Menjadi biasa dan mengikuti kebanyakan orang ternyata cukup membosankan, sebab pribadi yang tadinya independen dan bebas dari intervensi, mau tidak mau harus mengikuti pendapat orang banyak, yang pada akhirnya membentuk karakter “pembeo”. 2 tahun ini, saya mencoba bermasyarakat dengan normal (menurut banyak orang). Menjalani hidup seperti itu, tentu sangat bertolakbelakang dengan karakter saya, tetapi mau tidak mau saya harus menjalani itu. Sebab selain tuntutan suasana kerja, hal itu juga saya butuhkan untuk bisa memberikan contoh kehidupan yang normal bagi anak didik saya. Tidak mungkin saya bisa mengajarkan “karyènak tyasing sesami” (menjaga perasaan orang lain), jika saya sendiri justru menyingkir dari pergaulan. Bukan berarti saya tidak suka bergaul, hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan kerumunan orang dan memperbincangkan orang lain. It’s not my style. Tentu tidak semua pergaulan begitu, hanya saja itu yang saya alami setiap berkumpul dengan kawan-kawan saya.
Pada tahun 2015, saya akhirnya menjalani ; target menyelesaikan skripsi, wisuda dan berburu lapangan pekerjaan. Saya rasa itu alur yang sangat umum dan wajar, tidak ada yang istimewa. Dan tahun 2017 ini, saya sedang menjalani alur berikutnya, alur yang tidak saya tahu pangkal dan ujungnya. Berada di masa kritis sebuah penantian, mendamba seorang pendamping hidup yang kelak akan menemani di sisa hidup saya.
“ Kepadamu, Ia. Aku tidak tahu apakah aku sedang jatuh cinta atau hanya sekedar menerka-nerka bahwa ini cinta. Yang aku tahu, aku sudah terlalu tua untuk bermain-main dengan patah hati. Sementara ia yang ku nanti, belum nampak di sini.”
Sasti (dalam Aksara Sa)
Bermain teka-teki dengan bahasa sastra selalu mendamaikan, setidaknya bisa menjadi obat pereda kegelisahan dan berkecamuknya pikiran dari jeratan tuntutan, tekanan, perhatian dan drama percintaan. #alah
Setiap kali undangan bertebaran di meja kerja, deretan pertanyaan “kapan?” turut serta meramaikannya dan apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita lajang seperti saya, selain tersenyum penuh tatapan nanar sembari menahan luka tersayat-sayat. #alah
Sebenarnya saya punya 3 jawaban alternatif, yang sering saya praktekkan ketika dalam keadaan terancam, berikut bisa menjadi referensi:
1. Mohon doanya. 2. Insya Allah secepatnya. (sembari berkata dalam hati : kalau calonnya sudah datang)
3. Doain ya.
Orang-orang memang suka begitu, memberikan teror pertanyaan dengan sesuka hatinya. Mereka tidak berpikir jika pertanyaan itu adalah ancaman yang sangat menakutkan, terutama bagi seorang lajang seperti saya. #alay
Keputusan menikah bukanlah persoalan yang mudah, pergerakan umur mengintai dan calon pendamping belum ada, ditambah lagi teror-teror pertanyaan; “kapan menikah”, berhamburan tidak karuan. Inilah lingkungan yang saya namai dengan under pressure. Ternyata selain tuntutan pekerjaan ada juga tuntutan sosial yang menghendaki para gegadis untuk bersegera menikah, terutama para ibu-ibu. Mungkin agar ketenangan rumah tangga mereka tidak terusik oleh sapaan manis para gegadis. (alah! keliatan antagonis banget ya nalar berpikirnya. heheh)
Sebenarnya bukan itu alasannya, karena memang kesehariannya bergaul dengan ibu-ibu maka tidak mengherankan jika yang lebih sering bertanya adalah mereka.
Tetapi setelah merenungkannya, mereka tidak sepenuhnya bersalah atas kegelisahan dan derita para lajang. Justru karena sumbangsih desakan dari pertanyaan yang mereka lontarkan itulah, saya jadi berpikir tentang konsep “ngumumi”, bahwa ketika kita sudah mapan atau mampu secara spiritual, fisik, emosional dan materi seyogyanya kita menyegerakan untuk menikah. Permasalahannya hanya satu; dengan siapa?
Inilah tugas terberat kami, para calon ibu yang kelak harus terlibat penuh dalam membangun peradaban. Kami harus memastikan anak-anak kami, benar-benar mendapatkan ayah yang terbaik. Sosok ayah yang taat pada agama, penuh cinta kasih pada keluarga, bertanggungjawab, cakap dalam bermasyarakat dan yang paling utama: berilmu. Berharap jodoh yang baik, maka kita juga harus memperbaiki diri. Inilah yang berat, tetapi semoga kita kuat menjalaninya.
“Ya Allah istiqomahkan kami dalam taat kepada-Mu dan teguhkanlah hati kami untuk senantiasa memperbaiki diri.”
Jika suatu hari nanti cinta itu menujuku,
Aku ingin cinta yang damai dan mendamaikan,
datang dengan cara dan jalan yang benar.
Yang pada akhirnya,
cinta itu akan mengantarkanku pada-Nya.
dari aku yang sedang memantaskan diri sembari menantimu.




