Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Dalam 2 Pohon

Kerinduan itu adalah sebatas kau mampu mengungkapkannya, dan semuanya akan selesai. Merindukan masa bebas-bebasnya menjadi seorang yang  pethakilan, ubeg, penjelajah dan merdeka. Tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri memuji, mengatakan cinta, dan yang paling penting tidak terbebani harus selalu tampil baik, sempurna dan bla bla bla. Inilah hidup yang merdeka............ Opini manusia kebanyakan itu: mematikan. Bahkan kadang dari orang-orang yang sering menyebut diri mereka menyayangi kita. "dan menangis tanpa ada orang yang tahu adalah kedamaian" Mungkin, orang kebanyakan akan mengatakan: "kamu ini aneh". "Anda ini lucu". "kamu ini gila!" it's up to you... itu terserah mereka. Bukankah yang menjadi adalah diri sendiri. "Bergantung di akar yang lapuk" mungkin ini peribahasa yang agaknya cocok untuk kasus ini. Bukankah, sama-sama manusia, lantas kenapa harus mengeluh pada sesama manusia yang kekuatannya tidak jauh b...

Daun Mati yang Terlihat Hijau

Dari sudut mana kau bisa menyebutnya daun hijau, sementara senyawa klorofilnya sudah mati. Ia tidak mengalami fotosintesis seperti yang kau kenal biasanya. Cairan kimia itu berhasil mempertahankan warna hijau daunnya, tapi sesungguhnya cairan jahat itulah yang mengambil nyawanya. tertanda: Daun Mati yang (menurutmu) terlihat hijau. Kenapa aku lebih sering ingin menyandarkan pusingnya kepalaku di pundakmu? Sementara, kau ini siapa? Bahkan, untuk sekedar menyebut namamu pun, bukankah aku ini tidak pernah pantas. Tidak ada dari kesalahanmu yang menghalangiku untuk mengantarkan rindu ini agar sampai ke hatimu. Apa kau mendengar rindu itu? Maka betapa sering berkali-kali aku memohon: Tuhan jangan timpakan aku cinta, sebelum aku memahami siapa tuannya cinta yang sebenarnya: "Engkau"setidaknya itu akan menjadi alasan, kenapa melepaskn simpul 2 tali itu menjadi lebih baik, daripada mengikatnya kencang, lalu putus. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maka itulah kenapa aku lebih s...

Kemuliaan di Balik Ketaatan

"Mikul dhuwur mendhem jero",  junjunglah tinggi, pendamlah yang dalam. Pepatah jawa yang sarat makna ini, jika dipahami dan dikaji lebih seksama akan mewakilkan do’a setiap orang tua kepada anak-anaknya. Harapan orang tua yang mendambakan putra-putrinya segera mentas dari sedih-dukanya hidup menuju pada kemuliaan hidup. Seperti itulah kiranya, garis besar do’a dan harapan dari setiap orang tua di muka bumi ini. Menuju pada harapan itu, tidak bisa membiarkannya hanya dengan tangan kosong saja, tanpa senjata, setidaknya kita butuh strategi. Ya, salah satunya adalah strategi bagaimana orang tua mendidik anak sampai dengan bagaimana mengikat hati si anak untuk tetap teguh pada keyakinannya kepada Allah SWT, itulah pointnya. Teringat pada sebuah peribahasa melayu: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga - tindak tanduk anak tidak jauh beda dengan perilaku orang tuanya. Yupss, peribahasa yang juga berkerabat dekat dengan konsep jawa: sapa nandur, mesthi ngundhuh. Co...