Ada banyak hal di sekeliling kita yang terkadang kita remehkan dan jarang terjamah oleh perhatian kita, padahal beberapa di antaranya, tidak sedikit yang justru memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita. Maka benarlah petuah kehidupan : “beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari masa sebelumnya”, karena orang-orang yang bisa mendapatkan hikmah adalah mereka yang menggunakan akal dan mata hatinya untuk berpikir. Pengalaman di masa lalu, maka layaklah ia disebut sebagai guru kehidupan, karena ia yang mengajarkan bagaimana sebuah kesalahan itu tidak seharusnya terulang.
Memang, kemana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun.
Ada yang mengharukan ketika wajah-wajah jujur dan penyantun itu, harus tersingkir oleh nafsu segerombolan “buas” yang kelaparan. Keringat dan kasih sayang mereka yang begitu tulus selama ini, harus berebut desak dengan iming-iming naik pangkat dan embel-embel uang di mejanya. Sungguh, betapa ternodainya harga mulia yang selama ini tersemat untuk guru-guru kita, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun demikian memang sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada mereka, yang seharusnya tidak melulu menjadikan uang sebagai patokan kehormatan, tetapi lebih dari itu.
Prestasi seorang anak, menjadi isyarat yang nampak bahwa seorang guru itu pernah ada dan membuat seseorang itu ada. Siapa yang membuat Hellen Keller, seorang yang hanya bisa melihat kegelapan dan mendengar kesunyian, bisa bertahan hidup? Ya, tentu kehendak Allah! Tetapi, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu mau berusaha mengubahnya?! Lantas bagaimana dengan seorang Hellen Keller, yang berulang kali mencoba bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya, menjadi seorang yang buta dan tuli?! Seorang guru penyabar pun datang, ia mulai mengenalkan Hellen pada kehidupan. Belajar mengenal dan mengeja sebuah kata yang memberikan tetes-tetes kehidupan, dan zat pertama yang ia kenal adalah air.
Pernahkah kita membayangkan betapa tersiksanya menjadi seorang Hellen Keller, yang hanya berbekal indera peraba dan pencium, sementara kini semangatnya yang mahsyur bisa menggugah jiwa mati jutaan orang yang mengenangnya. Ia menjadi tokoh besar yang begitu dikagumi karya-karyanya, semangatnya dan sosoknya. Dan titik puncak yang tercapai ini, tidak terlepas dari perjuangan seorang guru yang mendampingi dan mengajarkan ia tentang kehidupan. Sosok guru yang jauh lebih bahagia, dihargai dengan sebuah prestasi muridnya, daripada hanya sebatas rupiah ataupun dollar.
Kehormatan seorang guru bukan terletak pada berapa tumpuk pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan selama setahun ia mengajar, melainkan seberapa bermanfaat ilmu yang ia bagikan kepada murid-muridnya sehingga menjadikan mereka bermartabat. Ironis, ketika pendidikan begitu mendapat perhatian pemerintah negeri ini; guru ditingkatkan kesejahteraannya, dana BOS bergilir, tetapi kualitas produk pendidikan masih saja semrawut. Tawuran pelajar di mana-mana, sex bebas, narkotika dan segala jenis penyimpangan sosial lainnya, menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda negeri ini. Ada yang salah dengan kondisi ini, entah pendidikannya atau bahkan sangat mungkin kualitas sumber daya pendidiknya yang bermasalah.
Jadi, menjadi guru itu tergugah atau tergugat? Tidak ada yang salah di antara keduanya, memutuskan untuk memilih menjadi seorang guru adalah karena kita tergugah untuk peduli terhadap masa depan negeri ini. Lalu, apakah menjadi seorang guru itu, tergugat? Tidak melulu harus berprofesi sebagai guru ataupun menyandang status guru, kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, dan yang paling penting adalah mengajarkannya, walaupun itu hanya satu ayat.
Memang, kemana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun.
Ada yang mengharukan ketika wajah-wajah jujur dan penyantun itu, harus tersingkir oleh nafsu segerombolan “buas” yang kelaparan. Keringat dan kasih sayang mereka yang begitu tulus selama ini, harus berebut desak dengan iming-iming naik pangkat dan embel-embel uang di mejanya. Sungguh, betapa ternodainya harga mulia yang selama ini tersemat untuk guru-guru kita, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun demikian memang sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada mereka, yang seharusnya tidak melulu menjadikan uang sebagai patokan kehormatan, tetapi lebih dari itu.
Prestasi seorang anak, menjadi isyarat yang nampak bahwa seorang guru itu pernah ada dan membuat seseorang itu ada. Siapa yang membuat Hellen Keller, seorang yang hanya bisa melihat kegelapan dan mendengar kesunyian, bisa bertahan hidup? Ya, tentu kehendak Allah! Tetapi, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu mau berusaha mengubahnya?! Lantas bagaimana dengan seorang Hellen Keller, yang berulang kali mencoba bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya, menjadi seorang yang buta dan tuli?! Seorang guru penyabar pun datang, ia mulai mengenalkan Hellen pada kehidupan. Belajar mengenal dan mengeja sebuah kata yang memberikan tetes-tetes kehidupan, dan zat pertama yang ia kenal adalah air.
Pernahkah kita membayangkan betapa tersiksanya menjadi seorang Hellen Keller, yang hanya berbekal indera peraba dan pencium, sementara kini semangatnya yang mahsyur bisa menggugah jiwa mati jutaan orang yang mengenangnya. Ia menjadi tokoh besar yang begitu dikagumi karya-karyanya, semangatnya dan sosoknya. Dan titik puncak yang tercapai ini, tidak terlepas dari perjuangan seorang guru yang mendampingi dan mengajarkan ia tentang kehidupan. Sosok guru yang jauh lebih bahagia, dihargai dengan sebuah prestasi muridnya, daripada hanya sebatas rupiah ataupun dollar.
Kehormatan seorang guru bukan terletak pada berapa tumpuk pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan selama setahun ia mengajar, melainkan seberapa bermanfaat ilmu yang ia bagikan kepada murid-muridnya sehingga menjadikan mereka bermartabat. Ironis, ketika pendidikan begitu mendapat perhatian pemerintah negeri ini; guru ditingkatkan kesejahteraannya, dana BOS bergilir, tetapi kualitas produk pendidikan masih saja semrawut. Tawuran pelajar di mana-mana, sex bebas, narkotika dan segala jenis penyimpangan sosial lainnya, menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda negeri ini. Ada yang salah dengan kondisi ini, entah pendidikannya atau bahkan sangat mungkin kualitas sumber daya pendidiknya yang bermasalah.
Jadi, menjadi guru itu tergugah atau tergugat? Tidak ada yang salah di antara keduanya, memutuskan untuk memilih menjadi seorang guru adalah karena kita tergugah untuk peduli terhadap masa depan negeri ini. Lalu, apakah menjadi seorang guru itu, tergugat? Tidak melulu harus berprofesi sebagai guru ataupun menyandang status guru, kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, dan yang paling penting adalah mengajarkannya, walaupun itu hanya satu ayat.
**************************************************
*sebuah tulisan lama yang pernah mengisi rubrik artikel di buletin tutorial UNY
0 komentar:
Posting Komentar