Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Simpangan

Luka hatiku mana lagi, yang kau dustakan? penuh. sudah penuh. Dan tapi, seremuk apapun itu sesungguhnya, aku harus terpaksa untuk tersenyum di depanmu. berbohong pada keadaan yang mengapit, seolah-olah memang tidak ada apa-apa. kita baik-baik saja (menurutmu).  setega itukah? sampai-sampai untuk berucap kata maaf pun (selalu sengaja) tidak kau sempatkan. apa yang salah? jabatanmu yang menghalangi? Demi Tuhan, aku sangat membencinya. lagi-lagi kita bertemu di persimpangan yang sangat menjemukan bagiku (entah bagimu seperti apa). -------------------------------------------------------------------------------------------------------- mengenalmu (boleh aku menyesalinya?)

Kita Sama-sama Sombong

ini adalah hari yang sesungguhnya. meminta dan sangat memaksa diriku sendiri untuk tidak lagi mengemis hati  yang sengaja kau tawarkan pada siapapun (yang mungkin tertarik padamu). aku bosan!!! kalau saja, ada hitam di atas putih untuk memperjelas bahwa akulah orang pertama yang melarangmu menjadi seorang operator. aku membencinya! sangat membencinya! kau tahu? berbagi hati itu tidak semudah memotong satu roti menjadi 6 bagian. sangat sulit. mengibaratkan dirimu layaknya operator, yang sangat ramah menjawab segala tanya menjemukan dari para pelangganmu. dan aku yang mendengarnya, sangat membenci itu. itulah kenapa aku memutuskan untuk berhenti mengemis hati padamu. aku tidak sanggup untuk berbagi hati. aku cemburu! cemburu! hanya itu! ah, cemburu. (mungkin bisa jadi) karena aku juga terlanjur menumpuk dosa bohongmu yang sangat menyakiti (masa itu). kita terjebak dalam persimpangan; melihat, menatap, tapi berlempar senyum pun enggan. acuh! that's our choice. kenapa kita sa...

Satu dan Satu

Yang satu, membuat hijau dari tanah yang kering dan tandus ringan baginya, bertaruh peluh demi humus bagi rumputnya Satu yang lain, membuat bisu kertas-kertas yang bertulis angka kadang dilebihkan, kadang dikurangi bukankah sama-sama berlahan?! penggeraknya pun juga sama: tangan dan pikiran hanya mungkin berbeda hati antara berbagi dan milik sendiri yang satu paham betul, bagaimana memuliakan alam sejalan dengan kehidupannya satu yang lain terbujuk, kemana hutan ini bisa ku jual ah, jelas saja berlain kaki satu ke surga satu yang lain memilih neraka

Satu Hari

Sepi beralun menggulung pendar ramai sesaat yang kuikuti gaduhnya, Berbekas di antara sahutan suara bunga api yang masih terbayang jelas di petang ini. Terasa semilir angin berpacu dengan tirai-tirai daun yang menghunjam sekat-sekat diantaranya. Tidak mudah… sungguh tidak mudah Lingkar peristiwa yang bisa ku bacakan alurnya, Tapi mustahil bagiku menceritakan yang sesungguhnya terjadi, 2 mata, 2 telinga, satu hati menyatu dalam satu paham, Ah, tetap saja aku manusia. Dayaku hanya mampu berkata apa yang terlihat dan terdengar, Bahkan sering meniadakan yang pernah atau yang sedang dirasa, Tapi sungguhlah adalah Allah pemegang kuasa atas keMAHA tahuan-Nya tentang apa yang ada di balik hati makhluknya. Tentang hari ini, tentang hari kemarin; Hanyalah pemahamanku sebagai manusia yang bisa terevisi ataupun tereliminasi oleh pemahaman yang baru. Bukankah hakikat hidup yang sebenarnya adalah proses menjalani ? Maha Tahu Allah yang menjadikan aku...