Luka hatiku mana lagi, yang kau dustakan? penuh. sudah penuh. Dan tapi, seremuk apapun itu sesungguhnya, aku harus terpaksa untuk tersenyum di depanmu. berbohong pada keadaan yang mengapit, seolah-olah memang tidak ada apa-apa. kita baik-baik saja (menurutmu). setega itukah? sampai-sampai untuk berucap kata maaf pun (selalu sengaja) tidak kau sempatkan. apa yang salah? jabatanmu yang menghalangi? Demi Tuhan, aku sangat membencinya. lagi-lagi kita bertemu di persimpangan yang sangat menjemukan bagiku (entah bagimu seperti apa). -------------------------------------------------------------------------------------------------------- mengenalmu (boleh aku menyesalinya?)
Aku menulis karena ingatanku melemah