Jumat, 17 Februari 2017

Cerita Seorang Lajang

Menjadi biasa dan mengikuti kebanyakan orang ternyata cukup membosankan, sebab pribadi yang tadinya independen dan bebas dari intervensi, mau tidak mau harus mengikuti pendapat orang banyak, yang pada akhirnya membentuk karakter “pembeo”. 2 tahun ini, saya mencoba bermasyarakat dengan normal (menurut banyak orang). Menjalani hidup seperti itu, tentu sangat bertolakbelakang dengan karakter saya, tetapi mau tidak mau saya harus menjalani itu. Sebab selain tuntutan suasana kerja, hal itu juga saya butuhkan untuk bisa memberikan contoh kehidupan yang normal bagi anak didik saya. Tidak mungkin saya bisa mengajarkan “karyènak tyasing sesami” (menjaga perasaan orang lain), jika saya sendiri justru menyingkir dari pergaulan. Bukan berarti saya tidak suka bergaul, hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan kerumunan orang dan memperbincangkan orang lain. It’s not my style. Tentu tidak semua pergaulan begitu, hanya saja itu yang saya alami setiap berkumpul dengan kawan-kawan saya. 

Pada tahun 2015, saya akhirnya menjalani ; target menyelesaikan skripsi, wisuda dan berburu lapangan pekerjaan. Saya rasa itu alur yang sangat umum dan wajar, tidak ada yang istimewa. Dan tahun 2017 ini, saya sedang menjalani alur berikutnya, alur yang tidak saya tahu pangkal dan ujungnya. Berada di masa kritis sebuah penantian, mendamba seorang pendamping hidup yang kelak akan menemani di sisa hidup saya. 

“ Kepadamu, Ia. Aku tidak tahu apakah aku sedang jatuh cinta atau hanya sekedar menerka-nerka bahwa ini cinta. Yang aku tahu, aku sudah terlalu tua untuk bermain-main dengan patah hati. Sementara ia yang ku nanti, belum nampak di sini.”
Sasti (dalam Aksara Sa)

Bermain teka-teki dengan bahasa sastra selalu mendamaikan, setidaknya bisa menjadi obat pereda kegelisahan dan berkecamuknya pikiran dari jeratan tuntutan, tekanan, perhatian dan drama percintaan. #alah 

Setiap kali undangan bertebaran di meja kerja, deretan pertanyaan “kapan?” turut serta meramaikannya dan apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita lajang seperti saya, selain tersenyum penuh tatapan nanar sembari menahan luka tersayat-sayat. #alah

Sebenarnya saya punya 3 jawaban alternatif, yang sering saya praktekkan ketika dalam keadaan terancam, berikut bisa menjadi referensi: 
1. Mohon doanya.
2. Insya Allah secepatnya. (sembari berkata dalam hati : kalau calonnya sudah datang)
3. Doain ya.

Orang-orang memang suka begitu, memberikan teror pertanyaan dengan sesuka hatinya. Mereka tidak berpikir jika pertanyaan itu adalah ancaman yang sangat menakutkan, terutama bagi seorang lajang seperti saya. #alay

Keputusan menikah bukanlah persoalan yang mudah, pergerakan umur mengintai dan calon pendamping belum ada, ditambah lagi teror-teror pertanyaan; “kapan menikah”, berhamburan tidak karuan. Inilah lingkungan yang saya namai dengan under pressure. Ternyata selain tuntutan pekerjaan ada juga tuntutan sosial yang menghendaki para gegadis untuk bersegera menikah, terutama para ibu-ibu. Mungkin agar ketenangan rumah tangga mereka tidak terusik oleh sapaan manis para gegadis. (alah! keliatan antagonis banget ya nalar berpikirnya. heheh) 

Sebenarnya bukan itu alasannya, karena memang kesehariannya bergaul dengan ibu-ibu maka tidak mengherankan jika yang lebih sering bertanya adalah mereka. 

Tetapi setelah merenungkannya, mereka tidak sepenuhnya bersalah atas kegelisahan dan derita para lajang. Justru karena sumbangsih desakan dari pertanyaan yang mereka lontarkan itulah, saya jadi berpikir tentang konsep “ngumumi”, bahwa ketika kita sudah mapan atau mampu secara spiritual, fisik, emosional dan materi seyogyanya kita menyegerakan untuk menikah. Permasalahannya hanya satu; dengan siapa?

Inilah tugas terberat kami, para calon ibu yang kelak harus terlibat penuh dalam membangun peradaban. Kami harus memastikan anak-anak kami, benar-benar mendapatkan ayah yang terbaik. Sosok ayah yang taat pada agama, penuh cinta kasih pada keluarga, bertanggungjawab, cakap dalam bermasyarakat dan yang paling utama: berilmu. Berharap jodoh yang baik, maka kita juga harus memperbaiki diri. Inilah yang berat, tetapi semoga kita kuat menjalaninya. 

“Ya Allah istiqomahkan kami dalam taat kepada-Mu dan teguhkanlah hati kami untuk senantiasa memperbaiki diri.”

Jika suatu hari nanti cinta itu menujuku,
Aku ingin cinta yang damai dan mendamaikan,
datang dengan cara dan jalan yang benar.
Yang pada akhirnya,
cinta itu akan mengantarkanku pada-Nya. 


Salam,
dari aku yang sedang memantaskan diri sembari menantimu.

Selasa, 07 Februari 2017

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

Belakangan ini, mengungkit-ungkit hubungan posisi duduk dengan prestasi anak di sekolah, entah kenapa cukup menggoda dan menyita perhatian saya. Mengamati dan menelisik keseharian mereka bersama teman sebangkunya di sekolah. Ada kecenderungan mereka duduk di bangku yang sama dengan orang yang sama dan hampir di semua kelas begitu, meskipun ada satu atau dua yang tidak begitu. Mungkin ini suatu kondisi yang biasa dianggap lumrah dalam keseharian kita, karena memang manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kenyamanan. Jika dia sudah mendapatkan rasa nyaman, maka akan terasa aneh ketika ia menghadapi situasi dan keadaan yang berbeda. Saya menyebut kondisi seperti inilah yang dinamai culture shock. Saya pun pernah mengalami itu. Ketika kita sudah nyaman dengan seseorang tetapi waktu berlalu, sesuatu terjadi dan keadaan berubah, pasti ada rasa tidak terima dengan perubahan itu. Saya rasa itu hal yang manusiawi, selama kita masih bisa kembali ke alur yang semestinya. Life must go on!

Suatu ketika saya mencoba mengubah pola duduk mereka yang biasanya di belakang, saya minta untuk maju ke depan. Ada yang berbeda. Antusias dan perhatian mereka tidak sekosong seperti pada saat mereka duduk di belakang, bahkan pola tingkah mereka bisa terkontrol dengan lebih baik, karena biasanya mereka adalah komplotan trouble maker di kelas. Salah satu alasan saya melakukan hal itu adalah untuk mengkondisikan kelas agar situasi belajar lebih mendingan, mengingat karakteristik anak-anak era milenium yang aktifnya luar biasa.

Pekan lalu saya mengadakan uji kompetensi aksara Jawa. Pada saat itu saya memilih tipe ulangan open book, saya tahu pasti bahwa mereka tidak hafal aksara Jawa karena sebelumnya ada kegiatan belajar untuk mendeteksi itu. Di tahun sebelumnya, saya tidak begitu mempermasalahkan kalau mereka tidak perlu belajar mendalam tentang aksara Jawa, karena konsentrasi mereka sudah jelas. Mengingat bahwa latar belakang mereka adalah anak SMK dan saya memaklumi, jika mereka tidak begitu tertarik dengan hal semacam itu. Tetapi, di tahun ini saya merasa memiliki tanggungjawab untuk andil dalam melestarikan budaya Jawa. Saya memutar otak bagaimana supaya anak-anak ini akrab dengan aksara Jawa. Saya jelaskan dari awal; dongeng Aji Saka, Aksara Nglegena, Sandhangan, Pasangan, Aksara Murda, Aksara Rekan dan Aksara Swara. Saya mencoba menyampaikan sejauh apa yang saya ketahui. Dan pekan lalu adalah puncaknya, menguji apakah mereka paham apa yang saya katakan. Ada kekhawatiran dalam diri saya bahwa mereka hanya akan melakukan kesia-siaan dengan mengerjakan seingatnya, karena nyatanya mereka tidak hafal aksara-aksara itu. Kekhawatiran itu disempurnakan oleh skandal percontekkan selama ulangan dan saya paling membenci itu. Maka saya memutuskan untuk melakukan ulangan open book, meskipun ada beberapa kelas yang menghendaki close book

Saya cukup puas dengan proses ulangan yang mereka ikuti, setidaknya saya tidak menemukan anak yang berbisik atau bertanya kepada temannya, karena mata saya memastikan itu. Saya lebih menyukai jalannya ulangan daripada nilai yang mereka dapat, meskipun pasti akan jauh lebih menyenangkan jika keduanya sama-sama memuaskan. Tentang hasil? Selalu ada pemakluman untuk itu. Paling tidak, ketika mereka mengerjakan sendiri cukup bagi saya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka. Dan hari itu juga saya melawan, posisi tidak menentukan apa-apa pada saat ulangan. Tetapi selama proses, itu sangat menentukan. Ya, karena manusia butuh kenyamanan dan kenyamanan itulah yang menjadi jembatan proses menuju hasil.


Senin, 06 Februari 2017

Nekuk Ilat

"Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang menjadi kepeduliannya" 
(John Gardner)

Kepada hati yang merindukan kedamaian, maka menulislah!
Ada pepatah Jawa bagian barat yang mengatakan bahwa : "the palest ink is better than the best memory"

Baik, mari berselancar mengudari simpul apa yang akan saya tulis.

13rd of February, 2014 was the second time for me to presented about responsibility reporting to the public, especially to others people in Javanese Programme. I did not really know how to make sure the others about what I do as long as I was to be a driving-head in PENA division. It was so awkward moment, right?!

You know what, I had to speak krama Javanese and you can imagine how is so hard for me to speak well. Yes, I was so nerveous! But I give you my word if I efforted as much as I can.

In the middle of my presentation, I gave up and said "I'm really sorry can't speak krama Javanese fluently". The audiences looked at me like "oh poor you!"

Finnally, I continued my explanation about the report with Indonesian language. It's so miserable, right?! You studied Javanese, but you can not speak with it.



Kira-kira begitu alur cerita ini bermula. Maaf tulisan bahasa Inggris saya berantakan, setidaknya ini adalah usaha saya untuk belajar bahasa Inggris (lagi). Yang sebenarnya, juga bisa dibilang ini adalah ancang-ancang / pasang kuda-kuda untuk tes TOEFL besok hari sabtu.

Menurut saya, tetap bernama cacat jika saya yang seorang pendalam ilmu bahasa Jawa, tidak bisa berbicara Bahasa Jawa krama standar halus. Bagi saya, ini adalah aib! Tapi, ya sudahlah!

Beberapa hari yang lalu saya mendapat keluh kesah dari sahabat kelas saya, dia berkata : " kenapa ya win, aku masih susah banget menggunakan kata 'sampeyan' dibanding kata 'kowe'. Rasanya itu susah banget!"

Sebenarnya, kalau saya mau jujur, saya pun merasakan hal yang sama : susah banget!

Mengajak hati untuk mengurai apa yang juga saya rasakan, lalu dengan hati-hati saya mencoba menjabarkannya perlahan : "saya pun begitu! mungkin karena tingkat kesombongan kita sangat tinggi, sehingga untuk bersikap rendah hati kepada orang lain, kita merasa sangat berat, bahkan hanya untuk mengindahkan sapaan 'kowe' menjadi 'sampeyan' sekalipun "

Di lorong C14 FBS, tepatnya perjalanan kami menyambangi mata kuliah sanggar sastra, sebelum itu setidaknya kami sempat bersepakat bahwa : kowe adalah anak lutung dan apa pantas kita melutung-lutung kan anak orang?

Ada rasa sakit, ketika mendapati seorang anak yang harusnya memberikan hormat kepada yang lebih tua, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Menengok keseharian saya di rumah, bahkan betapa susahnya untuk membiasakan diri berbuat demikian. Anehnya, yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka (kaum tua) berterima saja dengan apa yang kami lakukan. Ironis?!

Saya berfikir bahwa semakin jarak itu jauh dan intensitas bertemu yang jarang, maka rasa pekewuh untuk menjadi lebih penyantun, sangat terfasilitasi.

Contohnya, ini: ketika di rumah, Kanjeng rama nimbali putrinipun (kula) : " ndhuk, tumbaske aqua botol neng kulon kana. gek cepet, gelak arep digawa neng ngalas".
Putri (kula) : nggih pak, mangkih riyin. (itu pun menjawabnya dari kejauhan sambil teriak pastinya, sementara menurut etika, harusnya mendekat dan lembutkanlah suaramu!)

Ketika di perantauan, ingkang putri miwiti atur : " bapak, lare sehat, arta telas"
Setidaknya, saya memang harus bersyukur, dipertemukan dengan dosen-dosen yang luar biasa. Mengajarkan banyak hal dan sangat mencintai ilmu.

Ajining raga, saka busana,
Ajining awak, saka tumindak,
Ajining dhiri, saka ing lathi.


Saya tidak bisa bercerita banyak hal tentang ni'mat ilmu yang luar biasa ini, maka benarlah firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 109 : "Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."

Sajak Pengantar

Aku pilihkan sajak pengantar
sebagai obat penawar
aku yang diam membujur
sudah berkali jatuh tersungkur
sembari bersenandung lirih
berharap luka itu memulih

Setiap kehilangan
adalah menyakitkan
terlebih yang sengaja tak berpamitan
pergi begitu saja
membisu tanpa pesan dan kata

Aku benci setiap kali
ia tiba-tiba kembali
meramu kata dan berkisah cinta semaunya
tanpa memberikan penjelasan
pada hati yang bertahun ia diamkan.

Setidaknya jadilah seperti petang
yang ketika beranjak malam,
ia selalu memberi pertanda
kaki langit berwajah semburat
yang terubung warna gelap,

Padamu, aku ingin berakhir.
tapi kini, inginku bersikeukeuh untuk mengakhiri,
hingga akhirnya kita adalah saling mengakhiri,
tanpa merasa dihianati.


Minggu, 05 Februari 2017

Jadilah Obyektif

Adanya hak memilih, bukan berarti kita boleh berlaku tidak adil dalam memberikan informasi atau pun pemberitaan sejenisnya. Coba kita renungkan, ketika seseorang sudah memiliki tendensi terhadap sesuatu, maka hal yang akan dilakukan adalah mengupayakan berbagai tindakan untuk mengunggulkan tendensinya. Dengan kata lain, upaya itu adalah untuk pembelaan sekaligus menyelamatkan tendensi tersebut dari stigma negatif yang terlanjur berkembang di masyarakat. Sadar atau tidak, seringkali kita memilih tidak peduli terhadap dampak dari apa yang kita lakukan, mungkin saja akibat dari dukungan dan motivasi yang kita berikan justru menimbulkan gap (jurang pemisah) antara idola yang kita usung dengan kawan mainnya (yang mungkin kita juga mengenalnya) . Ditambah lagi, dukungan itu disampaikan secara subjektif, artinya kemungkinan untuk mendukung idola lain sangatlah tidak mungkin, sebab kita sudah terlanjur menghibahkan diri untuk condong ke salah satu idola. Hal ini akan berdampak buruk pasca pemilihan itu selesai, karena walaupun sudah ditetapkan yang terpilih misalnya X, maka simpatisan kubu Y yang kalah tetap akan menjadi lawannya. Setiap kali X tersandung masalah ketika menjalankan project-nya, maka simpatisan kubu Y akan terus menerus menyerang bahkan menjatuhkan, dan ini bukan pendidikan politik yang baik. Seharusnya, ketika pemilihan itu sudah selesai maka kedua kubu harus saling mendukung siapapun yang terpilih, tetapi sayangnya harapan masih belum mau berdamai dengan kenyataan. Lihatlah negri kita!

Ketika kita merasa yakin dengan pilihan kita, seringkali kita bangga untuk mendeklarasikannya, mungkin dengan harapan bisa menarik massa yang lebih banyak agar sama-sama mendukung pilihan kita. Setelah melakukan deklarasi, kita akan intens berkoar-koar tentang semua sisi positif atau kelebihan dari pilihan kita, dan sangat kecil kemungkinan kita akan menampilkan sisi kekurangannya. Mengingat tujuan utama kita adalah menampilkan idola kita tanpa cacat dan bahkan mungkin tanpa dosa, sehingga goal-nya akan banyak simpatisan yang mendukung pilihan kita, maka inilah yang disebut dengan istilah kampanye. Beberapa waktu terakhir ini, sedang gencar dilakukan kampanye baik itu pemilihan wakil mahasiswa maupun pilkada di beranda facebook. Ada yang menarik, bahwa pesta demokrasi ini masih disambut meriah oleh penggemarnya. Terbukti dengan adanya sekelompok orang yang mendeklarasikan dirinya memilih salah satu idola tertentu. Dan konsep deklarasinya masih tetap sama, persis seperti apa yang sudah dijelaskan di atas. 

Menyoroti salah satu asas dari pemilihan umum yang dulu (?) sempat diterapkan di negara kita: LUBER JURDIL (Langsung, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil), asas Rahasia; bahwa memang sebaiknya hanya cukup kita yang tahu siapa yang menjadi pilihan kita, persoalan orang lain mau memilih apa, itu urusan mereka. Asas ini mengajarkan tentang bagaimana kita menjaga perasaan sesama agar tidak terlukai, barangkali ada yang tidak sejalan dengan kita. Perbedaan ideologi, prinsip, visi dan misi adalah hal yang biasa, tinggal bagaimana kita memilih payung yang sama untuk saling meneduhkan. 

Tidak ada hak bagi kita mempengaruhi bahkan memaksa orang lain untuk ikut serta memilih idola kita. Kewajiban kita terhadap sesama hanyalah mengajak teman-teman yang lain agar turut berpartisipasi dalam pemilihan. Sayangnya, seringkali kita berpikir bahwa pilihan kitalah yang terbaik, seolah-olah kita merasa bahwa kitalah penyelamat yang diturunkan dari langit, tetapi bukankah ada Allah Yang Maha Mengetahui yang terlihat maupun yang tiada. Di jaman serba ada ini, air comberan bisa diubah menjadi air minum, hanya sebab tampilan. Begitu pun dengan aksi kampanye, simpatisan berbondong-bondong membuat amunisi agar idolanya semakin dikenal banyak orang. Disulaplah ia menjadi tokoh rupawan nan bijaksana, walaupun memang kenyataannya tidak jauh berbeda atau justru sebaliknya. Kita semua adalah pewarta, bertanggungjawab atas tersampaikannya berita yang benar kepada khalayak. Setidaknya, jadilah pewarta yang adil, menyampaikan berita yang tidak berat sebelah sebab di luar sana, banyak orang yang masih awam tentang apa yang kita sampaikan. Jangan sampai kecintaan dan kebencian terhadap suatu kaum, menjadikan kita berlaku tidak adil. Menjadi di tengah, karena dengan begitu kita akan bisa melihat mana yang kurang dan mana yang berlebihan. 


***
Selamat berpesta demokrasi, adik-adik kampus. Izinkan saya tidak memihak salah satu di antara kalian, karena saya percaya kalian semua adalah pemuda-pemuda yang hebat, tangguh, bercita-cita tinggi untuk Indonesia. Jadilah ksatria dalam bertanding dan damailah dalam kebersamaan. Maafkan kakak-kakakmu yang telah meninggalkan benih-benih ketidakdamaian di persahabatan kalian. Hari ini bebaslah, belajarlah dan berkawanlah! 

Tertanda : dari kakakmu yang mencintai perbedaan 



Teman Setia


Engkau mengingatkanku untuk mencintai perdamaian,

Engkau mengutuk amarahku, sebab menurutmu aku sudah tidak lagi bisa mengendalikannya,

Engkau berkata kepadaku: “Apakah selama ini engkau menyembunyikan kebencian yang terlalu dalam itu, dariku?”

Engkau membantahku: “Kau bilang semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi kenapa agamamu melarangmu menjadikanku sebagai teman setiamu?”

Hari ini, izinkanlah aku untuk menyampaikannya kepadamu, bahwa memang ada perbedaan di antara kita. Perbedaan yang selamanya akan membuat kita tetap berbeda. Kita memang berteman dan saling menghormati keyakinan kita masing-masing. Kamu beribadah dengan cara agamamu dan aku beribadah dengan cara agamaku. Itulah aturannya, dan bukankah sudah sangat lama kita memahami ini?! Kita tidak pernah memperdebatkan masalah ini, karena kita paham batasan toleransi dalam beragama. Kita saling menghargai untuk sama-sama taat pada ajaran agama kita masing-masing. Berkali ku katakan kepadamu, bahwa dasar hukum dalam agamaku adalah Al-Qur’an dan Hadist. Apapun yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan Hadist, maka aku wajib untuk mempelajari dan menjalankannya.

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengatakan bahwa jangan mau dibohongi dengan Surat Al-Maidah ayat 51. Kau harus tahu, bahwa aku terluka dengan pernyataan itu. Al-Qur’an yang aku baca dan pelajari setiap hari, yang menjadi pedoman hidupku, disebut sebagai alat untuk berbohong. Bisakah kau membayangkan rasa sakitnya? Aku rasa kau tidak tahu rasa sakitnya seperti apa, sebab kau tidak merasakannya. Tetapi mungkin rasa sakitmu berbeda. Kau merasa bahwa agamaku menyimpan kebencian yang teramat dalam kepada agamamu karena aku tidak diizinkan menjadikanmu sebagai teman setiaku. Menjadikanmu sebagai teman setia saja tidak boleh, apalagi memilih dari golonganmu menjadi pemimpin bagi kami.

Yang harus kau tahu, Tuhanku tidak pernah mengajarkan kebencian, tetapi Dia hanya memerintahkan untuk tidak menjadikan dari golonganmu sebagai teman setia bagiku. Ada kisah-kisah terdahulu yang harus menjadi pelajaran bagi kami, dan itu adalah perintah dari Tuhanku, maka aku harus mematuhinya. Kau tahu, sekalipun aku punya keluarga, sahabat, kerabat dan bahkan kamu (yang ku sebut sebagai temanku) ketika aku merasa sangat terpuruk, tidak ada yang mampu setia mendamaikan hatiku, kecuali Al-Quran. Sebab kalian punya urusan masing-masing. Al-Quran adalah penyembuh ketika aku terpuruk. Al-Quran adalah petunjuk ketika aku tersesat dan merasa sendiri. Al-Quranku adalah pembeda antara yang haq dan yang batil. Al-Quran adalah perantaraku untuk berbicara kepada-Nya. Dan Al-Quran adalah sebenar-benar teman setiaku, bukan ayah ibuku, saudara-saudaraku, atau bahkan kamu! Dan sekarang, apakah keliru, jika aku merasa tersakiti sebab ada yang mengatakan Al-Quranku dipakai untuk berbohong?! Tidak pernah sekalipun Al-Quran membohongiku. Apa yang Dia katakan dalam Al-Quran adalah BENAR! Sungguh, Tuhanku tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

Ini bukanlah tentang kebencian, bukan tentang SARA. Ini adalah aturan akidah dalam agamaku, yang harus diperjuangkan. Kehormatan agamaku telah dihina, maka aku wajib untuk membelanya! Bahkan untuk tanah air pun, kita diajarkan untuk mengorbankan jiwa dan raga, darah! Apalagi untuk agama Tuhanku, Dzat yang telah menganugerahkan negeri yang indah ini? Tuhan yang aku sembah dengan apa yang kamu sembah, itulah yang menjadikan kita berbeda. Aku tidak memaksamu untuk menyembah Tuhanku, tetapi biarkan aku untuk taat kepada Tuhanku. Inilah batas toleransi di antara kita. Jika itu berkaitan dengan akidah, maka aku diperintahkan membuat batas pembeda di antara kita, hitam dan putih.

Yang harus kau tahu, bahwa aku bersama saudara-saudara seimanku tersakiti dengan perkataan seseorang yang menyebut bahwa Al-Quran digunakan untuk membohongi. Kami terluka oleh satu orang yang telah menghina Al-Quran dan apakah tidak boleh kami meminta untuk hukum ditegakkan bagi orang yang telah menistakan agama? Kau dan aku adalah saudara, sebab kita tinggal di tanah air yang sama. Kita tidak menghendaki perpecahan atau terusiknya persatuan. Kita memiliki dasar negara yang sama, Pancasila. Di sana tercantum 5 sila. Sila Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.

1. Ketuhanan : Apakah tidak boleh kami membela kehormatan agama Tuhan kami?

2.Kemanusiaan : Apakah kami tidak boleh sakit hati, ketika AlQuran (pedoman hidup kami) dianggap sebagai alat berbohong?

3. Persatuan : Apakah tidak boleh kami menginginkan persatuan dan kedamaian untuk negri ini yang sempat terusik hanya karena satu orang saja?

4. Kerakyatan: apakah tidak boleh kami sebagai rakyat meminta untuk didengar aspirasinya? 5. Keadilan : apakah tidak boleh kami menuntut pelaku penistaan agama diproses secara hukum yang jujur dan adil?

Kita memang berbeda. Tetapi, apakah engkau bukan saudaraku? Kita adalah saudara se-tanah air dan kita harus bersatu untuk menjaga keutuhan persatuan dan perdamaian negeri kita. Negeri ini dibangun dengan perjuangan dan pengorbanan nyawa, maka kita juga harus mempertahankannya dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Tidak ada yang bisa menggugatnya, sebab itulah aturan mainnya. Negeri ini adalah negara yang berdasarkan atas hukum. Ketika agama temanmu ini dinistakan oleh seseorang di negeri ini, maka apakah kami tidak boleh memberikan efek jera padanya sebab ini sudah sangat melampaui batas. Aku harap kita tetap menjadi pondasi, gerbong-gerbong pengawal masa depan di negeri ini. Kita memang berbeda, tetapi kita tetap bersama membangun negri yang dititipkan Tuhan kepada kita.

"Seperti bunga yang boleh berwarna berbeda dalam satu dahan, tetapi akan tetap terlihat indah "


Salam,
Dari aku yang menyayangimu sebagai saudaraku sesama makhluk.

Winwin Ada Ya
Yogyakarta, 11 November 2016 pukul 09.42 WIB


Kadhung Cidra


Wujuding lelayang kang kasimpen ing sajeroning kotak abang, saktlerap kedawa-dawa ngangen-angen sing wis kedaden. Nyenyet, mung ana lelamun sing tumindake kaya brambang abang, bisa gawe mrebes mili ngrungkep sedhakep tangan. Suara jangkrik sing biasane kudu ana, sinulih udan deres sing nambah-nambahi abot rasaning rasa sing kadung nggondheli.

Krekat kreket… Obahing uwit lan suara godhong sing pating sesamplukan, gawe giris. E lha gene, sing isih melek mung Rasti. Ibune sajak wis katrem ana ing impen-impen. Omah ing sapinggiring alas, dirubung wit-witan sesandhingan karo tangga teparo sing mesthi wis padha ngglethakke awak merga lungkrah bubar nyambut gawe sedina muput.

Mbaleni lelayang sing tinata rapi lan ora ana sing untel-untelan, nadyanta cacahe mung siji. Seprana seprene ngenteni wangsulan kang dadi pangajab, rasane kaya ngudhali ati dhewe. “Layang kangenmu, Mas Adi”. Iseping madu, rasane sepa. Sawangane manis, ora ngertiya yen rasane kaya keiris lading sing mingis-mingis.

Sinambi sesendheran mbukaki tumpukan layang, jebule Rasti ketiban ngantuk sing ora bisa tak tahan. Aku keturon, mbuh wiwit jam pira. (Rasti )

Wanci jumedhuling srengenge ing sisih wetan, jago kluruk pating rebutan. Ora nyana, wiwit mau bengi Rasti turu ana ing ruang tamu kanthi nggawa layang saka Ardi kang isih ana ing tangan sisih tengene. Ngerteni kahanan kaya mengkono, Ibune kaget lan kanthi alon-alon, nguculke layang kang isih gumejeng ing tangan tengene Rasti. Dioyak rasa pengen ngertine, geneya turu we ndadak nggujengi layang, jan-jane layang apa lan saka sapa.

Bareng pungkas anggone maca layang mau, Ibune banjur ngelus rambute anakke. Geneya seprana-seprene Rasti isih nyimpen rasa tresna kang jero karo Adi, bocah lanang sing nggawe sengsem anake setaun kepengker. Kerasa ana sing nggugah, Rasti banjur mak gregah melek. Bareng thingak-thinguk nggoleki, jebul Ibune wis sumingkir menyang pawon. Wedi mbok menawa Rasti ngerti dhewekke lancang maca layang kang tumujune kanggo Rasti.

Ibune Rasti pancen prigel lan cekatan, dadi wong wadon kang kudu nguripi awake dhewe karo anake. Wis genep 8 tahun, Rasti lan ibune ditinggal mati karo bapakne Ratri. Urip saomah wong loro, pancen rasane nyenyet. 

“ndhuk, sarapan dhisik” 

“nggih bu” 

Nyawang pasuryaning anakke, sajak lungkrah lan ora duwe greget. 

“ndhuk, ana apa? Kok katon susah ora kaya biasane? 

Sanadyanta, ibune kerasa ngerti yen anake lagi nandhang susah mesthi amarga bubar maca layang-layang saka nggone Ardi mau bengi. 

“ah, boten napa-napa” 

“hmmm… yen ngono, ndang sarapan dhisik” 

Ana ing ndhuwur meja, wis thirik-thirik panganan jumejer, mung kari njupuk lan ngicipi. E lha, jenenge we lelakon, nalika bebarengan njupuk piring, tangan kiwane nyampar gelas kang ana ing sandhinge. Krompyang, pecah! 

Ibune maktratap ana ing dipan kang biasa kanggo njahit. Tangi lan marani anakke sing lagi njupuki pecahan beling ing sangisoring meja, “Rasti, ana apa?” 

“menika kala wau, kula nyampar gelas , Bu. Nyuwun pangapunten” 

Ngadhepi anake kang lagi susah keranta-ranta, Ibune banjur ngewangi njupuki pecahan gelas. 

“ndhuk, ndak iya apa sing maraki sliramu kok lungkrah? Apa ana gayutane karo layang-layang sing mbok waca mau bengi? 

Kaget menawa ibune wis ngerti. Rasti banjur sumaur gregah. “ibu?!” 

“ibu njaluk pangapura, yen mau ibu maca saperangan layang sing mbok gujengi” 

Tambah ora karuan kahanan atine, yen keprana ibune wis ngerteni lelakon sanyatane. Kanthi praupan bingung arep nyauri apa marang ibune. 

“ndak iya ndhuk, sliramu isih duwe tresna marang Adi, kena ngapa kok sesulih ganti pepacangan karo Hari?” 

“kula boten mangertos kedah wangsulan napa, Bu. Kula nggih bingung” 

“geneya, sejatine anggonmu tresna kuwi marang Adi, kena ngapa mbok peksa-peksa kudu Hari” 

“inggih Bu, kula taksih tresna sanget marang Mas Adi” 

“ning kena ngapa, sliramu kudu milih Hari. Ora sumeleh ndhuk anggonmu ngangen-angen. Bab apa wae, yen mula bukane amarga kepeksa, ora becik, ndhuk”. 

“dhuh ibu, kula kedah kados pundi. Kula menika wanita, Bu. Lak inggih boten limrah nggujeki tiyang kakung ingkang dereng mesthi dados kakungipun” 

“iya ndhuk, sliramu ora salah. Yen ngono, tali asihmu karo Hari bakal terus to, ndhuk?” 

“inggih, Bu. Pangajab kula, nadyanta samenika kula taksih dereng saged mindhah rasa tresna kaliyan Mas Adi kangge Mas Hari, ananging kula bakal saestu njagi menika” 

“yen ngono, ndhuk, ibu mung manut kowe. Bot repote mengko sabisa-bisane dipikul bareng, aja mung mbok rasake dhewe”. 

“inggih, Bu” 

Ora let suwe bubar anggone ngudarasa, keprungu suara wong lanang sing uluk salam ana ing njaba. 

“assalamu’alaikum” 

“wa’alaikumsalam” 

Rasti mangsuli sinambi mbukake lawang kang isih kancingan. Jebul lelanang sing teka kuwi Hari. 

“mas Adi?! (Rasti kaget) 

“dhik Rasti” 

Adi gage ngrungkep awake Rasti kang kaku njejejer ana ing ngarepe 

“aku kangen banget, dhik” 

Kaya digugah saka impene, ambegane Rasti ora karuan. Dheweke namung bisa meneng lan ora bisa nolak rasa kangen kang uga dheweke pendhem setaun suwene. 

“dhik, sliramu ora kena apa-apa to?” 

“geneya, layang-layangku ora mbok wangsuli. Ana apa?” 

Pitakone Adi ndludur ora kena dipenggak. 

“mas, mangga pinarak mlebet rumiyin” 

“dhik, sajake tekaku mrene kok malah gawe susah sliramu. Apa sliramu ora kangen karo aku?” 

Isih kaget ndenangi tekane Adi ana ing ngomahe, Rasti bingung kudu muni piye. 

“dhik, apa tenan sliramu wis ora tresna karo aku” 

Nguyak wangsulan kang ditunggu-tunggu saka suarane Rasti. Adi nggujengi tangane Rasti. 

“Mas…… “ 

Kaya-kaya suara kang ana ing sajeroning gulu ketenggel, ora bisa muni. 

“Mas Adi, kula taksih tresna sanget marang njenengan” 

Krungu wangsulane mengkono, dheweke banjur ngrungkep awake Rasti. 

"dek, aku uga tresna banget marang sliramu. Geneya, awakdhewe ora gage menyang nggone pak naib? Ayo mangkat saiki, ben awakdhewe diijabke" 

"njenengan niku sembrana!" 

"lha piye? wong wis padha-padha manteb karo rasane dhewe. iya to?" 

"boten, Mas! Kula pancen taksih tresna panjenengan. Nanging, kahanane pun beda" 

"apane sing beda?" 

............................................................................... (ana candhakke)



Menika minangka TUGAS MATA KULIAH SANGGAR SASTRA.