Langsung ke konten utama

Födelsedag



Usia adalah tanda waktu seberapa kuat kita menjalani setiap lini kehidupan, dengan melalui berbagai usaha, proses dan hasil yang kita dapatkan. Adalah wajar ketika banyak orang yang begitu antusias mengelu-elukan penghargaan tepat di hari lahirnya, bukan apa-apa memang, hanya saja keberartian seseorang akan sangat terasa ketika keberadaannya diakui oleh orang lain, setidaknya dengan mengucapkan selamat itu saja sudah mewakili perhatian kita untuknya. 

Ulang tahun;  ritual meniup lilin, memotong kue dan make a wish, tidak ada perubahan yang begitu mencolok, setelah diamati. Dari saya dulunya gemar bermain bola, sampai kembali cinta boneka, lagu ulang tahun pun kedengarannya juga masih sama, seperti ada filosofi yang asik untuk dibahas di sini, dan saya rasa itu benar. Kenapa kehilangan umur malah dirayakan? Diberi kado, surprise atau kalau nggak sekejam-kejamnya diceprotin tepung+telur yang baunya agak ga enak terus minta ditraktirin makan,,, benar-benar bodo campur rasul katanya orang jawa, ini ungkapan bukan untuk yang ulang tahun, tapi temen2nya yang orang ulang tahun itu. Sengsara, sengsara deh tuh orang. Bukan sebuah upaya pembelaan terhadap budaya anak muda itu, tetapi sebuah upaya penghargaan kepada sesepuh yang sudah mencentuskan budaya seperti itu. Tidak salah memang, seseorang berusaha mengekspresikan kebahagiaan, kegalauan, kesedihan, ketakutannya, selama masih dalam batas koridor yang wajar dan tidak keterlaluan. 

Kembali pada bahasan kita kali ini, Kenapa kehilangan umur malah dirayakan? Bukan dirayakan sebetulnya, hanya sebagai ungkapan syukur dan injeksi semangat saja tepatnya. Mari memutar playlist logika kita, dalam keseharian hidup yang penuh tumpukan tugas, tagihan bulanan, tuntutan prestise pergaulan, omelan atasan dan sejuta problem notes, adalah manusiawi ketika seseorang mencari-cari moment yang tepat untuk meredakan sejenak tekanan-tekanan hidup yang cukup dibilang menyiksa. Bermula dari sinilah, sebuah peresmian umur boleh jadi difungsikan sebagai cara terbaru melangkahi jarak hidup yang ternyata tidak sependek bayangan kita. bahkan mungkin episode-episode selanjutnya bisa lebih sangat indah dari dugaan kita.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...