Langsung ke konten utama

Menjadi Guru itu, Tergugah atau Tergugat?

Ada banyak hal di sekeliling kita yang terkadang kita remehkan dan jarang terjamah oleh perhatian kita, padahal beberapa di antaranya, tidak sedikit yang justru memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita. Maka benarlah petuah kehidupan : “beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari masa sebelumnya”, karena orang-orang yang bisa mendapatkan hikmah adalah mereka yang menggunakan akal dan mata hatinya untuk berpikir. Pengalaman di masa lalu, maka layaklah ia disebut sebagai guru kehidupan, karena ia yang mengajarkan bagaimana sebuah kesalahan itu tidak seharusnya terulang.

Memang, kemana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun.

Ada yang mengharukan ketika wajah-wajah jujur dan penyantun itu, harus tersingkir oleh nafsu segerombolan “buas” yang kelaparan. Keringat dan kasih sayang mereka yang begitu tulus selama ini, harus berebut desak dengan iming-iming naik pangkat dan embel-embel uang di mejanya. Sungguh, betapa ternodainya harga mulia yang selama ini tersemat untuk guru-guru kita, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun demikian memang sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada mereka, yang seharusnya tidak melulu menjadikan uang sebagai patokan kehormatan, tetapi lebih dari itu.

Prestasi seorang anak, menjadi isyarat yang nampak bahwa seorang guru itu pernah ada dan membuat seseorang itu ada. Siapa yang membuat Hellen Keller, seorang yang hanya bisa melihat kegelapan dan mendengar kesunyian, bisa bertahan hidup? Ya, tentu kehendak Allah! Tetapi, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu mau berusaha mengubahnya?! Lantas bagaimana dengan seorang Hellen Keller, yang berulang kali mencoba bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya, menjadi seorang yang buta dan tuli?! Seorang guru penyabar pun datang, ia mulai mengenalkan Hellen pada kehidupan. Belajar mengenal dan mengeja sebuah kata yang memberikan tetes-tetes kehidupan, dan zat pertama yang ia kenal adalah air.

Pernahkah kita membayangkan betapa tersiksanya menjadi seorang Hellen Keller, yang hanya berbekal indera peraba dan pencium, sementara kini semangatnya yang mahsyur bisa menggugah jiwa mati jutaan orang yang mengenangnya. Ia menjadi tokoh besar yang begitu dikagumi karya-karyanya, semangatnya dan sosoknya. Dan titik puncak yang tercapai ini, tidak terlepas dari perjuangan seorang guru yang mendampingi dan mengajarkan ia tentang kehidupan. Sosok guru yang jauh lebih bahagia, dihargai dengan sebuah prestasi muridnya, daripada hanya sebatas rupiah ataupun dollar.

Kehormatan seorang guru bukan terletak pada berapa tumpuk pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan selama setahun ia mengajar, melainkan seberapa bermanfaat ilmu yang ia bagikan kepada murid-muridnya sehingga menjadikan mereka bermartabat. Ironis, ketika pendidikan begitu mendapat perhatian pemerintah negeri ini; guru ditingkatkan kesejahteraannya, dana BOS bergilir, tetapi kualitas produk pendidikan masih saja semrawut. Tawuran pelajar di mana-mana, sex bebas, narkotika dan segala jenis penyimpangan sosial lainnya, menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda negeri ini. Ada yang salah dengan kondisi ini, entah pendidikannya atau bahkan sangat mungkin kualitas sumber daya pendidiknya yang bermasalah.

Jadi, menjadi guru itu tergugah atau tergugat? Tidak ada yang salah di antara keduanya, memutuskan untuk memilih menjadi seorang guru adalah karena kita tergugah untuk peduli terhadap masa depan negeri ini. Lalu, apakah menjadi seorang guru itu, tergugat? Tidak melulu harus berprofesi sebagai guru ataupun menyandang status guru, kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, dan yang paling penting adalah mengajarkannya, walaupun itu hanya satu ayat.
**************************************************
*sebuah tulisan lama yang pernah mengisi rubrik artikel di buletin tutorial UNY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pulih

Apa yang dilihat mata, kadang memang  belum tentu yang sebenarnya,  Maka akal sehat ada,  untuk menyangkalnya.  Beruntung, ada ia yang membantu  hingga prasangka itu sempat menjadi buntu.   Sayangnya, kisah, akhirnya menagih waktu,  Pelan-pelan banyak cerita menyatu,  Hingga kata terangkai, terdesak ia mengaku. Mungkin tersudut & terpojokkan. menjadi merana, sebab batas yang ia abaikan.  Jiwanya koyak, batinnya tak lagi aman.  Baginya, setiap pesan adalah ancaman.  Sisi lain,  Luapan amarah yang terbingkai dalam baris kalimat panjang justru membuat luka,  nasehat tak sanggup menyentuh dada.  ia menjadi patah asa, hingga nyata memberinya tanda.  Tak lagi mengganggu yang dikasihi,  dengan tajamnya kata.  Nampak tak lagi menyakitinya,  tapi mengungkitnya dalam tulisan panjang di beranda. Apa bedanya?  Beralasan ia juga punya luka,  yang menuntut disembuhkan.  bukan tentang cela yang...

Sebelum Bernama

  GERBANG RASA   Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terlalu sering dibiarkan berlalu karena tidak punya nama.   Ia tumbuh dari jarak yang mula-mula terasa wajar, dari kebersamaan yang disebut aman, dari diam yang dianggap cukup untuk menjaga banyak hal agar tetap utuh. Di halaman-halaman ini, tidak ada tuduhan yang lantang. Yang ada hanyalah catatan seorang saksi— tentang batas yang pelan-pelan menjadi samar, tentang kepedulian yang menjadi beban, tentang kelelahan menahan sesuatu yang seharusnya tidak ditanggung sendirian.   Ini bukan kisah tentang benar dan salah yang hitam-putih. Ini adalah kisah tentang “hampir”, tentang niat yang tidak selalu jahat namun berani berdiri terlalu dekat dengan jurang. Tentang kata-kata baik yang kadang dipakai untuk menenangkan nurani, bukan menghentikan langkah.   Tulisan ini juga bukan tentang mereka. Ini tentang seseorang yang belajar ...

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...