Langsung ke konten utama

Kurikulum Bata-bata



Sejatinya, pendidikan tidak hanya berhenti pada berapa nilai matematika, fisika, kimia, atau biologi. Prinsip pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memiliki andil yang sangat besar dalam upaya perwujudan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.

Kurangnya sumber daya manusia di Indonesia sering kali dijadikan dalih untuk menempatkan mereka cukup sebagai “buruh”, padahal potensi alam di Indonesia ini, semestinya adalah hak kita untuk mengelolanya, bukan mereka, orang asing yang sering kita sebut investor itu. Bertolak dari itu, adalah fakta yang sangat memprihatinkan tentang dunia pendidikan di Indonesia bahwa kita sedang terjajah kebodohan dan gagap ilmu pengetahuan, walaupun pada kenyataannya negara kita adalah obyek terbesar pasar teknologi dunia. Ironisnya, mayoritas dari kita hanyalah sebagai pengguna saja, sedangkan sangat kecil prosentasenya yang berusaha mengembangkan ilmu teknologi. Semua itu akibat dari terbatasnya kompetensi sumber daya manusia yang kita miliki, dan dari sinilah peran pendidikan mulai dipertanyakan. Sudahkah sistem pendidikan kita efektif, merata dan tepat sasaran? Jawabannya ada pada fakta pendidikan yang ada sekarang.

Pendidikan sebagai upaya untuk membentuk karakter bangsa, dalam kenyataannya sangat jauh dari yang diharapkan. Praktek pendidikan yang harusnya mendidik pun sepertinya memang tidak lagi diindahkan apalagi dipatuhi. Bahkan bentuk kecurangan tidak hanya terjadi di ranah politik tetapi juga sudah merambah dunia pendidikan. Contohnya: Ujian Nasional yang booming beberapa tahun silam ini, sejak ditetapkannya sebagai indikator kelulusan siswa secara nasional, dalam penyelenggaraannya tidak jarang terjadi kecurangan-kecurangan di dalamnya, padahal secara fundamentalis pendidikanlah yang seharusnya mengambil peran awal untuk memulihkan karakter bangsa yang terlanjur carut-marut ini.

Selain itu, sistem pendidikan belum mampu menjamah masyarakat secara utuh dan menyeluruh, masih banyak terjadi ketidakrataan pendidikan khususnya bagi masyarakat miskin, karena biaya pendidikan yang terbilang cukup mahal. Lantas kemudian bagaimana pendidikan bisa dinyatakan sebagai hak bangsa sebagai warga negara jika mereka tidak diberikan akses kemudahan untuk mengenyam pendidikan. Lagi-lagi kebijakan pemerintahlah yang sebenarnya tidak tanggap ing sasmita kepada orang kecil. Di samping itu, berdasarkan ranah sistem pendidikan dalam hal ini kurikulum, juga belum bisa berlaku adil bagi anak-anak Indonesia, dalam kesehariannya mereka selalu diberikan tekanan tentang pelajaran yang semestinya bisa mereka pelajari dengan menyenangkan. Akan tetapi, hal itu seolah dikesampingkan, sehingga memberikan kesan bahwa pendidikan itu momok bagi mereka. Kurikulum pendidikan yang seharusnya menjadi patokan dasar dalam pengembangan pendidikan itupun juga banyak terjadi ketidakjelasan di sana.

Oleh karena itu, penyimpangan dalam penyelenggaraan pendidikan, seharusnya perlu menjadi perhatian, tidak hanya sarana dan prasarananya saja yang diperbaiki tetapi juga kualitas sumber daya manusianya, karena sebaik apapun sarana dan prasarana pendidikan, kalau tidak diimbangi kualitas sumber daya manusia yang baik juga tidak ada artinya. Pergerakan awal untuk memperbaiki karakter bangsa adalah melalui pendidikan, sehingga hubungan antara pelaku kebijakan dengan sasaran kebijakan pendidikan seharusnya bersinergi dan saling mendukung guna mensukseskan pendidikan bagi semua. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...