Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Pagar Menjadi Tebing

makilah sesukamu, semua yang terkira olehmu, bahwa itu salah, silahkan.... toh, pada nyatanya; pagar yang berdiri itu telah roboh, kini, berubah menjadi tebing yang sangat tinggi, membuatku mengerti bahwa akulah yang paling datar  diantara yang menanjak tajam, memahamkan aku bahwa akulah yang paling berdebu diantara yang mengkilat....  terimakasih, atas ketegasan bahasamu yang menyadarkan siapa aku... berhenti mengagumimu, tidak berarti menghilangkan rasa hormatku padamu...

Ibu dalam Ingatanku, Ayah dalam Bayanganku

"Aku tidak bisa mengenal laki-laki itu,  bahkan untuk menjabat tangannya atau hanya sekedar melihatnya, dayaku seperti suai terikat yang tiba-tiba getas seketika. Bantu aku untuk mengenalnya, Ibu” *** Angin mengibas pelan gundukan gumuk di tepian laut, hamparan luasnya  membentangkan arah timur dan barat; Berdiri seorang diri, yang lebih akrab dikenal sebagai cucu dari seorang pemuka desa pinggiran, yang memilih nyaman dengan suasana malam bersama celoteh jangkrik dan cercauan belalang  kecek  di antara petak-petak sawah yang mengapit gubuk tua milik kakeknya. Jemu dengan suasana kota yang nyaris , hampir pernah menyapa dan memperdulikannya. Bahkan kekejaman kotalah yang membuat ia enggan bersuara dalam hidupnya. ‘Bila pun waktu terulang aku ingin bersama denganmu saja Ibu, tidak pernah ingin beranjangsana kepada dunia yang sering Ibu bilang membuat rindu dalam mimpiku itu. Bohong, semua bohong Ibu. Tidak bisakah, engkau mendengar tangis pijarku kare...

Aku Membohongimu

Aku membohongimu ...... bahwa aku tidak mungkin tidak seperti bank, yang sempat kau sematkan juga dalam dirimu; mengharapkan bunga dari peluh yang sengaja diperjuangkan, Aku membohongimu ...... bahwa aku telah menyediakan hati yang utuh untukmu, tidak mungkin, sementara aku adalah bagian dari hati yang remuk itu, melantangkan bahwa hati ini mampu menyanggamu, itu bohong!!! menyadari bahwa hatimu telah berpaku halus dan lembut, itupun baru sekarang,, bodoh, benar-benar bodoh ...... berantuk dengan hati yang sudah terlanjur mulia, itulah hatimu ...... cukup untuk membuatku paham bahwa tidak ada andil bagiku untuk kembali meminta hatimu, terlalu mulia, telalu halus ...... itulah hatimu, maaf, bila pagimu sempat terbuat berantakan, samarnya pemahamanku tentang hatimu, karena aku belum cukup waktu mengenalimu. *** Seorang kakak yang dengan kesantunannya menasehati adiknya, tanpa harus berkata 'jangan' atau 'tidak' tapi cukup dengan kata 'tafadhol win saja' Kena...

Aku di Masa itu

Benar-benar sedang tersadar bahwa aku merasa asing dengan lingkungan yang aku kenal, pergaulan teman sebaya, masyarakat desa, dan pertemanan di sekolah. Entah apa yang merujuk untuk kesana, seperti terhantam badai dan kemudian terseret ke tengah samudra yang dikelilingi hiu dan paus. Sehari-hari berkerumun dan berkumpul, semenit saja untuk merasa hidup, rasanya sesak. Aku merasa hilang di sana, diantara hal-hal yang harusnya menjadi bagian dari hidup yang ku jalankan. Tapi kenapa, itu tidak berlaku dalam skenarioku. Rumit? Alurnya yang rumit, atau metode adaptasiku yang rumit. masih samar, benar-benar samar. Setiap pagi, yang harusnya aku sambut dengan histeria teriakan do it, win; sepertinya tidak layak pada masa-masa itu, just nonsense! so pity,,,,, Seperti cacing tanah yang menggeliat di tengah gurun pasir sangat tepat di bawah teriknya matahari. Itulah aku di masa itu, yang sudah terlanjur pincang dengan awalan yang salah. *berharap Alloh memaafkan ketulianku tentang nama hati Se...

Pilihan

Hari ini, males aja pengen pulang. Pertimbangannya; pasti capek, udah gitu musti pake ongkos, tugas kuliah numpuk dan belum terjamah satupun. Mending bertapa aja di kos, lagian cucian satu mingguku juga menggunung. Gini nih, kalo ga nurut sama jadwal yang udah di mou in sendiri. Ga ada manajer ga ada yang ngingetin, manajernya ya dirimu itu win. Berantakan karena organisasi? agak setuju sih, tapi itu udah pilihan. hampak banget kalo, kuliah ga ada keribetan-keribetan lain selain tugas. Tapi, resikonya ya harus berbagi, padahal sebenarnya paling sulit itu, kalo harus berbagi; berbagi hati, berbagi idola, tapi nek berbagi cerita ga ya? uang inti di kantong tinggal 50 ribu doang, sms bapak uangnya abis, katanya suruh ngambil aja di ATM. Tapi, entar-entarlah, 50 ribu kayaknya cukup kok buat seminggu, alasan lain yang lebih rumit lagi ATM itu ga pernah diisi, padahal tiap kali kepepet ga pulang, sarannya bapak suruh ngambil di ATM gitu, tapi og ga pernah diisi to. hmmm, orang tua..... ...

Yang Penting Nulis Aja

partikel yang terisolasi itu telah menjadi senyawa, mungkin bisa ramah, tapi juga sebaliknya. mungkin itu juga terjadi padanya dan padaku: aku yang terasingkan itu telah menjadi sendiri, mungkin bisa terlihat, tapi juga sebaliknya. meracau sendiri,  menulis pun ku rasa begitu, autis!!! melihat, menerka, dan kemudian menuduh apa salahnya? apa hebatnya? belum dijelaskan! memahamkan apa yang seharusnya dia tahu, itu terlalu sulit, tapi mereka bilang itu akan mudah, jika kamu mengatakan itu mungkin oyaka? ragu,  tapi itu yang harus dijalankan. 

Mutter

Ia yang memilih buta, jika ketulusannyaa disetarakan dengan lembaran merah, biru yang sering mereka sebut uang; yang rela menjadikan pagi dan siangnya hanya untuk memastikan bahwa prajurit yang ditempanya tak gentar menghadapi teriknya badai dan gemuruhnya perang masa depan.  Pangkuan, dekapan dan pelukan lembutnya memberikan ruh ksatria bagi jiwa muda yang bergegas memijakkan langkahnya untuk bumi yang telah membesarkan namanya. Mendayung arus pergantian generasi dari abad ke abad; siaga mempertaruhkan nyawanya demi beralihnya tongkat peradabann dunia. Srikandi itu, sebutlah ia IBU,

Kesia-siaan

Apa bedanya, aku ini dengan parit-parit kosong di musim kemarau berharap berangan, bertegur sapa dengan air-air itu; tidakkah sama, aku ini dengan air di musim penghujan, berlalu lalang dan tak jarang menjadi kambing hitam atas si banjir, kesia-siaan.......... dimana letak benarnya aku ini? seorang anak kecil, yang dahulunya pemberani tapi sekarang tidak lagi; merdekaku tertali oleh sakitku mungkin sebentar lagi, dan mungkin tidak lama lagi ingin menunjukkan betapa rasa sakit itu ada menyakitkan, tapi, pada siapa? dia? mereka? tidak akan pernah yakin! aku enggan bila harus seperti karbon monoksida; yang nyaman dengan kesendiriannya tapi menjadi seorang polutan, hanya ingin menjadi oksigen, yang bisa bersapa halus dengan paru-paru  yang kemudian akan bercerita tentang anugerah hidup yang Tuhan berikan; tidak banyak, hanya ini.

Untitled

di sini aku bisa melihatmu, walau hanya diterjemahkan oleh sebuah benda datar yang sedang memantulkan bayanganmu; bukan seperti cipratan lumpur di baju, yang sering kau ceritakan itu.... bukan aku lebih tahu darimu hanya aku masih saja berada di belakangmu, untuk apa? hanya untuk menjabat tanganmu; itu cukup;

Ayahku itu

menata warna? aku tak bisa, apalagi menerjemahkan tema, garis, ruang dan volume; teori yang harus ku mengerti ini, membuat aku gerah.. memilih kata? aku tak pandai, apalagi berlika-liku dengan arti yang harus dibedakan, ini membuatku lelah, berkompromi dengan not-not? bukan bakatku, apalagi melagukan nada dengan suara yang memukau, mereka bilang itu, sungguh membuatku semakin gusar, bergerak-gerak dengan jari atau kaki? bukan minatku, apalagi menyertakan hati untuk bermain-main dengannya, Tuhan, tak bisa aku memaksanya. ekspansi ke seberang..... bermanja-manja dengan sel, CH3COOH, mistar? aku tak lulus, apalagi bemesraan dengan ritual laboratorium, jenuhku semakin menjadi, berkelana ke jalur selanjutnya... mengotak-atik angka? kepalaku berjaring, apalagi harus menghitung ini itu, hah, terbentur 1 2 3, peta kebingungan ini belum berhenti, segerombol program ,sofware yang harus ku pahami, turbo pascal membuatku jengkel! apalagi ini,,,, beradu sis...