Sabtu, 31 Maret 2012

Sabtu Malam

malam minggu, yang ku sebut hanya milikmu;
terpasung di antara sisi tanduk yang pincang,
hati ini...




sabtu malam, yang ku  pastikan hanya malammu,
luluh tersedia di sekitar retakan-retakan,
ide ini...


1 malam sebelum malam senin, yang ku tuduh hanya untukmu,
sedang tersungkur lemah di tepian,
ruh sakit ini,


malam yang berbeda menurutmu,
bagiku tetap biasa saja...


persimpangan di perempatan,
sadis...


wewenangku tak ada andil untuk menyatakan keberadaanmu
ooohh, 2 malam sesudah malam jum'at,


malam yang singgah di malamku,
miris,













Kamis, 29 Maret 2012

Kurikulum Bata-bata



Sejatinya, pendidikan tidak hanya berhenti pada berapa nilai matematika, fisika, kimia, atau biologi. Prinsip pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memiliki andil yang sangat besar dalam upaya perwujudan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.

Kurangnya sumber daya manusia di Indonesia sering kali dijadikan dalih untuk menempatkan mereka cukup sebagai “buruh”, padahal potensi alam di Indonesia ini, semestinya adalah hak kita untuk mengelolanya, bukan mereka, orang asing yang sering kita sebut investor itu. Bertolak dari itu, adalah fakta yang sangat memprihatinkan tentang dunia pendidikan di Indonesia bahwa kita sedang terjajah kebodohan dan gagap ilmu pengetahuan, walaupun pada kenyataannya negara kita adalah obyek terbesar pasar teknologi dunia. Ironisnya, mayoritas dari kita hanyalah sebagai pengguna saja, sedangkan sangat kecil prosentasenya yang berusaha mengembangkan ilmu teknologi. Semua itu akibat dari terbatasnya kompetensi sumber daya manusia yang kita miliki, dan dari sinilah peran pendidikan mulai dipertanyakan. Sudahkah sistem pendidikan kita efektif, merata dan tepat sasaran? Jawabannya ada pada fakta pendidikan yang ada sekarang.

Pendidikan sebagai upaya untuk membentuk karakter bangsa, dalam kenyataannya sangat jauh dari yang diharapkan. Praktek pendidikan yang harusnya mendidik pun sepertinya memang tidak lagi diindahkan apalagi dipatuhi. Bahkan bentuk kecurangan tidak hanya terjadi di ranah politik tetapi juga sudah merambah dunia pendidikan. Contohnya: Ujian Nasional yang booming beberapa tahun silam ini, sejak ditetapkannya sebagai indikator kelulusan siswa secara nasional, dalam penyelenggaraannya tidak jarang terjadi kecurangan-kecurangan di dalamnya, padahal secara fundamentalis pendidikanlah yang seharusnya mengambil peran awal untuk memulihkan karakter bangsa yang terlanjur carut-marut ini.

Selain itu, sistem pendidikan belum mampu menjamah masyarakat secara utuh dan menyeluruh, masih banyak terjadi ketidakrataan pendidikan khususnya bagi masyarakat miskin, karena biaya pendidikan yang terbilang cukup mahal. Lantas kemudian bagaimana pendidikan bisa dinyatakan sebagai hak bangsa sebagai warga negara jika mereka tidak diberikan akses kemudahan untuk mengenyam pendidikan. Lagi-lagi kebijakan pemerintahlah yang sebenarnya tidak tanggap ing sasmita kepada orang kecil. Di samping itu, berdasarkan ranah sistem pendidikan dalam hal ini kurikulum, juga belum bisa berlaku adil bagi anak-anak Indonesia, dalam kesehariannya mereka selalu diberikan tekanan tentang pelajaran yang semestinya bisa mereka pelajari dengan menyenangkan. Akan tetapi, hal itu seolah dikesampingkan, sehingga memberikan kesan bahwa pendidikan itu momok bagi mereka. Kurikulum pendidikan yang seharusnya menjadi patokan dasar dalam pengembangan pendidikan itupun juga banyak terjadi ketidakjelasan di sana.

Oleh karena itu, penyimpangan dalam penyelenggaraan pendidikan, seharusnya perlu menjadi perhatian, tidak hanya sarana dan prasarananya saja yang diperbaiki tetapi juga kualitas sumber daya manusianya, karena sebaik apapun sarana dan prasarana pendidikan, kalau tidak diimbangi kualitas sumber daya manusia yang baik juga tidak ada artinya. Pergerakan awal untuk memperbaiki karakter bangsa adalah melalui pendidikan, sehingga hubungan antara pelaku kebijakan dengan sasaran kebijakan pendidikan seharusnya bersinergi dan saling mendukung guna mensukseskan pendidikan bagi semua. 




Minggu, 25 Maret 2012

Födelsedag



Usia adalah tanda waktu seberapa kuat kita menjalani setiap lini kehidupan, dengan melalui berbagai usaha, proses dan hasil yang kita dapatkan. Adalah wajar ketika banyak orang yang begitu antusias mengelu-elukan penghargaan tepat di hari lahirnya, bukan apa-apa memang, hanya saja keberartian seseorang akan sangat terasa ketika keberadaannya diakui oleh orang lain, setidaknya dengan mengucapkan selamat itu saja sudah mewakili perhatian kita untuknya. 

Ulang tahun;  ritual meniup lilin, memotong kue dan make a wish, tidak ada perubahan yang begitu mencolok, setelah diamati. Dari saya dulunya gemar bermain bola, sampai kembali cinta boneka, lagu ulang tahun pun kedengarannya juga masih sama, seperti ada filosofi yang asik untuk dibahas di sini, dan saya rasa itu benar. Kenapa kehilangan umur malah dirayakan? Diberi kado, surprise atau kalau nggak sekejam-kejamnya diceprotin tepung+telur yang baunya agak ga enak terus minta ditraktirin makan,,, benar-benar bodo campur rasul katanya orang jawa, ini ungkapan bukan untuk yang ulang tahun, tapi temen2nya yang orang ulang tahun itu. Sengsara, sengsara deh tuh orang. Bukan sebuah upaya pembelaan terhadap budaya anak muda itu, tetapi sebuah upaya penghargaan kepada sesepuh yang sudah mencentuskan budaya seperti itu. Tidak salah memang, seseorang berusaha mengekspresikan kebahagiaan, kegalauan, kesedihan, ketakutannya, selama masih dalam batas koridor yang wajar dan tidak keterlaluan. 

Kembali pada bahasan kita kali ini, Kenapa kehilangan umur malah dirayakan? Bukan dirayakan sebetulnya, hanya sebagai ungkapan syukur dan injeksi semangat saja tepatnya. Mari memutar playlist logika kita, dalam keseharian hidup yang penuh tumpukan tugas, tagihan bulanan, tuntutan prestise pergaulan, omelan atasan dan sejuta problem notes, adalah manusiawi ketika seseorang mencari-cari moment yang tepat untuk meredakan sejenak tekanan-tekanan hidup yang cukup dibilang menyiksa. Bermula dari sinilah, sebuah peresmian umur boleh jadi difungsikan sebagai cara terbaru melangkahi jarak hidup yang ternyata tidak sependek bayangan kita. bahkan mungkin episode-episode selanjutnya bisa lebih sangat indah dari dugaan kita.




Tentang Sekarang


2/22/2012 4:40 PM

Tidak pernah ingin bercerita tentang ini sebenarnya, tapi sudahlah untuk memenuhi permintaan & sekedar berbagi dengan teman-teman SMP. #halah

Mulai dari rasa canggungku membalas senyum orang-orang hebat di sekelilingku sampai dengan tidak bisa menyapa dengan seharusnya. Semua itu berawal dari ketakutan. Ya, ketakutan yang selama ini bermanja-manja dalam diriku terlalu lama. Oh, sakitnya bila itu diulang kembali. Aku tak pandai menulis tentang segala hal yang mereka sebut indah itu, hanya saja aku tak ingin bersibuk dengan itu, aku hanya sedang sangat ingin bercerita tentang sebuah keadaan yang seandainya juga dialami oleh sahabat-sahabatku di luar sana. bertanpa dengan hati, semoga tak ada lagi orang sebodoh ini suatu saat nanti, orang lemah yang dengan mudahnya dilemahkan oleh keadaan yang melemahkan, anak kecil yang papa, yang begitu saja menerima kemiskinannya, kata-kata ini hanya sebuah alibi kosong yang sebenarnya tak perlu diuraikan jika hanya sebatas untuk berdalih secara terhormat membela keminderan. Jika akan lebih bijaksana dg tulisan, maka jalan inilah yang akan aku pilih. Di tengah kondisi raga yang begitu sangat nelangsa dihadapan sahabat-sahabat dan orang-orang terkasihku. Bukan perkara jarang atau sering, aku benar-benar tidak merasa bosan mengeluh, kenapa seperti ini, kenapa seperti itu. Aku tak punya hak sedikitpun untuk menghakimi mereka yang bersikap tidak sebagaimana mestinya padaku. Teringat sebuah nasehat yang sempat ngangkring di otakku, jika cara berfikirmu biasa maka dia akan membawamu pada keadaan yang biasa.


Kembali berfikir dan merenung, kenapa aku begitu takut dengan keadaan yang meremehkanku, mencelaku, bahkan tak menganggap ada aku disana. Apa aku harus menyalahkan mereka? Tidak. Bukan jalan ini yang ku pilih. Tuhan mengirimku di bumi yang diciptakannya ini, tidak sia-sia. Lantas, kenapa aku begitu takut dengan sikap orang-orang yang begitu menyakiti aku, Tuhanku bersamaku, Tuhan sedang berbicara padaku, untuk memahami kehendak yang dikehendaki-Nya. Sudahlah jangan protes!!! ini bukan sebuah penganiayaan, ini hanya butuh waktu untuk beradaptasi saja. 



Berawal dari ketidaknyamanan dengan semua yang ada sebelumnya --lihat atas, bukan tidak mensyukuri, hanya saja ini adalah permulaan dari perjuangan saya untuk mendapatkan suatu hal yang memang saya butuhkan. Keyakinan, ketenangan, keberanian, dan segala ke-an – ke-an yang membuat hidup ini benar-benar terasa hidup. Al-Huda, yang berarti sebagai petunjuk, yang juga membuat saya sempat beradu argumen dan juga bersusah payah melakukan negosiasi dengan diri saya sendiri untuk menegaskan bahwa saya membutuhkan itu -ilmu agama. Suatu hal yang juga membuat saya berpikir tentang istimewanya hidup yang saya jalani. Sekumpulan teman yang mengenalkan saya sebuah Ayat Al-Qur’an yang belum saya tahu keagunganNya sebelumnya. -----الرَّŘ­ْŮ…َنُ --- saya menemukan benda-benda mulia itu di Al-Huda, mereka adalah sahabat-sahabat yang hampir tidak pernah berhenti menyemangati saya untuk bersama dalam kebaikan. Sempat ada penolakan dari dalam diri saya untuk tidak lagi berhubungan dengan namanya Al-Huda *wejangan dari my beloved father, tapi saya merasa ketika melakukan hal itu, Allah pun terasa saangat jauh dari saya, keadaan ini membuat saya sempat dalam keterpurukan yang berkepanjangan, hingga akhirnya saya putuskan untuk baikan lagi sama Al-Huda. sudahlah, biar saja niat baik ini yang menjelaskan pada Ayah suatu saat nanti.





sudah, hanya itu---

Sabtu, 24 Maret 2012

Tentang Nanti

sedikit membayangkan, bagaimana esok hari bertemu muka denganmu. menundukkah? bersembunyikah? atau menatap enggan senyummu? #belum ku pastikan

aku tak ingin berlama-lama berkeluh kesah tentangnya di sabtu ini, aku hanya ingin membuka cerita yang sedari awal ku kenal bijaksana. yang mengajarkan aku mengucapkan shofang ka'annahum; ku ingat betul sangat tertata rapi bahasanya.

masih belum berani aku memanggil namanya, memandangnya pun ibarat di dasar laut yang sedang tertutupi karang yang sangat besar. karang? iya, aku menyebutnya karang. apa yang ada di dalam dirinya, belum aku kenal sepenuhnya. ya anggap saja, seperti persahabatan siput dan kupu-kupu.
si siput selalu malu untuk disapa, sementara si kupu terlalu merdeka dengan hidupnya di angkasa sana. babak cerita belum dimulai, bahkan diceritakan saja belum, kita tunggu saja apa yang akan terjadi nanti. 








---- jalani saja dulu,,,

Ingin Menjadi Adikmu

seperempat dari setengah yang kau tawarkan;
adalah beruntung aku mendapat separuh dari seperempat yang ku minta;


salahpun bermula,


bagaimana harusnya untuk memintamu sedikit mendengar,
bahwa yang terjadi adalah penjelasanku yang berbeda dengan pemahamanmu;
aku tahu, aku lebih pagi darimu,
tapi setidaknya sempatkan aku untuk mengerti siangmu;
terlalu berlebihkah? sedikit membawaku ke ranahmu,
aku mengagumimu, tidak lebih dan tidak kurang,


itulah porsiku sebagai adik yang ingin belajar darimu,
hanya itu, hanya itu;


bagaimana harusnya aku untuk menjabat tanganmu,
sesungguhnya aku pun tak tahu,
semua biru, semua ungu, semua hitam,,,,
terang, remang, gelap,, gelap, gelap
bahkan untuk
menyapa siangmu terasa kaku..
benar-benar kaku, karena kini aku kau sebut musuhmu,,



Rabu, 21 Maret 2012

Bukan Salah Hati

kewajibanku hanyalah sebatas cukup tahu dan bersyukur
bahwa hatimu sempat menyentuhku;
hanya aku tak ingin cukup tahu,
bahwa hatiku juga sempat mengenalmu;
andaipun kita nanti menjadi air dalam satu botol, katamu


aku tak ingin berangan-angan dahulu;


terlalu takut, terlalu penuh dengan sandi,
teka-teki tentang apa yang terjadi satu menit nanti,
aku dan kamu, belum tentu bisa memahami;
maaf,,, 
aku tak ingin dulu berangan-angan tentang itu;


yang aku tahu, hanya bagaimana aku merapikan hidup yang layak untuk hidup nanti;
aku tak ingin berangan-angan tentang hati;
yang sering ku kenal menyakiti;
bukan salah hati, ataupun rusuk yang melindunginya,
itu adalah salahku sebagai manusia yang tak jarang menanggalkan hati
ketika bertemu dengan hati-hati kosong sepertimu;


bukan salah hati, yang sering ku kenal tersakiti;
itu adalah karena rentanya hati yang sempat kau cintai;



Sabtu, 17 Maret 2012

Saya Ada


sedang membawa pagi untuk tidak bermalam hari ini,
berkelok-kelok menelusuri siang yang panjang,
bahkan sorepun nyaris terlihat,
tidak ada yang tidak biasa untuk rentetan rutinitas ini,
waktu berceceran, ide terbagi berkala
dan kemudian disusul dengan daftar catatan berantakan;
ingin seperti daun-daun itu,
menjadi yang luwes dan merdeka,
walau kadang rotasi membuatnya purna dan berganti,
tapi itulah hidup, yang tidak hanya akan berpagi ataupun bersiang,
adakalanya dia berhak menjadi sore dan mengubahnya menjadi malam,
hanya yang membuat berbeda adalah apa yang sudah di buatnya ada di hari ini,
hal yang sebelumnya terasa sulit terjamah, sekarang benar-benar bersahabat
untuk hari ini dan seterusnya, saya paham" bekerja" akan membuat saya cukup menguras tenaga, 
tapi dengan begitu saya tahu, bahwa kelelahan itu mampu menyatakan 'saya ada'

Minggu, 11 Maret 2012

Musuh Kita


Iblis berkata kepada Robbnya, "Dengan keagungan dan kebesaranMu, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa." Lalu Allah berfirman: "Dengan keagungan dan kebesaranKu, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar". (HR. Ahmad) 

kau yang terlalu peduli pada kelemahanku, 
mengurung segala kesusahanku,
menggantikannya dengan kesenangan yang sangat begitu menipuku,
lantas bagaimana aku menyebutmu?
konspirasimu membuat samar jiwa keTuhananku,
menyamankan aku untuk menanggalkan tanggungjawabku sebagai hamba-Nya,
haaaahhhh,,,, 
intervensimu terlalu berkuasa,
hampir saja aku tergoda untuk bernego denganmu,
pergi, pergilah.... 
aku cukup tahu bahwa Tuhanku telah mengizinkanmu,
tapi adalah hak-ku untuk tidak berkompromi denganmu;