas bahwa akulah orang pertama yang melarangmu menjadi seorang operator. aku membencinya! sangat membencinya! kau tahu? berbagi hati itu tidak semudah memotong satu roti menjadi 6 bagian. sangat sulit. mengibaratkan dirimu layaknya operator, yang sangat ramah menjawab segala tanya menjemukan dari para pelangganmu. dan aku yang mendengarnya, sangat membenci itu. itulah kenapa aku memutuskan untuk berhenti mengemis hati padamu. aku tidak sanggup untuk berbagi hati. aku cemburu! cemburu! hanya itu! ah, cemburu. (mungkin bisa jadi) karena aku juga terlanjur menumpuk dosa bohongmu yang sangat menyakiti (masa itu). kita terjebak dalam persimpangan; melihat, menatap, tapi berlempar senyum pun enggan. acuh! that's our choice. kenapa kita sa...

Satu dan Satu

Yang satu, membuat hijau dari tanah yang kering dan tandus ringan baginya, bertaruh peluh demi humus bagi rumputnya Satu yang lain, membuat bisu kertas-kertas yang bertulis angka kadang dilebihkan, kadang dikurangi bukankah sama-sama berlahan?! penggeraknya pun juga sama: tangan dan pikiran hanya mungkin berbeda hati antara berbagi dan milik sendiri yang satu paham betul, bagaimana memuliakan alam sejalan dengan kehidupannya satu yang lain terbujuk, kemana hutan ini bisa ku jual ah, jelas saja berlain kaki satu ke surga satu yang lain memilih neraka