Apa yang dilihat mata, kadang memang belum tentu yang sebenarnya, Maka akal sehat ada, untuk menyangkalnya. Beruntung, ada ia yang membantu hingga prasangka itu sempat menjadi buntu. Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu, Pelan-pelan banyak cerita menyatu, Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan. Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman. Baginya, setiap pesan adalah ancaman. Sisi lain, Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka, nasehat tak sanggup menyentuh dada. ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda. Tak lagi mengganggu yang dikasihi, dengan tajamnya kata. Nampak tak lagi menyakitinya, tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya? Beralasan ia juga punya luka, yang menuntut disembuhkan. bukan tentang cela yang...
Aku menulis karena ingatanku melemah