Langsung ke konten utama

Profil : Sejarawan Kondhang ing Ngayogyakarta


Miyos wonten Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Priyayi ingkang nyerat buku cacah 50-an langkung menika minangka Guru Besar Emiritus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Panjenenganipun menika tiyang ingkang tresna sanget babagan kearifan budaya Jawa, ewasemanten anggenipun nglampahi sesambetaning gesang, Bapa Kuntowijoyo menika kawastanan grapyak sumanak, lembah manah kaliyan sinten kewamon.

Tilar donya, dinten Selasa 22 Februari 2005 tabuh 16.00 amargi komplikasi gerak sesak napas, diare lan ginjal. Garwanipun Drs. Susilaningsih MA, putranipun: Ir Punang Amaripuja SE MSc kaliyan Alun Pradipta
Buku-buku kondhang anggitanipun inggih menika: Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi [1991], Identitas Politik Umat Islam [1997].
Minangka sejarawan, Bapa Kuntowijoyo menika ngajeni sanget kearifan budaya jawa. ilmu saha pamanggihipun bab sejarah lan budaya kasebat kiyat, awit saking menika saben-saben paring piwucal, panjenenganipun asring mucalaken tuladha-tuladha kearifan budaya menika.
Kajawi  pun tepangi minangka sejarawan, Panjenenganipun ugi remen nyerat buku-buku, antawisipun inggih menika: Paradigma Islam dan Politik Islam, Intelektualisme: Menyongsong Era Baru, Identitas Politik Umat Islam. Karya-karya menika nedahaken  bilih panjenenganipun minangka intelektual muslim. Miterat mahasiswanipun, panjenenganipun guru ingkang wicaksana, nadyanta kahanan awakipun gerah, ananging taksih kersa nglonggaraken wekdal kangge mbimbing mahasiswanipun.

PENDIDIKAN
·    SRN, Klaten (1956)
·    SMPN, Klaten (1959)
·    SMAN, Surakarta (1962)
·    S1 (Sarjana) Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta (1969)
·    S2 (MA) Universisity of Connecticut, AS (1974)
·    S3 (Doktor) Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia, AS (1980)

KARIR
·    Asisten Dosen Fakultas Sastra UGM (1965-1970)
·    Dosen Fakultas Sastra UGM (1970-2005)
·    Sekretaris Lembaga Seni & Kebudayaan Islam (1963-1969)
·    Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971)
·    Pendiri Pondok Pesantren Budi Mulia (1980)
·    Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980)

PENGHARGAAN
·    Naskah drama Rumput-Rumput Danau Bento (1968) dan Topeng Kayu (1973) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta
·    Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1968), memenangkan penghargaan pertama dari sebuah
majalah sastra
·    Novel Pasar meraih hadiah Panitia Hari Buku, 1972
·    Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, cerpen terbaik versi Harian Kompas berturut-turut pada 1995, 1996 dan 1997
·    Penghargaan Kebudayaan ICMI (1995)
·    Satyalencana Kebudayaan RI (1997)
·    ASEAN Award on Culture and Information (1997)
·    Mizan Award (1998)
·    Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999)
·    FEA Right Award Thailand (1999)
·    Hadiah Sastra dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001)


cathetan: kapethik saking maneka sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...