Langsung ke konten utama

Menguji Ikhlas di Bulan Juli

Ujian sabar menjadi hal biasa di tahun 2020, dari menunda keinginan mudik dan tidak bertemu dengan keluarga besar, tidak ada kegiatan apalagi pertemuan, segalanya mengalami pembatasan.  Berbagai kekhawatiran dan ketakutan terjadi di awal-awal masa pandemi. Satu dua temuan kasus positif begitu menakutkan pada awalnya. Hingga waktu bergulir, sepuluh duapuluh hanyalah menunjukkan sebuah angka. Rasa percaya perlahan menghilang, lalu kembali menguat mana kala kerabat dan teman dekat begitu merasakan sakit yang begitu hebat. Kondisi sempat mengalami pasang surut diukur dari fluktuasi kasus penyebaran virus covid-19. 

Setahun berlalu menuju 2021, pagebluk belum berakhir. Pembatasan mobilitas kegiatan masyarakat masih berlaku. Di pertengahan tahun, varian baru bernama Delta muncul dan menyebar dengan dahsyatnya. Juli di tahun 2021, berita duka terjadi setiap hari berturut-turut. Kerabat, teman dekat dan orang2 yang pernah dikenal banyak berpulang lebih dulu. Tua muda, tak mengenal usia. Juli menjadi bulan terberat bagi mereka yang kehilangan orang-orang terkasihnya. Bulan dimana ujian keikhlasan itu diujikan kepada Nabi Ibrahim, bukan semata untuk menyembelih putranya, melainkan untuk menguji di batas mana rasa kepemilikan itu mampu Nabi Ibrahim tundukkan. Dan atas izin-Nya, Nabi Ibrahim merelakan putranya untuk disembelih tanpa ada keraguan sedikitpun. Maka menyaksikan kesungguhan Nabi Ibrahim, Allah mengganti wujud Nabi Ismail menjadi seekor kambing. Bukankah, dari sini kita belajar, bahwa segalanya adalah milik Allah. Dan segalanya kembali kepada Allah. Dan kita? Sungguh tidak punya apa-apa. Terkadang diri lupa, dengan titipan yang dilebihkan, merasa bahwa sepenuhnya adalah miliknya. Hingga tak jarang, lupa siapa pemilik yang sesungguhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...