Langsung ke konten utama

Menjadi Harapan

Di pertengahan tahun 2019 kemarin, ada yang baru dalam catatan perjalanan mengajar saya. Takdir Allah mempertemukan saya dengan seorang siswa yang istimewa. Keistimewaan yang dia miliki adalah tidak bisa mendengar atau kebanyakan kita menyebutnya tuli. Karena keterbatasannya dalam mendengar, maka dia kesulitan untuk berbicara atau dengan kata lain dia bisu. Sebuah paket keistimewaan yang komplit dan tidak bisa saya bayangkan betapa tabahnya kedua orangtuanya kala mengetahui kondisi anaknya itu. Saya terkejut mana kala saya baru mengetahuinya setelah pertemuan pertama mengajar di kelas itu, setidaknya jika saya mengetahuinya lebih awal sebelum proses pembelajaran dimulai, saya bisa mempersiapkan diri dan mempersiapkan materi yang sesuai untuk anak itu. Tapi apa boleh dikata, kenyataannya saya baru mengetahuinya setelah pertemuan yang pertama.

Saya membiasakan siswa-siswa saya ketika dipresensi untuk menjawab, “Dalem”, “Kula”, “Wonten, Bu” sembari mengangkat tangannya. Karena basic-nya saya adalah guru bahasa Jawa, maka sudah menjadi tanggungjawab saya untuk menggalakkan pembelajaran tata krama. Ketika tiba saya memanggil namanya: Rizki, tidak terdengar respon dan gerakan mengangkat tangan, dengan sigap mata saya mencari-cari dan berusaha menemukannya. Seorang siswa memberikan kode kepada saya bahwa anak yang saya panggil namanya sedang duduk di sampingnya. Siswa itu kemudian menjelaskan dengan isyarat dan bahasa tubuh bahwa temannya itu tidak bisa mendengar dan berbicara. Seketika itu saya terkejut dan tertegun memandang wajah tampannya.

Sekitar 2 bulan, saya menjalani pendidikan profesi di Semarang. Selama menjalankan tugas pendidikan, saya menggunakan google classroom untuk membantu proses KBM. Sepulangnya saya dari sana, saya kembali mengajar dan satu minggu setelahnya harus melakukan pengambilan nilai nembang. Kesan menarik masih terngiang kala mengajar di kelas Rizki, ketika semua siswa di kelas itu sudah maju nembang dan tinggal satu anak, yaitu Rizki. Saya meminta anak itu maju ke depan dan dia berbicara dengan bahasa tubuh menjelaskan kepada saya, bahwa dia tidak bisa nembang karena tidak bisa bersuara. Saya menjawabnya, “Siapa bilang kamu akan nembang. Saya mau kamu menjelaskan isi tembang ini apa.” Akhirnya dia duduk dan mulai menjelaskan. Semula dia bercerita bahwa selama SD-SMP dan di rumah bahasa yang ia gunakan adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Saya menganggap ini adalah tantangan, karena harus mengajari dia bahasa Jawa dari nol.

Selang beberapa minggu kemudian, sekolah melaksanakan ujian PAS (Penilaian Akhir Semester) berbasis android, terhitung sudah 2 semester ini sekolah kami memutuskan untuk menggunakan android. Selain menghemat penggunaan kertas, juga lebih meringankan kerja bapak/ ibu guru karena tidak perlu membawa koreksian ke rumah dan rekap nilai lebih cepat. Setelah merekap nilai anak-anak yang cukup bervariasi dan didominasi merah, saya akhirnya memberikan tugas tambahan untuk mereka. Saya meminta mereka untuk membuat sticker whatsapp bertuliskan aksara Jawa dan vlog bahasa Jawa yang kebetulan pada saat itu ada event lombanya. Semua siswa yang nilainya di bawah 80 saya minta untuk membuat itu, termasuk Rizki. Dia akhirnya konsultasi dan bertanya-tanya mengenai tugas itu. Saya berpikir jika dia bisa membuat itu setidaknya akan muncul perspektif bahwa belajar bahasa Jawa itu mudah, walaupun tentu banyak tantangannya.

Rizki akhirnya membuat vlog tentang pengalamannya belajar bahasa Jawa dan yang mengejutkan bagi saya, ternyata dia sudah menjadi vlogger sebelumnya. Konten youtube-nya cukup aktif, beruntung karena dia memiliki komunitas yang memotivasi dia untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif. Pernah dia bilang pada saya, “Saya Rizki Tuli. Saya lebih nyaman panggilan dengan sebutan Tuli, daripada Tuna Rungu, karena memiliki identitas, budaya, bahasa isyarat dan komunitas.”

Ini link vlog yang dibuat Rizki: https://youtu.be/d1Bb3hbmOZU

Dan ini vlog siswa dari sekolah kami yang memperoleh juara 1 https://youtu.be/dTLFBnmVe18 
     
Pada akhirnya ada pembelajaran untuk saya pribadi bahwa kesungguhan itu hanya milik mereka yang mempunyai keinginan kuat dan yang di sana terselip doa serta harapan yang besar.
   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...