Langsung ke konten utama

Postingan

Sing Lumrah

Angudi lathi anggone ngracik ukara ngalembana lan mbebungah ati, anyingkiri tetembungan, kang bisa milara ati. Geneya, nalika padha ngendika ora nganggo duga kira, paugeran disasak, mblarah tekan mrana-mrana. Kamangka, yen wong gawe luput, kuwi rak ya lumrah, ora gage-gage nibakke pangipat-ipat "Dadiya banyu ora gelem nyawuk, dadiya godhong ora bakal nyuwek." Dudu kaya mengkono, sing diarani paseduluran ya, ngger. Samirono, 23 Februari 2020

Ketidak-lengkapan

Tentang bagaimana, ketidaklengkapan itu menjadi sebuah aib  di mata manusia, perbincangan yang membuat kering, dan terus menyiksa batin, seolah hilang sudah rasa belas kasih dan prihatin. Standar kemuliaan, yang tak lagi hadirkan sisi kemanusiaan, seolah ketidaklengkapan itu, layak dijadikan bahan candaan, tanpa peduli dan menoleh pada apa yang ia rasakan, sepi dalam kesendirian, sendiri dalam kesepian, sendiri menaklukkan kesepian.

Menjadi Harapan

Di pertengahan tahun 2019 kemarin, ada yang baru dalam catatan perjalanan mengajar saya. Takdir Allah mempertemukan saya dengan seorang siswa yang istimewa. Keistimewaan yang dia miliki adalah tidak bisa mendengar atau kebanyakan kita menyebutnya tuli. Karena keterbatasannya dalam mendengar, maka dia kesulitan untuk berbicara atau dengan kata lain dia bisu. Sebuah paket keistimewaan yang komplit dan tidak bisa saya bayangkan betapa tabahnya kedua orangtuanya kala mengetahui kondisi anaknya itu. Saya terkejut mana kala saya baru mengetahuinya setelah pertemuan pertama mengajar di kelas itu, setidaknya jika saya mengetahuinya lebih awal sebelum proses pembelajaran dimulai, saya bisa mempersiapkan diri dan mempersiapkan materi yang sesuai untuk anak itu. Tapi apa boleh dikata, kenyataannya saya baru mengetahuinya setelah pertemuan yang pertama. Saya membiasakan siswa-siswa saya ketika dipresensi untuk menjawab, “Dalem”, “Kula”, “Wonten, Bu” sembari mengangkat tangannya. Karena bas...

Berkah Tahun 2020 itu Bernama,

Pada awal musim penghujan ini, ketika kita terpaksa harus melewati jalan yang banyak pohon jati di sekelilingnya, maka kita harus waspada dan menyiapkan mental yang cukup kuat. Bukan apa-apa, hanya saja kita akan menghadapi kawanan gegremet yang akan cukup membuat histeris jika mereka (ulat jati) berhasil menjatuhkan diri lalu menempel di baju kita. Tidak hanya menggelikan atau bahkan menjijikkan, tetapi juga mereka akan meninggalkan sebuah kenangan yang berupa noda di baju kita, kami orang Jawa sering menyebutnya oweh uler. Bagi sebagian masyarakat Gunungkidul, musim ulat jati ini adalah sebuah berkah bagi mereka. Karena tak lama setelah itu, ulat yang semula menjijikkan itu akan menghasilkan pundi-pundi rupiah mana kala sudah berubah menjadi kepompong ( enthung ). Kandungan protein yang tinggi dan rasa yang lezat bagi para penikmatnya, menjadikan harga jual enthung jati ini cukup mahal. Di awal tahun 2019, harga enthung  jati pernah mencapai Rp 120.000/kg mengalahkan harga ...

Cerita Seorang Lajang

Menjadi biasa dan mengikuti kebanyakan orang ternyata cukup membosankan, sebab pribadi yang tadinya independen dan bebas dari intervensi, mau tidak mau harus mengikuti pendapat orang banyak, yang pada akhirnya membentuk karakter “pembeo”. 2 tahun ini, saya mencoba bermasyarakat dengan normal (menurut banyak orang). Menjalani hidup seperti itu, tentu sangat bertolakbelakang dengan karakter saya, tetapi mau tidak mau saya harus menjalani itu. Sebab selain tuntutan suasana kerja, hal itu juga saya butuhkan untuk bisa memberikan contoh kehidupan yang normal bagi anak didik saya. Tidak mungkin saya bisa mengajarkan “karyènak tyasing sesami” (menjaga perasaan orang lain), jika saya sendiri justru menyingkir dari pergaulan. Bukan berarti saya tidak suka bergaul, hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan kerumunan orang dan memperbincangkan orang lain. It’s not my style. Tentu tidak semua pergaulan begitu, hanya saja itu yang saya alami setiap berkumpul dengan kawan-kawan saya.  Pa...

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

Belakangan ini, mengungkit-ungkit hubungan posisi duduk dengan prestasi anak di sekolah, entah kenapa cukup menggoda dan menyita perhatian saya. Mengamati dan menelisik keseharian mereka bersama teman sebangkunya di sekolah. Ada kecenderungan mereka duduk di bangku yang sama dengan orang yang sama dan hampir di semua kelas begitu, meskipun ada satu atau dua yang tidak begitu. Mungkin ini suatu kondisi yang biasa dianggap lumrah dalam keseharian kita, karena memang manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kenyamanan. Jika dia sudah mendapatkan rasa nyaman, maka akan terasa aneh ketika ia menghadapi situasi dan keadaan yang berbeda. Saya menyebut kondisi seperti inilah yang dinamai culture shock . Saya pun pernah mengalami itu. Ketika kita sudah nyaman dengan seseorang tetapi waktu berlalu, sesuatu terjadi dan keadaan berubah, pasti ada rasa tidak terima dengan perubahan itu. Saya rasa itu hal yang manusiawi, selama kita masih bisa kembali ke alur yang semestinya. Life must go on!...

Nekuk Ilat

"Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang menjadi kepeduliannya"  (John Gardner) Kepada hati yang merindukan kedamaian, maka menulislah! Ada pepatah Jawa bagian barat yang mengatakan bahwa : " the palest ink is better than the best memory" Baik, mari berselancar mengudari simpul apa yang akan saya tulis. 13rd of February, 2014 was the second time for me to presented about responsibility reporting to the public, especially to others people in Javanese Programme. I did not really know how to make sure the others about what I do as long as I was to be a driving-head in PENA division. It was so awkward moment, right?! You know what, I had to speak krama Javanese and you can imagine how is so hard for me to speak well. Yes, I was so nerveous! But I give you my word if I efforted as much as I can. In the middle of my presentation, I gave up and said "I'm really sorry can't speak krama Javanese fluently". The audiences looked at me like ...