Latar
belakang yang mendasari saya menulis catatan ini adalah kekecewaan saya
terhadap gerakan mahasiswa yang menolak pengenalan politik di wilayah kampus.
Ada yang mengejutkan ketika pendidikan politik di area kampus dianggap sebagai
suatu hal yang seolah-olah kotor dan menjijikkan. Saya tidak habis pikir
bagaimana mungkin pemikiran semacam itu diutarakan oleh mahasiswa yang
mengklaim dirinya sebagai seorang yang
idealis , independen dan peduli. Saya prihatin, ketika pendidikan
politik akan menjadi hal yang terlarang dan berhukum haram di kampus saya. Coba
bandingkan, antara pendidikan politik yang difasilitasi KPU dan berstatus
diizinkan oleh birokrasi dengan aksi pornografi dan budaya seks bebas.
Kira-kira, dari dua hal di atas, mana yang paling menunjukkan tingkat kebobrokan
moral yang paling tinggi. Logikanya jika kita masih berakal, bagaimana mungkin
seorang mahasiswa yang telah mendapat pendidikan politik di kampus akan
terlibat sebagai pelaku kroyokan dalam kampanye, menggembar-gemborkan sepeda
motor di jalan.
Coba bayangkan, apakah manusiawi mahasiswa yang berpendidikan
menjadi simpatisan kampanye brutal?! Saya tidak berhenti berfikir, betapa
kasihannya mahasiswa yang mengaku-ngaku idealis, independen dan peduli,
memutuskan untuk tidak mau tahu tentang politik. Sementara rakyat (yang
statusnya menjadi objek kepedulian mereka) adalah yang menjadi korban politik.
Lalu, di mana letak idealisme, independensi dan kepedulian mahasiswa terhadap
rakyat, jika belajar politik di kampus saja dilarang? Jika kita benar-benar
berakal, seharusnya bukan pendidikan politiknya yang kita bekukan, tetapi kegiatan
politik bersih yang harusnya kita gerakkan.
Jika
ada yang mengatakan bahwa dirinya independen, maka sebenarnya ia telah
berbohong kepada dirinya sendiri dan orang lain. Selagi manusia hidup, punya
akal, ambisi dan cita-cita maka sebenarnya ia memiliki tendensi
(kecenderungan). Hanya saja, manusia itu memang pandai bermain topeng, ia
mengatakan bahwa dirinya independen, padahal sebenarnya tidak! Bagaimana mungkin
seseorang mengatakan bahwa dirinya independen, sementara selama manusia itu
masih hidup bersama dengan manusia yang lain, maka mutlak mereka saling
menggantungkan urusan satu sama lain. Independen hanyalah sebuah topeng untuk
terlihat “bersih” dan tidak memihak. Seberapa penting untuk terlihat “bersih”
dan tidak memihak? Sangat penting! Ketika seseorang itu dianggap “bersih” dan
tidak memihak oleh orang lain, maka kepercayaan itu akan datang dengan
sendirinya, seolah-olah orang yang independenlah itulah yang benar-benar peduli
terhadap nasib mereka. Padahal sebenarnya, tidak!
Mereka yang mengaku
independen adalah mereka yang tidak memiliki kepastian terhadap pilihannya.
Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa memastikan pilihannya bisa benar-benar
peduli terhadap rakyatnya. Mengutip pengakuan Tina Talisa, seorang wartawan
(profesi yang selalu menggaungkan visi independen) mengatakan bahwa dia selalu
mendapat wejangan dari pimpinannya “jangan pernah hianati pemirsa! Tapi,
ingatlah, sebagai “anak” jangan pernah durhaka kepada “orangtuamu”. Sekali
lagi, independen itu tidak pernah ada! Ia hanyalah sebuah topeng untuk tempat
persembuyian dari ketidakpastian. Menyalakan lilin itu lebih baik dari pada
mengutuki kegelapan. Semua dari kita pasti akan memihak! Persoalannya adalah di
pihak mana kita akan menjatuhkan pilihan, apakah tetap membela hak rakyat atau
sebaliknya.
Alasan
lain kenapa saya tergerak untuk menulis ini adalah ada ungkapan keprihatinan yang
ingin saya sampaikan tentang postingan-postingan yang membanjir di beranda facebook
beberapa waktu terakhir ini, sebut saja atas nama “masa kampanye”. Kira-kira 90 % dari jumlah keseluruhan teman
saya di facebook rata-rata berstatus mahasiswa, 70 % berasal dari kampus yang
sama. Saya hampir dibuat gerah oleh beberapa postingan yang saling berusaha
untuk menjatuhkan lawan politiknya dari partai yang mereka gandrungi. Ada
beberapa postingan yang menurut saya sangat tidak etis untuk dishare-kan,
apalagi tingkat kebenaran dan ketelitiannya masih dipertanyakan. Masing-masing
meyakini kebenaran berita yang mereka bagikan, tetapi sayangnya ketika untuk
diminta membuktikan, keduanya hanya bisa berkata : a e a em. Yakinlah, hanya
bukti yang bisa meyakinkan.
Sampai
saat ini pun masih susah bagi saya untuk menunjukkan sebuah kebenaran, karena
yang saya bawa barulah sebatas keyakinan. Mungkin itulah sebenarnya yang
dibutuhkan oleh teman-teman saya, bahwa yang mereka butuhkan adalah kebenaran
bukan sebatas keyakinan. Susah sekali untuk membuat percaya orang lain tentang
keyakinan kita bahwa belimbing di rumah kita rasanya manis, kecuali jika
benar-benar mau membawakan barang 5 biji untuk bisa meyakinkan mereka.
0 komentar:
Posting Komentar