Jumat, 08 Januari 2016

Tanpa Harus Menyakiti Budaya!



Akidah Islam

Adakah kita pernah bertanya, mengapa pada satu waktu kereta yang melaju bisa terlepas dari relnya? Ya, tentu ada beragam penyebabnya. Entah karena sentakan kecepatan yang tidak rata, karena jarak relnya yang sudah berubah, atau bisa juga karena pengait antar rel-nya lepas. Sama halnya ketika kita berbicara tentang Islam, yang fitrahnya adalah agama bagi seluruh alam, akan tetapi dalam konteks majemuk pengamalannya seringkali kita dihadapkan pada situasi yang mau tidak mau kita harus memakluminya sementara. Kita dilahirkan dan tumbuh di lingkungan yang dihidupi oleh budaya, bahkan sebenarnya kita pun sedang menciptakan dan mewariskan sebuah budaya. Bermula dari itu, untuk menyandingkan antara Islam dan budaya, seolah-olah kita harus membuat tebing sebagai pembatasnya. Di sinilah letak persoalannya, ketika hal-hal yang berkaitan dengan budaya dipertemukan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, maka akan terjadi banyak benturan yang saling memisahkan. Dan tentu ini bukan persoalan yang sangat mudah untuk mendamaikan keduanya, apalagi hal ini berkaitan dengan sensitifitas sosial budaya, dan lagi-lagi budaya adalah salah satu pelopor keberagaman persatuan dan kesatuan bangsa ini. 

Rasulullah SAW membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki akidah umat Islam setelah mengalami masa Jahilliyah. Jika ditelisik, betapa sangat mendasar sesungguhnya bekal akidah bagi seorang muslim untuk mendalami islamnya. Akidah adalah landasan yang paling dan sangat utama, karena di atasnya akan dibangun islam yang kaffah, akhlak yang mulia dan ibadah yang benar. Seperti rel yang jika komponen-komponen pengaitnya terlepas, maka laju kereta pun menjadi morak-marik dan sangat membahayakan. Tidak jauh berbeda dengan akidah, jika ia menyimpang maka rusaklah islam seseorang. Ada banyak hal yang sebenarnya sedang mengintai dan mengusik ketenangan umat islam saat ini, salah satunya adalah penyimpangan akidah. Kenapa harus akidah? Ya, karena itu adalah pondasi utama seorang muslim memuliakan islamnya. Jika akidah seseorang berhasil dikaburkan oleh serangan pemahaman-pemahaman yang sangat berlawanan dengan ajaran islam, maka mudah saja islam seseorang itu untuk dihancurkan, kenapa? Karena pondasinya agamanya berhasil ditaklukkan.

Menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (Direktur Utama Insist), berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini :

a. Program globalisasi dan Westernisasi ; adapun tujuannya adalah menyebarkan paham sekularisme, rasionalisme, pragmatisme, humanisme liberal, empirisme, dualism, desakralisasi, sophisme, nasionalisme, kapitalisme dan sekularisme

b. Paham – paham Barat postmordern : membawa paham nihilsm, relativisme, pluralisme, persamaan gender dan dekonstruksionisme.

Semua paham-paham tersebut sebetulnya sengaja dimasukkan ke dalam pikiran dan kehidupan umat Islam dalam bentuk sistem, konsep bahkan budaya, politik, gerakan ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk memisahkannya dari Islam. Secara keseluruhan konsep-konsep atau paham-paham Barat sekuler-liberal bertentangan dengan pandangan hidup Islam, karena berusaha merekayasa dan memutarbalikkan hal-hal yang sangat mendasar dengan tujuan agar hubungannya dengan Islam menjadi terpisah. Inilah yang patut menjadi koreksi kita bersama, bahwa yang dihadapi Islam saat ini bukan lagi persoalan di Sabang sahur jam berapa, di Merauke buka jam berapa, tetapi jauh lebih mengerikan dari pada itu.

Kompleksnya lini kehidupan yang dikuasai oleh pengaruh peradaban barat sekuler-liberal saat ini, tentu bukan masalah yang bisa dianggap remeh. Sulit membayangkan betapa mengerikannya ketika akidah yang sedang dalam masa tumbuh dan sedang meraba tempat menetapnya, dikaburkan seketika oleh paham-paham yang sangat merusak. Betapa banyaknya gejala itu muncul di sekeliling kita; anak-anak muda memuja selebriti yang tingkah lakunya tidak semestinya, gaya hidup yang berlebihan, dunia malam dan sex bebas. Sementara menjadi harapan kita semua, bahwa mereka adalah tulang punggung islam di masa mendatang. Tapi entahlah, agaknya geliat dan semangat untuk menyelamatkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam seperti tak bersuara dan sayu-sayu tak terdengar. Ada apa ini? Akidah islam diinjak-diinjak, tapi kita diam saja? Apa mungkin kita telah menjadi budak dari salah satu paham yang menyatakan dirinya sebagai musuh islam? Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah segera membukakan pintu hidayah bagi kita semua.

Sekularisme: paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.

Rasionalisme: teori (paham) yg menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (kebenaran) yg lepas dr jangkauan indra; paham yg lebih mengutamakan (kemampuan) akal dp emosi

Pragmatisme: Kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dsb), bergantung pd penerapannya bagi kepentingan manusia.

Liberalisme: Aliran yang menghendaki kebebasan pribadi

Beberapa bulan silam, negara ini menyatakan dirinya sebagai tuan rumah penyelenggaraan ajang miss world. Ironis, ketika di sisi lain bangsa ini diakui sebagai negera yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi nyatanya tidak ada gerakan nasional yang menyatakan perlawanan sama sekali. Jika pun ada, hanya beberapa golongan kecil saja yang menyuarakan gelisah keimananya. Betapa mengharukannya, program yang berembel-embel akan memperkenalkan Indonesia di dunia internasional ini, mampu menghipnotis umat islam di indonesia untuk diam bahkan turut serta menikmati acara itu. Ya, bagaimana mungkin kita sebagai seorang muslim berterima ketika kehormatan wanita dilecehkan, anak-anak kita menjadi terkotori fitrahnya, akibat menjadi korban TV yang menyiarkan langsung acara itu. Gaya hidup glamour, hedonis dan konsumerisme yang terkemas dalam acara itu betapa sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan Islam untuk berlaku hidup sederhana dan tidak berlebihan. Ya, sekali lagi akidah umat Islam sedang di ujung tanduk.

Kedudukan Islam dan Budaya

Ketika serombongan pemuda Islam menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka mengidolakan bahkan sampai memuja-muja tokoh yang sosoknya jauh dari konsep teladan Islam, misalnya; Atau ketika seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai imam masjid di desa, di lain waktu memimpin ritual sesaji di pemakaman; Adakah indikasi menyimpang dari kedua perilaku itu? Ya, tentu. Ini tentang persoalan yang paling fundamental dalam hidup seorang muslim, akidah sebagai dasar keyakinan bahwa islam adalah bagian dari dirinya. Menggeledah tentang rukun islam, maka kenapa syarat untuk masuk islam adalah menyatakan kalimat laa ilaaha illallah yang kemudian dilanjutkan dengan memantapkan hati untuk mengabdi kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Adapun sesuatu yang biasa saja jika dibiasakan tentu akan menjadi sebuah kebiasaan yang berpola khas dan menunjukkan cirinya. Budaya, adalah hasil kreasi manusia, dan selama manusia itu bergerak maka ia sedang menciptakan kebudayaan. Lantas, dimanakah seharusnya peran Islam dalam usaha manusia mengembangkan budayanya?

Orientasi yang seringkali menimbulkan crash antara Islam dan budaya, adalah ketika menempatkan keduanya di lajur yang berbeda. Padahal, jika kita memahami konsep syumulul Islam yang berarti bahwa Islam itu total dan menyeluruh dalam mengatur segala aspek kehidupan, maka budaya adalah salah satu yang termasuk di dalamnya. Walaupun dalam konsep lingkaran kebudayaan yang berkembang, agama merupakan bagian ataupun pilar dari budaya, akan tetapi dari segi fungsional yang sangat mendasar, agamalah yang bertugas menyelaraskan budaya. Why? Karena bagaimana mungkin, sebagai umat beragama kita lebih memberatkan budaya yang notabene adalah hasil kreasi manusia, sementara agama (Islam) adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad (nabi terakhir) sebagai cahaya/ petunjuk bagi umat seluruh alam. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Mulkhan (2000: 104): “Kebudayaan harus diartikan sebagai bentuk-bentuk transformasi dari proses pendekatan manusia pada kedudukan Tuhan atau taqarrub ilallah. Pengertian demikian akan mendorong peng-kaya-an dan pengembangan kebudayaan secara terus-menerus ke arah kualifikasi ilahiah, sehingga mempertinggi martabat kemanusiaan” [1]

Maka, di sinilah seharusnya peran Islam diletakkan dalam proses membangun kehidupan manusia, yaitu sebagai pengatur, penyeimbang dan penyelaras kebudayaan. Dengan kata lain adalah menjadikan budaya sebagai media untuk mendekatkan diri dan meningkatkan kecintaan kita kepada Allah sekaligus merekatkan hubungan sosial antar sesama manusia dalam mengemban tugas yang sama, beribadah.

Islam Merangkul Budaya

Ketika pondasi sebuah bangunan sudah diletakkan pada tempat yang seharusnya, maka Insya Allah tahap demi tahap dari proses pembangunan itu akan terarahkan untuk menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan fungsi dan posisinya masing-masing. Begitu juga dengan persoalan kehidupan, jika pedoman, hukum dan sistem yang mengatur itu jelas; Islam, maka untuk menjalankan dan menetapkan suatu hal, Insya Allah akan berpihak pada kebenaran yang hakiki. Umar mengatakan (dalam buku Dr. Yusuf Al- Qardhawy) : “Kebenaran itu amat jelas, tidak samar bagi orang yang pandai (memahaminya)” [2]

Ditambahkan lagi di dalam As Sunnan dan Musnad serta lainnya dari An Nawas bin Sam’an (dalam buku Yusuf Al-Qardhawy), Nabi SAW bersabda :
“Allah memberikan sebuah contoh jalan yang lurus, dan pada yang kedua sisi jalan terdapat dua pagar, dan pada kedua pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang selalu terbuka. Dan pada pintu-pintu tersebut terdapat tabir – tabir yang tergerai, dan penyeru yang selalu memanggil dari awal jalan, serta penyeru yang selalu memanggil dari atas jalan. Jalan yang lurus itu adalah Islam, tabir – tabir yang tergerai alah hukum – hukum Allah, pintu – pintu yang selalu terbuka adalah larangan – larangan Allah. Maka jika seorang hamba hendak membuka salah satu pintu dari pintu – pintu tersebut, ia akan dipanggil oleh seorang penyeru : “Wahai hamba Allah, jangan kau buka pintu itu, karena kalau kamu membukanya kamu pasti akan bersikeras memasukinya. Penyeru dari awal jalan itu adalah kitabullah, dan penyeru dari atas jalan adalah nasihat Allah di dalam hati setiap orang beriman” [3]

Menyadari bahwa segala sesuatu berjalan secara bertahap, maka untuk mengembalikan islam sebagai pedoman kehidupan, tidak mungkin akan selesai satu atau dua hari saja, kita butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjalankan proses pembenahan ini. Lewat dakwah yang terkonsep, tertata dan berkelanjutan, itulah yang bisa kita lakukan. Menggandeng budaya untuk mencapai apa yang kita cita – citakan bersama: islam yang kaffah, islam yang masyhur. Tentu akan banyak tantangan yang kita hadapi ketika mencoba merangkul budaya dalam ikhtiar kita menyampaikan wahyu Allah, mengingat bahwa budaya memiliki daya sensitifitas yang sangat tinggi. Persepsi awam sering menganggap bahwa ketika budaya disandingkan dengan Islam, maka habislah budaya itu. Padahal jika kita menilik konsep yang ada di awal, tugas Islam adalah menjaga, mengatur dan menyelaraskan kehidupan manusia, bukan untuk melenyapkan kehidupan. Justru Islam berada di garda terdepan untuk melepaskan dari jeratan jaman jahilliyah,-kebodohan dan mengantarkan umat manusia menuju peradaban, -segala yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.

Berangkat dari masyarakat yang sangat dekat dengan budaya, maka bertolak dari itu adalah kewajiban kita bersama untuk berdakwah menyesuaikan dengan bahasa kaum kita. Memasukkan nilai – nilai Islam dalam budaya tanpa mengurangi sedikitpun nilai yang ada dalam Islam itu sendiri ; tauhid. Benturan yang seringkali terjadi adalah meluruhnya esensi Islam yang tersampaikan melalui budaya, sehingga hal inilah yang menyebabkan posisi Islam masih kabur / samar-samar di tengah kerumunan budaya. Why? Karena pemahaman tauhid, yang merupakan pondasi awal, diabaikan. Betapa sangat pentingnya kejelasan akidah tentang pemahaman tauhid, bahkan hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membenahi akidah umat islam dari masa transisi jahilliyah dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sekali lagi, mengapa penekanan terhadap pemahaman tauhid sangat diutamakan, karena jika tidak, dakwah yang telah dilakukan dengan penuh perjuangan ini, hanya akan sia – sia. Betapa banyak orang yang terombang – ambing karena saking banyaknya paham – paham dari luar Islam yang berkembang di masyarakat. Inilah yang menjadi tantangan kita bersama di jalan dakwah ini, membenahi akidah tanpa menyakiti budaya yang terlanjur mengikat masyarakat kita. Maka, entah akan bertopeng dengan gaya apa, yang jelas nilai-nilai Islam harus tetap tersampaikan dengan utuh, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Dan akhirnya, izinkan kalimat ini terkukuhkan dengan doa : “semoga keharmonisan Islam dan budaya mengantarkan kita pada satu rasa yang sama : Cinta karena Allah”.
____________________________________________________


[1] Kutipan tersebut diambil dari buku karya Abdul Munir Mulkhan yang berjudul “Kearifan Tradisional Agama bagi Manusia atau Tuhan”. Tahun Terbit : 2000. Penerbit : UII Press Yogyakarta (Anggota Ikapi). Yogyakarta.

[2] Dikutip dari buku karya Dr. Yusuf Al- Qardhawy yang berjudul “Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyi, Mimpi,Jimat, Perdukunan dan Jampi” : Halaman 39. Tahun Terbit : 1997. Penerbit : Bina Tsaqafah, Jakarta.

[3] Dikutip dari buku karya Dr. Yusuf Al- Qardhawy yang berjudul “Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyi, Mimpi,Jimat, Perdukunan dan Jampi” : Halaman 40. Tahun Terbit : 1997. Penerbit : Bina Tsaqafah, Jakarta.

***
ditulis dalam rangka menyambut sarasehan nasional forum SKI berbasis budaya oleh : @win_wir, desain logo : Gafar Baba
Anggota Tim Jaringan UKMF AL-HUDA FBS UNY Tahun 2013



Topeng


Latar belakang yang mendasari saya menulis catatan ini adalah kekecewaan saya terhadap gerakan mahasiswa yang menolak pengenalan politik di wilayah kampus. Ada yang mengejutkan ketika pendidikan politik di area kampus dianggap sebagai suatu hal yang seolah-olah kotor dan menjijikkan. Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin pemikiran semacam itu diutarakan oleh mahasiswa yang mengklaim dirinya sebagai seorang yang  idealis , independen dan peduli. Saya prihatin, ketika pendidikan politik akan menjadi hal yang terlarang dan berhukum haram di kampus saya. Coba bandingkan, antara pendidikan politik yang difasilitasi KPU dan berstatus diizinkan oleh birokrasi dengan aksi pornografi dan budaya seks bebas. Kira-kira, dari dua hal di atas, mana yang paling menunjukkan tingkat kebobrokan moral yang paling tinggi. Logikanya jika kita masih berakal, bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang telah mendapat pendidikan politik di kampus akan terlibat sebagai pelaku kroyokan dalam kampanye, menggembar-gemborkan sepeda motor di jalan. 

Coba bayangkan, apakah manusiawi mahasiswa yang berpendidikan menjadi simpatisan kampanye brutal?! Saya tidak berhenti berfikir, betapa kasihannya mahasiswa yang mengaku-ngaku idealis, independen dan peduli, memutuskan untuk tidak mau tahu tentang politik. Sementara rakyat (yang statusnya menjadi objek kepedulian mereka) adalah yang menjadi korban politik. Lalu, di mana letak idealisme, independensi dan kepedulian mahasiswa terhadap rakyat, jika belajar politik di kampus saja dilarang? Jika kita benar-benar berakal, seharusnya bukan pendidikan politiknya yang kita bekukan, tetapi kegiatan politik bersih yang harusnya kita gerakkan.  

Jika ada yang mengatakan bahwa dirinya independen, maka sebenarnya ia telah berbohong kepada dirinya sendiri dan orang lain. Selagi manusia hidup, punya akal, ambisi dan cita-cita maka sebenarnya ia memiliki tendensi (kecenderungan). Hanya saja, manusia itu memang pandai bermain topeng, ia mengatakan bahwa dirinya independen, padahal sebenarnya tidak! Bagaimana mungkin seseorang mengatakan bahwa dirinya independen, sementara selama manusia itu masih hidup bersama dengan manusia yang lain, maka mutlak mereka saling menggantungkan urusan satu sama lain. Independen hanyalah sebuah topeng untuk terlihat “bersih” dan tidak memihak. Seberapa penting untuk terlihat “bersih” dan tidak memihak? Sangat penting! Ketika seseorang itu dianggap “bersih” dan tidak memihak oleh orang lain, maka kepercayaan itu akan datang dengan sendirinya, seolah-olah orang yang independenlah itulah yang benar-benar peduli terhadap nasib mereka. Padahal sebenarnya, tidak! 

Mereka yang mengaku independen adalah mereka yang tidak memiliki kepastian terhadap pilihannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa memastikan pilihannya bisa benar-benar peduli terhadap rakyatnya. Mengutip pengakuan Tina Talisa, seorang wartawan (profesi yang selalu menggaungkan visi independen) mengatakan bahwa dia selalu mendapat wejangan dari pimpinannya “jangan pernah hianati pemirsa! Tapi, ingatlah, sebagai “anak” jangan pernah durhaka kepada “orangtuamu”. Sekali lagi, independen itu tidak pernah ada! Ia hanyalah sebuah topeng untuk tempat persembuyian dari ketidakpastian. Menyalakan lilin itu lebih baik dari pada mengutuki kegelapan. Semua dari kita pasti akan memihak! Persoalannya adalah di pihak mana kita akan menjatuhkan pilihan, apakah tetap membela hak rakyat atau sebaliknya. 

Alasan lain kenapa saya tergerak untuk menulis ini adalah ada ungkapan keprihatinan yang ingin saya sampaikan tentang postingan-postingan yang membanjir di beranda facebook beberapa waktu terakhir ini, sebut saja atas nama “masa kampanye”.  Kira-kira 90 % dari jumlah keseluruhan teman saya di facebook rata-rata berstatus mahasiswa, 70 % berasal dari kampus yang sama. Saya hampir dibuat gerah oleh beberapa postingan yang saling berusaha untuk menjatuhkan lawan politiknya dari partai yang mereka gandrungi. Ada beberapa postingan yang menurut saya sangat tidak etis untuk dishare-kan, apalagi tingkat kebenaran dan ketelitiannya masih dipertanyakan. Masing-masing meyakini kebenaran berita yang mereka bagikan, tetapi sayangnya ketika untuk diminta membuktikan, keduanya hanya bisa berkata : a e a em. Yakinlah, hanya bukti yang bisa meyakinkan.


Sampai saat ini pun masih susah bagi saya untuk menunjukkan sebuah kebenaran, karena yang saya bawa barulah sebatas keyakinan. Mungkin itulah sebenarnya yang dibutuhkan oleh teman-teman saya, bahwa yang mereka butuhkan adalah kebenaran bukan sebatas keyakinan. Susah sekali untuk membuat percaya orang lain tentang keyakinan kita bahwa belimbing di rumah kita rasanya manis, kecuali jika benar-benar mau membawakan barang 5 biji untuk bisa meyakinkan mereka.   

Menjadi Guru itu, Tergugah atau Tergugat?

Ada banyak hal di sekeliling kita yang terkadang kita remehkan dan jarang terjamah oleh perhatian kita, padahal beberapa di antaranya, tidak sedikit yang justru memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita. Maka benarlah petuah kehidupan : “beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari masa sebelumnya”, karena orang-orang yang bisa mendapatkan hikmah adalah mereka yang menggunakan akal dan mata hatinya untuk berpikir. Pengalaman di masa lalu, maka layaklah ia disebut sebagai guru kehidupan, karena ia yang mengajarkan bagaimana sebuah kesalahan itu tidak seharusnya terulang.

Memang, kemana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun.

Ada yang mengharukan ketika wajah-wajah jujur dan penyantun itu, harus tersingkir oleh nafsu segerombolan “buas” yang kelaparan. Keringat dan kasih sayang mereka yang begitu tulus selama ini, harus berebut desak dengan iming-iming naik pangkat dan embel-embel uang di mejanya. Sungguh, betapa ternodainya harga mulia yang selama ini tersemat untuk guru-guru kita, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun demikian memang sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada mereka, yang seharusnya tidak melulu menjadikan uang sebagai patokan kehormatan, tetapi lebih dari itu.

Prestasi seorang anak, menjadi isyarat yang nampak bahwa seorang guru itu pernah ada dan membuat seseorang itu ada. Siapa yang membuat Hellen Keller, seorang yang hanya bisa melihat kegelapan dan mendengar kesunyian, bisa bertahan hidup? Ya, tentu kehendak Allah! Tetapi, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu mau berusaha mengubahnya?! Lantas bagaimana dengan seorang Hellen Keller, yang berulang kali mencoba bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya, menjadi seorang yang buta dan tuli?! Seorang guru penyabar pun datang, ia mulai mengenalkan Hellen pada kehidupan. Belajar mengenal dan mengeja sebuah kata yang memberikan tetes-tetes kehidupan, dan zat pertama yang ia kenal adalah air.

Pernahkah kita membayangkan betapa tersiksanya menjadi seorang Hellen Keller, yang hanya berbekal indera peraba dan pencium, sementara kini semangatnya yang mahsyur bisa menggugah jiwa mati jutaan orang yang mengenangnya. Ia menjadi tokoh besar yang begitu dikagumi karya-karyanya, semangatnya dan sosoknya. Dan titik puncak yang tercapai ini, tidak terlepas dari perjuangan seorang guru yang mendampingi dan mengajarkan ia tentang kehidupan. Sosok guru yang jauh lebih bahagia, dihargai dengan sebuah prestasi muridnya, daripada hanya sebatas rupiah ataupun dollar.

Kehormatan seorang guru bukan terletak pada berapa tumpuk pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan selama setahun ia mengajar, melainkan seberapa bermanfaat ilmu yang ia bagikan kepada murid-muridnya sehingga menjadikan mereka bermartabat. Ironis, ketika pendidikan begitu mendapat perhatian pemerintah negeri ini; guru ditingkatkan kesejahteraannya, dana BOS bergilir, tetapi kualitas produk pendidikan masih saja semrawut. Tawuran pelajar di mana-mana, sex bebas, narkotika dan segala jenis penyimpangan sosial lainnya, menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda negeri ini. Ada yang salah dengan kondisi ini, entah pendidikannya atau bahkan sangat mungkin kualitas sumber daya pendidiknya yang bermasalah.

Jadi, menjadi guru itu tergugah atau tergugat? Tidak ada yang salah di antara keduanya, memutuskan untuk memilih menjadi seorang guru adalah karena kita tergugah untuk peduli terhadap masa depan negeri ini. Lalu, apakah menjadi seorang guru itu, tergugat? Tidak melulu harus berprofesi sebagai guru ataupun menyandang status guru, kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, dan yang paling penting adalah mengajarkannya, walaupun itu hanya satu ayat.
**************************************************
*sebuah tulisan lama yang pernah mengisi rubrik artikel di buletin tutorial UNY

Timur Menggugat Miss World

Mas-mas åjå dipléroki, mas-mas åjå dipoyoki, karêpku njaluk dièsȇmi,
tingkah lakumu kudu ngȇrti cårå, åjå ditinggal kapribaden katimuran!
mêngko gȇk kèri ing jaman?
mbok yå sing éling!
éling bab åpå?
iku budåyå!
pancèné bȇnêré kandamu.
( Karya Ki Narto Sabda, Tokoh Budayawan )

Begitulah petikan lirik tembang Jawa, yang merupakan perwakilan sebuah ungkapan keprihatinan terhadap runtuhnya kehormatan dan kedudukan budaya ketimuran di negerinya sendiri. Bagaimana kita akan dikenal sebagai bangsa, jika kita tidak pernah mengakui dan menghargai budaya kita sendiri. 

Adab unggah-ungguh / tahu sopan santun, begitu melekat pada bangsa ini ketika kita tampil dan berdiri atas nama Indonesia. Di belahan dunia manapun, di negara bagian manapun, ketika kita menginjakkan kaki di sana, mau tidak mau, maka kita adalah perwajahan dari budaya bangsa Indonesia. Negara ini tidak pernah merdeka, selama bangsa kita masih menjadi budak yang setia untuk bangsa lain.

Berlindung dari godaan seni yang terkutuk. Ketika kita berbicara budaya, maka ada yang janggal jika kita tidak mengungkit tentang seni, karena pada dasarnya, senilah yang mengangkat harga tinggi sebuah budaya. Menyoal tentang seni, betapa peranan nilai estetik memegang kuasa tertinggi untuk menentukan harga sebuah karya, apakah ia layak disebut mahal atau tidak. Mengungkat hakikat nilai estetika dalam seni, ada yang ganjil ketika kita berbicara nilai tetapi menghilangkan unsur pembatasnya, yaitu norma. Hanya orang yang tidak berakal sehat, yang mengatakan foto wanita telanjang adalah seni. Bagaimana mungkin orang yang berakal sehat akan menilai bahwa itu adalah seni, sementara jelas bahwa itu adalah tindakan yang menistakan norma-norma yang ada di masyarakat kita, baik itu norma agama, kesusilaan, kesopanan dan juga norma hukum. Sekali lagi, hanya orang yang tidak mampu menggunakan akalnya, yang tetap berkeyakinan bahwa peraturan adalah untuk dilanggar.

Ajang kontes kecantikan, Miss World adalah salah satu bentuk penodaan terhadap agama, penistaan terhadap martabat wanita dan penghianatan terhadap budaya luhur bangsa Indonesia. Berhentilah bersorak merdeka, jika kita hanya diam ketika budaya luhur kita diinjak-injak oleh segelintir orang licik yang mengatasnamakan dan mengagung-agungkan seni estetika. Bagaimana mungkin, ukuran keindahan dan kecantikan seorang wanita hanya dinilai dari tampilan fisiknya saja? Betapa murahannya, wanita-wanita yang tergila-gila dengan pujian mahkota “ratu kecantikan” itu. Ketika saudara-saudara kita di Timur Tengah sedang berjuang syahid menjaga kehormatan mahkotanya sebagai seorang wanita (menutup aurat), negara ini sedang menjamu istimewa para penista martabat wanita. Ironis? Ya, maka jangan salahkan, jika moral bangsa negeri ini, hancur!

Kontes kecantikan adalah arena tumbal. Bagaimana tidak? Milyaran kertas dollar berserakan di sana. Siapa yang memungutinya? Yang menjadi dalang dan pengiringnya. Monopoli bisnis, konspirasi licik yang siap meraup untung sebanyak-banyaknya. Alurnya, bagaimana mungkin tidak melibatkan perusahaan kosmetik, salon kecantikan, penata busana dan media penyiaran, logikanya ini adalah persekongkolan bisnis luar biasa yang mengatasnamakan seni, padahal senyatanya mereka sedang berdagang wanita secara murah-murahan. Lalu, siapa yang menjadi tumbalnya? Bisa ditebak, mereka adalah peserta dan penontonnya.

Maka, apa yang menjadikan kita berat hati untuk membela hak Allah, menyelamatkan peradaban bangsa ini dari kehancuran moral yang diskenario budak-budak iblis itu. Bukankah Allah telah menyelamatkan kita dari kekejaman dan kekejian zaman jahilliyah (kebodohan) melalui utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi terakhir yang menyampaikan risalah Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan,
 sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
[QS. Asy-Syams : 8-10]

*******************************************************

*sebuah tulisan lama yang pernah diposkan di web http://ukki.student.uny.ac.id/2013/09/07/timur-menggugat-miss-world/