Selasa, 10 April 2012

Pagar Menjadi Tebing

makilah sesukamu,
semua yang terkira olehmu, bahwa itu salah,
silahkan....

toh, pada nyatanya;
pagar yang berdiri itu telah roboh,
kini, berubah menjadi tebing yang sangat tinggi,
membuatku mengerti bahwa akulah yang paling datar 
diantara yang menanjak tajam,
memahamkan aku bahwa akulah yang paling berdebu
diantara yang mengkilat.... 

terimakasih, atas ketegasan bahasamu
yang menyadarkan siapa aku...

berhenti mengagumimu,
tidak berarti menghilangkan rasa hormatku padamu...

Senin, 09 April 2012

Ibu dalam Ingatanku, Ayah dalam Bayanganku



"Aku tidak bisa mengenal laki-laki itu,  bahkan untuk menjabat tangannya atau hanya sekedar melihatnya, dayaku seperti suai terikat yang tiba-tiba getas seketika. Bantu aku untuk mengenalnya, Ibu”
***
Angin mengibas pelan gundukan gumuk di tepian laut,
hamparan luasnya  membentangkan arah timur dan barat;

Berdiri seorang diri, yang lebih akrab dikenal sebagai cucu dari seorang pemuka desa pinggiran, yang memilih nyaman dengan suasana malam bersama celoteh jangkrik dan cercauan belalang kecek di antara petak-petak sawah yang mengapit gubuk tua milik kakeknya. Jemu dengan suasana kota yang nyaris , hampir pernah menyapa dan memperdulikannya. Bahkan kekejaman kotalah yang membuat ia enggan bersuara dalam hidupnya.

‘Bila pun waktu terulang aku ingin bersama denganmu saja Ibu, tidak pernah ingin beranjangsana kepada dunia yang sering Ibu bilang membuat rindu dalam mimpiku itu. Bohong, semua bohong Ibu. Tidak bisakah, engkau mendengar tangis pijarku karena rasa cemburuku dengan induk ayam yang sempat memastikan anak-anaknya telah layak dilepas dan dibiarkan berkelana. Tapi bagaimana dengan ibuku? meninggalkan aku, di saat aku belum mengerti bagaimana dan seperti apa hidupku ini. Sedang apa engkau di sana ibu? Benarkah Tuhan telah menjagamu??? “

“Dhil, sini le ngobrol sama Simbah mbok jangan di kamar terus!”
“Iya, Mbah sekedhap”. Tutur halusnya cukup untuk menjelaskan walaupun di tengah riuhnya kehidupan kota metropolitan, keramahan seorang ibu untuk mengajarkan bahasa jawa krama benar sungguh adanya.

Fadhil menghampiri Kakeknya yang sedari tadi duduk di atas kursi rotan warna kuning gading yang masih kental dengan nuansa klasik kejawen.

“Dhil, Simbah itu pengen kamu betah di sini, kalau kamu di kamar terus apa ndak suntuk to le? mbok sesekali main ke luar sana, sama temen-temenmu itu”
Seruan kakek itu seolah tidak sampai di telinganya, Fadhil pun lantas menyela dan mencairkan suasana obrolan malam itu.
“Mbah”
“iya, ada apa?”
“Fadhil, pengen ndherek Ibu saja, Mbah”

Serasa hatinya tertembak peluru, runtuh!!! meskipun juga harus menyempatkan untuk menahan hilir air matanya seketika mendengar permintaan seorang anak kecil yang berumur 8 tahun itu. Mencoba tetap hangat dalam senyum dan nasehatnya.

“Fadhil kangen to sama Ibu?
Anggukan dari anak sekecil itu adalah tanda mengiyakan jawaban yang memang telah dipilihnya.
“Ow itu artinya Ibu minta didoakan sama Fadhil, sekarang ndherek simbah ya, kita ke musholla bareng, sholat dan doakan Ibumu di sana”

sibak jalan menyusuri setapak demi setapak menuju musholla yang sering disebut Surau di desa itu. Raut sayu, meratap sendu di hati si Cucu.

“Mbah, apa Ibu marah sama Fadhil?”
“Loh, kenapa? Memangnya Fadhil punya salah apa sama Ibu?
“Fadhil ndak tahu, Mbah”
“Kok bisa, Fadhil berfikir seperti itu? “
“Ibu pergi nggak ngajak Fadhil, Mbah. Harusnya Fadhil ikut saja, di sini juga ndak ada temennya”.
“Dhil, coba dengarkan Simbah, kalau Fadhil ikut Ibu, Simbah nanti sama siapa? Simbah kan sudah tua tinggal sendiri di pinggiran sawah pula, Masa Fadhil tega melihat kakek tingak-tinguk nggak ada temennya.”

Sang Kakek perlahan meraih pundak si cucu , seraya berlutut di hadapan matanya dan kemudian berkata;
“Bukan karena Ibu marah sama Fadhil, tapi karena Ibu pengen Fadhil nemenin simbah di sini”

Kata-kata itu menyusup dan menyeruak tatapan kosong si cucu yang sedari tadi amat tersiksa meratapi kepergian Ibunya.

“Sekarang coba kamu lihat itu” sembari menunjuk ke atas, sebuah pesawat terbang di atap langit yang cekung.
“Simbah pengen lho, Fadhil ngajak Simbah naik pesawat itu, Apa Fadhil ndak mau?”

serasa meringkus duka yang melenggang bebas membawa duka di hati anak kecil itu, beberapa hari ini.

“Memangnya Simbah pengen kemana?”
“Kemanapun asal ada Fadhil yang nemenin Simbah, Fadhil mau kan?”

senyum sejuk itupun didapat sang kakek dari bibir tipis manis, anak laki-laki yang sempat tertidur manja di rahim putrinya 8 tahun yang lalu. Rapat renggangnya masa, membuat Sang kakek belum sempat berterimakasih pada putrinya, yang memberikan cucu sehebat Fadhil Putra Dharma Wiratmaja. Rona bahagia begitu terlihat, meskipun tergores luka yang mendalam bagi seorang Ayah yang putrinya telah berbagi hati untuk laki-laki yang dicintainya.
***
Satu tahun melewati bahtera rumah tangga tidak terasa, dua tahun kemudian merajut cita-cita dan harapan bersama lelaki yang telah mempersuntingnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. terpaan ombak terasa semakin kuat di tengah laut rembang yang membuat guncang ayunan tenang.

“kring, kring, kring” suara telepon rumah berdering
“iya, hallo, selamat malam”
“apa benar, ini kediaman Bapak Dharma Wiratmaja?”
“iya, benar, saya istrinya”
“Mohon tabah ibu, Bapak mengalami kecelakaan di perjalanan pulang dari Kalimantan 2 jam yang lalu”


Sementara pikiran menjadi riuh disebabkan kabar itu, Annisa langsung menutup telfon dan berlari mengeluarkan mobil menuju rumah sakit yang merawat suaminya. Sesampainya di sana, hati Annisa dibuat remuk bertubi-tubi dengan kenyataan bahwa suaminya yang 4 jam tadi menelfon memberi tahu, bahwa ia akan menemani kelahiran anak pertamanya, kini telah tiada. seperti mimpi, tertimbun reruntuhan bangunan setinggi 45 meter di ruang gelap yang begitu sesak.
“Malang benar, nasibmu putriku” jerit hati seorang Ayah yang melihat duka bersemayam di hati putrinya.

Genap di usia 9 bulan yang dinanti-nanti, lahir seorang bayi laki-laki mungil yang sangat tampan. Kehadirannya mampu menggantikan pilu yang merundung di keluarga itu. Tawa dan bahagia mulai terajut kembali setelah beberapa bulan hilang tertikam oleh duka yang mendalam. Bayi suci itu bernama Fadhil Putra Dharma Wiratmaja. Hari demi hari terkumpul, Bayi itupun kian tumbuh dan menjadi lincah, mulai menyapa siapapun yang ada di sekelilingnya dengan isyarat yang memecah haru di antara hingar bingar suara yang belum ia mengerti.

“Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku, tapi apakah mungkin Ibumu ini anugrah dalam hidupmu” Sanjungan seorang Ibu yang sungguh menyayat hati, andai saja bayi kecil ini tahu artinya.

Diantara waktu yang sudah lagi tak bisa terhitung, berapa kali ia harus terbangun membuatkan susu, mengganti alas tidur yang basah karena tingkah manja bayi kecilnya, mulia nian kodrat seorang Ibu. Begitu seterusnya sampai bayi itu menjadi balita yang ceria dan lincah di usia 4 tahun kehadirannya, di bumi-Nya.
Benar adanya, telah tertulis untuk terpanggil menghadap-Nya, sosok Ibu pelipur lara itu kembali kepada Sang Maha Pemilik Hidup, tepat di saat bayi kecilnya menginjak usia 4 tahun. Akibat kanker darah yang bersahabat cukup akrab dengannya 2 tahun belakangan. Duka pun kembali merundung keluarga ini.
“Oh, malang nian hati cucuku ini” ungkapan hati seorang kakek yang mengerti benar duka hati seorang cucu di usia dewasanya nanti.
***
Ingatan Sang kakek pun membuyar, kala melihat cucunya berlari menuju surau, tempat yang akan menyaksikan kerinduan seorang anak kepada kedua orang tuanya.

“Dhil, nanti doakan Bapak juga ya, Bapaknya Fadhil pasti kangen juga lho sama Fadhil.
“iya, Mbah”

Anak kecil itu kemudian meraih air wudhu yang membuatnya nampak begitu bersemangat untuk mengajukan permintaan kepada Tuhan-Nya.

“Ya Alloh, kenapa aku tak kau izinkan saja, sama seperti teman-temanku yang lain. Menyapa pagi yang selalu ku rindu, bersama wajahnya yang sempat menyentuh pipiku, yang selalu saja dengan omelan sorenya, menyuruhku mandi tapi aku tak bersegera memenuhinya. Aku merindukannya, Tuhan. Apa Kau menjaga ibuku dengan sangat baik di sana? O.. ya, Sampaikan juga, salam ku untuk Seorang lelaki yang mereka sebut Ayahku itu, pun seperti yang ibu bilang bahwa dia adalah pahlawan yang memuliakan hidupku. Terimakasih Tuhan, untuk kedua orang tua yang Engkau kenalkan dalam hidupku”

----selesai-----


kosa kata:
suai: tali
belalang kecek : belalang yang biasanya bersuara cek cek cek dimalam hari
tingak-tinguk : menolah- noleh
le: panggilan untuk anak laki-laki di jawa
sekedhap : sebentar
laut rembang: laut lepas
ndherek : ikut

Sabtu, 07 April 2012

Aku Membohongimu

Aku membohongimu ......
bahwa aku tidak mungkin tidak seperti bank,
yang sempat kau sematkan juga dalam dirimu;
mengharapkan bunga dari peluh yang sengaja diperjuangkan,

Aku membohongimu ......

bahwa aku telah menyediakan hati yang utuh untukmu,
tidak mungkin, sementara aku adalah bagian dari hati yang remuk itu,
melantangkan bahwa hati ini mampu menyanggamu,
itu bohong!!!

menyadari bahwa hatimu telah berpaku halus dan lembut,
itupun baru sekarang,,
bodoh, benar-benar bodoh ......
berantuk dengan hati yang sudah terlanjur mulia,
itulah hatimu ......
cukup untuk membuatku paham bahwa
tidak ada andil bagiku untuk kembali meminta hatimu,

terlalu mulia, telalu halus ......
itulah hatimu,
maaf, bila pagimu sempat terbuat berantakan,
samarnya pemahamanku tentang hatimu,
karena aku belum cukup waktu mengenalimu.
***

Seorang kakak yang dengan kesantunannya menasehati adiknya, tanpa harus berkata 'jangan' atau 'tidak' tapi cukup dengan kata 'tafadhol win saja'

Kenapa? karena dengan sebaris nasehatnya, dia membuatku tahu bahwa aku punya akal dan hati untuk menentukan bagaimana seharusnya bersikap.

Jumat, 06 April 2012

Aku di Masa itu



Benar-benar sedang tersadar bahwa aku merasa asing dengan lingkungan yang aku kenal, pergaulan teman sebaya, masyarakat desa, dan pertemanan di sekolah. Entah apa yang merujuk untuk kesana, seperti terhantam badai dan kemudian terseret ke tengah samudra yang dikelilingi hiu dan paus. Sehari-hari berkerumun dan berkumpul, semenit saja untuk merasa hidup, rasanya sesak.






Aku merasa hilang di sana, diantara hal-hal yang harusnya menjadi bagian dari hidup yang ku jalankan. Tapi kenapa, itu tidak berlaku dalam skenarioku. Rumit? Alurnya yang rumit, atau metode adaptasiku yang rumit. masih samar, benar-benar samar.






Setiap pagi, yang harusnya aku sambut dengan histeria teriakan do it, win; sepertinya tidak layak pada masa-masa itu, just nonsense! so pity,,,,, Seperti cacing tanah yang menggeliat di tengah gurun pasir sangat tepat di bawah teriknya matahari. Itulah aku di masa itu, yang sudah terlanjur pincang dengan awalan yang salah. *berharap Alloh memaafkan ketulianku tentang nama hati






Setiap siang, yang semestinya aku nyatakan sebagai waktu untuk berbagi, only a shadow! so terrible,,, Seperti hiu yang sampai hati menerkam ikan-ikan kecil tanpa berfikir untuk mengiyakan bahwa mereka juga ingin hidup bebas dan berbagi. Itulah aku di masa itu, yang sudah tenggelam dengan selang yang salah.


*berharap Alloh memaafkan kebutaanku tentang nama hati






Setiap sore, yang selayaknya aku indahkan sebagai waktu untuk mengerti bahwa hidupku tidak sendiri, I never did! too don't care,, Seperti kelelawar yang hanya mengerti tentang malamnya, tanpa ia mau tahu tentang siangnya merpati. Ya, itulah aku di masa itu, yang telah terdikte pola individualis.


*berharap Alloh memaafkan ketumpulan logikaku tentang nama hati






Setiap malam, yang harusnya aku maknai sebagai waktu mengenal-Nya lebih dekat, I sleep! too bad,,, Seperti ayam yang hanya mengenal dirinya, tanpa ia tahu bahwa ada seorang ibu yang dititipi-Nya untuk menjaganya. Ya, itulah aku di masa itu, yang terlanjur dekat dengan ketidakramahan hidup.


*berharap Alloh memaafkan ketidakpedulianku tentang nama hati.






Aku di masa itu, benar-benar menyedihkan ................






pelajaran: rabalah ke dalam hatimu itu, dan kamu akan mengerti ada hati - hati lain yang juga harus kamu mengerti.


Pilihan

Hari ini, males aja pengen pulang. Pertimbangannya; pasti capek, udah gitu musti pake ongkos, tugas kuliah numpuk dan belum terjamah satupun. Mending bertapa aja di kos, lagian cucian satu mingguku juga menggunung. Gini nih, kalo ga nurut sama jadwal yang udah di mou in sendiri. Ga ada manajer ga ada yang ngingetin, manajernya ya dirimu itu win. Berantakan karena organisasi? agak setuju sih, tapi itu udah pilihan. hampak banget kalo, kuliah ga ada keribetan-keribetan lain selain tugas. Tapi, resikonya ya harus berbagi, padahal sebenarnya paling sulit itu, kalo harus berbagi; berbagi hati, berbagi idola, tapi nek berbagi cerita ga ya? uang inti di kantong tinggal 50 ribu doang, sms bapak uangnya abis, katanya suruh ngambil aja di ATM. Tapi, entar-entarlah, 50 ribu kayaknya cukup kok buat seminggu, alasan lain yang lebih rumit lagi ATM itu ga pernah diisi, padahal tiap kali kepepet ga pulang, sarannya bapak suruh ngambil di ATM gitu, tapi og ga pernah diisi to. hmmm, orang tua.....

udah selesai nyuci gombalan yang numpuk satu minggu ini, terus bersihin kamar. Selanjutnya keluarin deh tuh bantal sama mattres-mattres nya. Semua diungsiin ke papan jemuran. Ga beruntungnya, langit hari ini bener-bener galau, segalau hatiku mungkin #halah

nyolong waktu bentar ah, buka laptop, tancepin modem, browsing deh. Alih-alih pengen merefresh otak, eh malah kegoda baca artikelnya pak harun yahya. Ya uwislah, turuti aja dulu. Sambilan sama baca, sign in deh tuh ke facebook, ah jeleh itu-itu aja. sign out seketika, close window dan shut down. 

bosen tuh kan mo ngapain hayo? coba pulang, mesti bisa klayapan kemana-mana. heh, pilihan-pilihan. Liat henpon, smsan nya sama itu-itu aja, bosen!!! matiin, tidur deh. Belum ada 1,5 jam melelapkan mata, temen kos ku dodok-dodok pintu, namanya si Pitri, dia mau tuker uang 50 ribuan gitu, yah uang lagi pikirku. Tak inget-inget kayae ga ada recehan 50an ribu gitu, soalnya uangku, ya tinggal satu lembar itu.
emm, akhirnya dia minjem 1ribu, buat ngangkot. 1ribu minjem? ah udah ah kasih aja.

Tepar lagi di lantai kamar, eyayaya, hampir aja mak kleyup nutupin mata. Temen kosku yang satunya lagi manggil-manggil aku, kalo ini namanya Kasanah. Dia nawarin jasa, mau nitip beli makan ga gitu, oh, giras seketika, mau mau mau. Lagi sakit po, Win? si dianya nanya. tak jawab; ga kok, cuma capek aja, kemarin ada kegiatan sampe malem  #ah, Al-huda kasian tak jadiin kambing hitam, padahal capeknya gara-gara aku lagi seneng aja bergalau hari ini, khusus.

Pas lagi nulis ini, nyambi sama buka pesbuk; keinget sama temen yang ngajak pulang hari sabtu. Apa hari sabtu???? hoahhh, mending tua sampe senin deh di kos daripada mesti pulang dan beristirahat cuma 17 jam di rumah. Udah gitu, belum tentu tugas kuliah kesentuh. Eyyy, pikirannya jahil, berkelana buka profil fb nya orang, ah gapapa ah, lagian ga ada larangan fans buka profilnya idolanya. idola? padahal cuma kakak tingkat aja. tapi gapapa, tetep saya sebut idola. Abis asik sih baca status-statusnya, ga jarang justru saya malah dapetnya ide nulis itu dari mb idola ini. keren ya? ow, pasti! mau kenalan sama mb nya itu? langkahi dulu sandal saya.

Pengalaman hari ini: kewenangan untuk memilih itu ada ketika pilihan-pilihan itu sudah ada; tinggal luruskan saja niat dan mantapkan pilihan, selebihnya jalankan saja, pahitpun itu.



Rabu, 04 April 2012

Yang Penting Nulis Aja

partikel yang terisolasi itu
telah menjadi senyawa,
mungkin bisa ramah, tapi juga sebaliknya.


mungkin itu juga terjadi padanya dan padaku:


aku yang terasingkan itu
telah menjadi sendiri,
mungkin bisa terlihat, tapi juga sebaliknya.


meracau sendiri, 
menulis pun ku rasa begitu,
autis!!!


melihat, menerka, dan kemudian menuduh
apa salahnya?
apa hebatnya?
belum dijelaskan!


memahamkan apa yang seharusnya dia tahu,
itu terlalu sulit, tapi
mereka bilang itu akan mudah, jika kamu mengatakan itu mungkin
oyaka?


ragu, 
tapi itu yang harus dijalankan. 



Mutter

Ia yang memilih buta, jika ketulusannyaa disetarakan dengan lembaran merah, biru yang sering mereka sebut uang; yang rela menjadikan pagi dan siangnya hanya untuk memastikan bahwa prajurit yang ditempanya tak gentar menghadapi teriknya badai dan gemuruhnya perang masa depan. 


Pangkuan, dekapan dan pelukan lembutnya memberikan ruh ksatria bagi jiwa muda yang bergegas memijakkan langkahnya untuk bumi yang telah membesarkan namanya. Mendayung arus pergantian generasi dari abad ke abad; siaga mempertaruhkan nyawanya demi beralihnya tongkat peradabann dunia.


Srikandi itu, sebutlah ia IBU,

Kesia-siaan

Apa bedanya, aku ini dengan parit-parit kosong di musim kemarau
berharap berangan, bertegur sapa dengan air-air itu;

tidakkah sama, aku ini dengan air di musim penghujan,
berlalu lalang dan tak jarang menjadi kambing hitam atas si banjir,

kesia-siaan..........

dimana letak benarnya aku ini?
seorang anak kecil, yang dahulunya pemberani
tapi sekarang tidak lagi;

merdekaku tertali oleh sakitku
mungkin sebentar lagi, dan mungkin tidak lama lagi

ingin menunjukkan betapa rasa sakit itu ada menyakitkan,
tapi, pada siapa?
dia?
mereka?
tidak akan pernah yakin!

aku enggan bila harus seperti
karbon monoksida;
yang nyaman dengan kesendiriannya tapi menjadi seorang polutan,

hanya ingin menjadi oksigen,
yang bisa bersapa halus dengan paru-paru 
yang kemudian akan bercerita tentang anugerah hidup
yang Tuhan berikan;




tidak banyak, hanya ini.



Selasa, 03 April 2012

Untitled

di sini aku bisa melihatmu,
walau hanya diterjemahkan oleh sebuah benda datar
yang sedang memantulkan bayanganmu;


bukan seperti cipratan lumpur di baju,
yang sering kau ceritakan itu....


bukan aku lebih tahu darimu
hanya aku masih saja berada di belakangmu,


untuk apa?
hanya untuk menjabat tanganmu;
itu cukup;



Ayahku itu

menata warna? aku tak bisa,
apalagi menerjemahkan tema, garis,
ruang dan volume;
teori yang harus ku mengerti ini,
membuat aku gerah..


memilih kata? aku tak pandai,
apalagi berlika-liku dengan arti yang harus dibedakan,
ini membuatku lelah,


berkompromi dengan not-not? bukan bakatku,
apalagi melagukan nada dengan suara yang memukau, mereka bilang itu,
sungguh membuatku semakin gusar,


bergerak-gerak dengan jari atau kaki? bukan minatku,
apalagi menyertakan hati untuk bermain-main dengannya,
Tuhan, tak bisa aku memaksanya.


ekspansi ke seberang.....


bermanja-manja dengan sel, CH3COOH, mistar? aku tak lulus,
apalagi bemesraan dengan ritual laboratorium,
jenuhku semakin menjadi,


berkelana ke jalur selanjutnya...


mengotak-atik angka? kepalaku berjaring,
apalagi harus menghitung ini itu,
hah, terbentur 1 2 3,


peta kebingungan ini belum berhenti,


segerombol program ,sofware yang harus ku pahami,
turbo pascal membuatku jengkel!


apalagi ini,,,,


beradu sistem untuk pendidikan, 
alah,,, semuanya membuatku panas dingin,


lantas dimana aku seharusnya???
lama terdiam, sangat lama..............


jari ini menunjuk itu, Ayah
maka biarkan aku kesana....




Ayah, 


Ayah,


Ayah:


"tidak untuk melemparmu ke sumur,
kemudian menutupnya rapat-rapat,
tidak untuk itu...


hanya ingin menjelaskan bahwa hidupmu tidak untuk berhenti,
selebihnya biarkan ayahmu ini yang menanggungnya"