"Aku tidak bisa mengenal laki-laki itu, bahkan untuk menjabat tangannya atau hanya
sekedar melihatnya, dayaku seperti suai terikat yang tiba-tiba getas seketika.
Bantu aku untuk mengenalnya, Ibu”
***
Angin mengibas pelan gundukan gumuk di tepian
laut,
hamparan luasnya membentangkan arah timur
dan barat;
Berdiri seorang diri, yang lebih akrab dikenal
sebagai cucu dari seorang pemuka desa pinggiran, yang memilih nyaman dengan
suasana malam bersama celoteh jangkrik dan cercauan belalang kecek di
antara petak-petak sawah yang mengapit gubuk tua milik kakeknya. Jemu dengan
suasana kota yang nyaris , hampir pernah menyapa dan memperdulikannya. Bahkan
kekejaman kotalah yang membuat ia enggan bersuara dalam hidupnya.
‘Bila pun waktu terulang aku ingin bersama
denganmu saja Ibu, tidak pernah ingin beranjangsana kepada dunia yang sering
Ibu bilang membuat rindu dalam mimpiku itu. Bohong, semua bohong Ibu. Tidak
bisakah, engkau mendengar tangis pijarku karena rasa cemburuku dengan induk
ayam yang sempat memastikan anak-anaknya telah layak dilepas dan dibiarkan
berkelana. Tapi bagaimana dengan ibuku? meninggalkan aku, di saat aku belum
mengerti bagaimana dan seperti apa hidupku ini. Sedang apa engkau di sana ibu?
Benarkah Tuhan telah menjagamu??? “
“Dhil, sini le
ngobrol sama Simbah mbok jangan di kamar terus!”
“Iya, Mbah sekedhap”.
Tutur halusnya cukup untuk menjelaskan walaupun di tengah riuhnya kehidupan
kota metropolitan, keramahan seorang ibu untuk mengajarkan bahasa jawa krama
benar sungguh adanya.
Fadhil menghampiri Kakeknya yang sedari tadi
duduk di atas kursi rotan warna kuning gading yang masih kental dengan nuansa
klasik kejawen.
“Dhil, Simbah
itu pengen kamu betah di sini, kalau kamu di kamar terus apa ndak suntuk to le? mbok sesekali main ke luar sana,
sama temen-temenmu itu”
Seruan kakek itu seolah tidak sampai di telinganya,
Fadhil pun lantas menyela dan mencairkan suasana obrolan malam itu.
“Mbah”
“iya, ada apa?”
“Fadhil, pengen ndherek Ibu saja, Mbah”
Serasa hatinya tertembak peluru, runtuh!!!
meskipun juga harus menyempatkan untuk menahan hilir air matanya seketika
mendengar permintaan seorang anak kecil yang berumur 8 tahun itu. Mencoba tetap
hangat dalam senyum dan nasehatnya.
“Fadhil kangen to sama Ibu?
Anggukan dari anak sekecil itu adalah tanda
mengiyakan jawaban yang memang telah dipilihnya.
“Ow itu artinya Ibu minta didoakan sama Fadhil,
sekarang ndherek simbah ya, kita ke
musholla bareng, sholat dan doakan Ibumu di sana”
sibak jalan menyusuri setapak demi setapak
menuju musholla yang sering disebut Surau di desa itu. Raut sayu, meratap sendu
di hati si Cucu.
“Mbah, apa Ibu marah sama Fadhil?”
“Loh, kenapa? Memangnya Fadhil punya salah apa
sama Ibu?
“Fadhil ndak tahu, Mbah”
“Kok bisa, Fadhil berfikir seperti itu? “
“Ibu pergi nggak ngajak Fadhil, Mbah. Harusnya Fadhil
ikut saja, di sini juga ndak ada temennya”.
“Dhil, coba dengarkan Simbah, kalau Fadhil ikut
Ibu, Simbah nanti sama siapa? Simbah kan sudah tua tinggal sendiri di pinggiran
sawah pula, Masa Fadhil tega melihat kakek tingak-tinguk
nggak ada temennya.”
Sang Kakek perlahan meraih pundak si cucu ,
seraya berlutut di hadapan matanya dan kemudian berkata;
“Bukan karena Ibu marah sama Fadhil, tapi karena
Ibu pengen Fadhil nemenin simbah di sini”
Kata-kata itu menyusup dan menyeruak tatapan
kosong si cucu yang sedari tadi amat tersiksa meratapi kepergian Ibunya.
“Sekarang coba kamu lihat itu” sembari menunjuk
ke atas, sebuah pesawat terbang di atap langit yang cekung.
“Simbah pengen lho, Fadhil ngajak Simbah naik
pesawat itu, Apa Fadhil ndak mau?”
serasa meringkus duka yang melenggang bebas
membawa duka di hati anak kecil itu, beberapa hari ini.
“Memangnya Simbah pengen kemana?”
“Kemanapun asal ada Fadhil yang nemenin Simbah, Fadhil
mau kan?”
senyum sejuk itupun didapat sang kakek dari
bibir tipis manis, anak laki-laki yang sempat tertidur manja di rahim putrinya 8
tahun yang lalu. Rapat renggangnya masa, membuat Sang kakek belum sempat
berterimakasih pada putrinya, yang memberikan cucu sehebat Fadhil Putra Dharma
Wiratmaja. Rona bahagia begitu terlihat, meskipun tergores luka yang mendalam
bagi seorang Ayah yang putrinya telah berbagi hati untuk laki-laki yang
dicintainya.
***
Satu tahun melewati bahtera rumah tangga tidak
terasa, dua tahun kemudian merajut cita-cita dan harapan bersama lelaki yang
telah mempersuntingnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. terpaan ombak
terasa semakin kuat di tengah laut rembang yang membuat guncang ayunan tenang.
“kring, kring, kring” suara telepon rumah berdering
“iya, hallo, selamat malam”
“apa benar, ini kediaman Bapak Dharma
Wiratmaja?”
“iya, benar, saya istrinya”
“Mohon tabah ibu, Bapak mengalami kecelakaan di
perjalanan pulang dari Kalimantan 2 jam yang lalu”
Sementara pikiran menjadi riuh disebabkan kabar
itu, Annisa langsung menutup telfon dan berlari mengeluarkan mobil menuju rumah
sakit yang merawat suaminya. Sesampainya di sana, hati Annisa dibuat remuk
bertubi-tubi dengan kenyataan bahwa suaminya yang 4 jam tadi menelfon memberi tahu,
bahwa ia akan menemani kelahiran anak pertamanya, kini telah tiada. seperti
mimpi, tertimbun reruntuhan bangunan setinggi 45 meter di ruang gelap yang
begitu sesak.
“Malang benar, nasibmu putriku” jerit hati
seorang Ayah yang melihat duka bersemayam di hati putrinya.
Genap di usia 9 bulan yang dinanti-nanti, lahir
seorang bayi laki-laki mungil yang sangat tampan. Kehadirannya mampu
menggantikan pilu yang merundung di keluarga itu. Tawa dan bahagia mulai
terajut kembali setelah beberapa bulan hilang tertikam oleh duka yang mendalam.
Bayi suci itu bernama Fadhil Putra Dharma Wiratmaja. Hari demi hari terkumpul,
Bayi itupun kian tumbuh dan menjadi lincah, mulai menyapa siapapun yang ada di
sekelilingnya dengan isyarat yang memecah haru di antara hingar bingar suara
yang belum ia mengerti.
“Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku, tapi
apakah mungkin Ibumu ini anugrah dalam hidupmu” Sanjungan seorang Ibu yang sungguh
menyayat hati, andai saja bayi kecil ini tahu artinya.
Diantara waktu yang sudah lagi tak bisa
terhitung, berapa kali ia harus terbangun membuatkan susu, mengganti alas tidur
yang basah karena tingkah manja bayi kecilnya, mulia nian kodrat seorang Ibu.
Begitu seterusnya sampai bayi itu menjadi balita yang ceria dan lincah di usia
4 tahun kehadirannya, di bumi-Nya.
Benar adanya, telah tertulis untuk terpanggil
menghadap-Nya, sosok Ibu pelipur lara itu kembali kepada Sang Maha Pemilik
Hidup, tepat di saat bayi kecilnya menginjak usia 4 tahun. Akibat kanker darah
yang bersahabat cukup akrab dengannya 2 tahun belakangan. Duka pun kembali
merundung keluarga ini.
“Oh, malang nian hati cucuku ini” ungkapan hati
seorang kakek yang mengerti benar duka hati seorang cucu di usia dewasanya
nanti.
***
Ingatan Sang kakek pun membuyar, kala melihat
cucunya berlari menuju surau, tempat yang akan menyaksikan kerinduan seorang
anak kepada kedua orang tuanya.
“Dhil, nanti doakan Bapak juga ya, Bapaknya Fadhil
pasti kangen juga lho sama Fadhil.
“iya, Mbah”
Anak kecil itu kemudian meraih air wudhu yang
membuatnya nampak begitu bersemangat untuk mengajukan permintaan kepada
Tuhan-Nya.
“Ya Alloh, kenapa aku tak kau izinkan saja, sama
seperti teman-temanku yang lain. Menyapa pagi yang selalu ku rindu, bersama wajahnya
yang sempat menyentuh pipiku, yang selalu saja dengan omelan sorenya,
menyuruhku mandi tapi aku tak bersegera memenuhinya. Aku merindukannya, Tuhan.
Apa Kau menjaga ibuku dengan sangat baik di sana? O.. ya, Sampaikan juga, salam
ku untuk Seorang lelaki yang mereka sebut Ayahku itu, pun seperti yang ibu
bilang bahwa dia adalah pahlawan yang memuliakan hidupku. Terimakasih Tuhan,
untuk kedua orang tua yang Engkau kenalkan dalam hidupku”
----selesai-----
kosa kata:
suai: tali
belalang
kecek : belalang yang biasanya bersuara cek cek cek dimalam hari
tingak-tinguk
: menolah- noleh
le:
panggilan untuk anak laki-laki di jawa
sekedhap
: sebentar
laut
rembang: laut lepas
ndherek
: ikut