Langsung ke konten utama

Tentang Sekarang


2/22/2012 4:40 PM

Tidak pernah ingin bercerita tentang ini sebenarnya, tapi sudahlah untuk memenuhi permintaan & sekedar berbagi dengan teman-teman SMP. #halah

Mulai dari rasa canggungku membalas senyum orang-orang hebat di sekelilingku sampai dengan tidak bisa menyapa dengan seharusnya. Semua itu berawal dari ketakutan. Ya, ketakutan yang selama ini bermanja-manja dalam diriku terlalu lama. Oh, sakitnya bila itu diulang kembali. Aku tak pandai menulis tentang segala hal yang mereka sebut indah itu, hanya saja aku tak ingin bersibuk dengan itu, aku hanya sedang sangat ingin bercerita tentang sebuah keadaan yang seandainya juga dialami oleh sahabat-sahabatku di luar sana. bertanpa dengan hati, semoga tak ada lagi orang sebodoh ini suatu saat nanti, orang lemah yang dengan mudahnya dilemahkan oleh keadaan yang melemahkan, anak kecil yang papa, yang begitu saja menerima kemiskinannya, kata-kata ini hanya sebuah alibi kosong yang sebenarnya tak perlu diuraikan jika hanya sebatas untuk berdalih secara terhormat membela keminderan. Jika akan lebih bijaksana dg tulisan, maka jalan inilah yang akan aku pilih. Di tengah kondisi raga yang begitu sangat nelangsa dihadapan sahabat-sahabat dan orang-orang terkasihku. Bukan perkara jarang atau sering, aku benar-benar tidak merasa bosan mengeluh, kenapa seperti ini, kenapa seperti itu. Aku tak punya hak sedikitpun untuk menghakimi mereka yang bersikap tidak sebagaimana mestinya padaku. Teringat sebuah nasehat yang sempat ngangkring di otakku, jika cara berfikirmu biasa maka dia akan membawamu pada keadaan yang biasa.


Kembali berfikir dan merenung, kenapa aku begitu takut dengan keadaan yang meremehkanku, mencelaku, bahkan tak menganggap ada aku disana. Apa aku harus menyalahkan mereka? Tidak. Bukan jalan ini yang ku pilih. Tuhan mengirimku di bumi yang diciptakannya ini, tidak sia-sia. Lantas, kenapa aku begitu takut dengan sikap orang-orang yang begitu menyakiti aku, Tuhanku bersamaku, Tuhan sedang berbicara padaku, untuk memahami kehendak yang dikehendaki-Nya. Sudahlah jangan protes!!! ini bukan sebuah penganiayaan, ini hanya butuh waktu untuk beradaptasi saja. 



Berawal dari ketidaknyamanan dengan semua yang ada sebelumnya --lihat atas, bukan tidak mensyukuri, hanya saja ini adalah permulaan dari perjuangan saya untuk mendapatkan suatu hal yang memang saya butuhkan. Keyakinan, ketenangan, keberanian, dan segala ke-an – ke-an yang membuat hidup ini benar-benar terasa hidup. Al-Huda, yang berarti sebagai petunjuk, yang juga membuat saya sempat beradu argumen dan juga bersusah payah melakukan negosiasi dengan diri saya sendiri untuk menegaskan bahwa saya membutuhkan itu -ilmu agama. Suatu hal yang juga membuat saya berpikir tentang istimewanya hidup yang saya jalani. Sekumpulan teman yang mengenalkan saya sebuah Ayat Al-Qur’an yang belum saya tahu keagunganNya sebelumnya. -----الرَّحْمَنُ --- saya menemukan benda-benda mulia itu di Al-Huda, mereka adalah sahabat-sahabat yang hampir tidak pernah berhenti menyemangati saya untuk bersama dalam kebaikan. Sempat ada penolakan dari dalam diri saya untuk tidak lagi berhubungan dengan namanya Al-Huda *wejangan dari my beloved father, tapi saya merasa ketika melakukan hal itu, Allah pun terasa saangat jauh dari saya, keadaan ini membuat saya sempat dalam keterpurukan yang berkepanjangan, hingga akhirnya saya putuskan untuk baikan lagi sama Al-Huda. sudahlah, biar saja niat baik ini yang menjelaskan pada Ayah suatu saat nanti.





sudah, hanya itu---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...