Adakah kita pernah bertanya, mengapa pada satu waktu kereta yang melaju bisa terlepas dari relnya? Ya, tentu ada beragam penyebabnya. Entah karena sentakan kecepatan yang tidak rata, karena jarak relnya yang sudah berubah, atau bisa juga karena pengait antar rel-nya lepas. Sama halnya ketika kita berbicara tentang Islam, yang fitrahnya adalah agama bagi seluruh alam, akan tetapi dalam konteks majemuk pengamalannya seringkali kita dihadapkan pada situasi yang mau tidak mau kita harus memakluminya sementara. Kita dilahirkan dan tumbuh di lingkungan yang dihidupi oleh budaya, bahkan sebenarnya kita pun sedang menciptakan dan mewariskan sebuah budaya. Bermula dari itu, untuk menyandingkan antara Islam dan budaya, seolah-olah kita harus membuat tebing sebagai pembatasnya. Di sinilah letak persoalannya, ketika hal-hal yang berkaitan dengan budaya dipertemukan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, maka akan terjadi banyak benturan yang saling memisahkan. Dan tentu ini bukan persoalan yang sangat mudah untuk mendamaikan keduanya, apalagi hal ini berkaitan dengan sensitifitas sosial budaya, dan lagi-lagi budaya adalah salah satu pelopor keberagaman persatuan dan kesatuan bangsa ini.
Rasulullah SAW membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki akidah umat Islam setelah mengalami masa Jahilliyah. Jika ditelisik, betapa sangat mendasar sesungguhnya bekal akidah bagi seorang muslim untuk mendalami islamnya. Akidah adalah landasan yang paling dan sangat utama, karena di atasnya akan dibangun islam yang kaffah, akhlak yang mulia dan ibadah yang benar. Seperti rel yang jika komponen-komponen pengaitnya terlepas, maka laju kereta pun menjadi morak-marik dan sangat membahayakan. Tidak jauh berbeda dengan akidah, jika ia menyimpang maka rusaklah islam seseorang. Ada banyak hal yang sebenarnya sedang mengintai dan mengusik ketenangan umat islam saat ini, salah satunya adalah penyimpangan akidah. Kenapa harus akidah? Ya, karena itu adalah pondasi utama seorang muslim memuliakan islamnya. Jika akidah seseorang berhasil dikaburkan oleh serangan pemahaman-pemahaman yang sangat berlawanan dengan ajaran islam, maka mudah saja islam seseorang itu untuk dihancurkan, kenapa? Karena pondasinya agamanya berhasil ditaklukkan.
Menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (Direktur Utama Insist), berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini :
a. Program globalisasi dan Westernisasi ; adapun tujuannya adalah menyebarkan paham sekularisme, rasionalisme, pragmatisme, humanisme liberal, empirisme, dualism, desakralisasi, sophisme, nasionalisme, kapitalisme dan sekularisme
b. Paham – paham Barat postmordern : membawa paham nihilsm, relativisme, pluralisme, persamaan gender dan dekonstruksionisme.
Semua paham-paham tersebut sebetulnya sengaja dimasukkan ke dalam pikiran dan kehidupan umat Islam dalam bentuk sistem, konsep bahkan budaya, politik, gerakan ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk memisahkannya dari Islam. Secara keseluruhan konsep-konsep atau paham-paham Barat sekuler-liberal bertentangan dengan pandangan hidup Islam, karena berusaha merekayasa dan memutarbalikkan hal-hal yang sangat mendasar dengan tujuan agar hubungannya dengan Islam menjadi terpisah. Inilah yang patut menjadi koreksi kita bersama, bahwa yang dihadapi Islam saat ini bukan lagi persoalan di Sabang sahur jam berapa, di Merauke buka jam berapa, tetapi jauh lebih mengerikan dari pada itu.
Kompleksnya lini kehidupan yang dikuasai oleh pengaruh peradaban barat sekuler-liberal saat ini, tentu bukan masalah yang bisa dianggap remeh. Sulit membayangkan betapa mengerikannya ketika akidah yang sedang dalam masa tumbuh dan sedang meraba tempat menetapnya, dikaburkan seketika oleh paham-paham yang sangat merusak. Betapa banyaknya gejala itu muncul di sekeliling kita; anak-anak muda memuja selebriti yang tingkah lakunya tidak semestinya, gaya hidup yang berlebihan, dunia malam dan sex bebas. Sementara menjadi harapan kita semua, bahwa mereka adalah tulang punggung islam di masa mendatang. Tapi entahlah, agaknya geliat dan semangat untuk menyelamatkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam seperti tak bersuara dan sayu-sayu tak terdengar. Ada apa ini? Akidah islam diinjak-diinjak, tapi kita diam saja? Apa mungkin kita telah menjadi budak dari salah satu paham yang menyatakan dirinya sebagai musuh islam? Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah segera membukakan pintu hidayah bagi kita semua.
Sekularisme: paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.
Rasionalisme: teori (paham) yg menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (kebenaran) yg lepas dr jangkauan indra; paham yg lebih mengutamakan (kemampuan) akal dp emosi
Pragmatisme: Kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dsb), bergantung pd penerapannya bagi kepentingan manusia.
Liberalisme: Aliran yang menghendaki kebebasan pribadi
Beberapa bulan silam, negara ini menyatakan dirinya sebagai tuan rumah penyelenggaraan ajang miss world. Ironis, ketika di sisi lain bangsa ini diakui sebagai negera yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi nyatanya tidak ada gerakan nasional yang menyatakan perlawanan sama sekali. Jika pun ada, hanya beberapa golongan kecil saja yang menyuarakan gelisah keimananya. Betapa mengharukannya, program yang berembel-embel akan memperkenalkan Indonesia di dunia internasional ini, mampu menghipnotis umat islam di indonesia untuk diam bahkan turut serta menikmati acara itu. Ya, bagaimana mungkin kita sebagai seorang muslim berterima ketika kehormatan wanita dilecehkan, anak-anak kita menjadi terkotori fitrahnya, akibat menjadi korban TV yang menyiarkan langsung acara itu. Gaya hidup glamour, hedonis dan konsumerisme yang terkemas dalam acara itu betapa sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan Islam untuk berlaku hidup sederhana dan tidak berlebihan. Ya, sekali lagi akidah umat Islam sedang di ujung tanduk.
Kedudukan Islam dan Budaya
Ketika serombongan pemuda Islam menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka mengidolakan bahkan sampai memuja-muja tokoh yang sosoknya jauh dari konsep teladan Islam, misalnya; Atau ketika seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai imam masjid di desa, di lain waktu memimpin ritual sesaji di pemakaman; Adakah indikasi menyimpang dari kedua perilaku itu? Ya, tentu. Ini tentang persoalan yang paling fundamental dalam hidup seorang muslim, akidah sebagai dasar keyakinan bahwa islam adalah bagian dari dirinya. Menggeledah tentang rukun islam, maka kenapa syarat untuk masuk islam adalah menyatakan kalimat laa ilaaha illallah yang kemudian dilanjutkan dengan memantapkan hati untuk mengabdi kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Adapun sesuatu yang biasa saja jika dibiasakan tentu akan menjadi sebuah kebiasaan yang berpola khas dan menunjukkan cirinya. Budaya, adalah hasil kreasi manusia, dan selama manusia itu bergerak maka ia sedang menciptakan kebudayaan. Lantas, dimanakah seharusnya peran Islam dalam usaha manusia mengembangkan budayanya?
Orientasi yang seringkali menimbulkan crash antara Islam dan budaya, adalah ketika menempatkan keduanya di lajur yang berbeda. Padahal, jika kita memahami konsep syumulul Islam yang berarti bahwa Islam itu total dan menyeluruh dalam mengatur segala aspek kehidupan, maka budaya adalah salah satu yang termasuk di dalamnya. Walaupun dalam konsep lingkaran kebudayaan yang berkembang, agama merupakan bagian ataupun pilar dari budaya, akan tetapi dari segi fungsional yang sangat mendasar, agamalah yang bertugas menyelaraskan budaya. Why? Karena bagaimana mungkin, sebagai umat beragama kita lebih memberatkan budaya yang notabene adalah hasil kreasi manusia, sementara agama (Islam) adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad (nabi terakhir) sebagai cahaya/ petunjuk bagi umat seluruh alam. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Mulkhan (2000: 104): “Kebudayaan harus diartikan sebagai bentuk-bentuk transformasi dari proses pendekatan manusia pada kedudukan Tuhan atau taqarrub ilallah. Pengertian demikian akan mendorong peng-kaya-an dan pengembangan kebudayaan secara terus-menerus ke arah kualifikasi ilahiah, sehingga mempertinggi martabat kemanusiaan” [1]
Maka, di sinilah seharusnya peran Islam diletakkan dalam proses membangun kehidupan manusia, yaitu sebagai pengatur, penyeimbang dan penyelaras kebudayaan. Dengan kata lain adalah menjadikan budaya sebagai media untuk mendekatkan diri dan meningkatkan kecintaan kita kepada Allah sekaligus merekatkan hubungan sosial antar sesama manusia dalam mengemban tugas yang sama, beribadah.
Islam Merangkul Budaya
Ketika pondasi sebuah bangunan sudah diletakkan pada tempat yang seharusnya, maka Insya Allah tahap demi tahap dari proses pembangunan itu akan terarahkan untuk menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan fungsi dan posisinya masing-masing. Begitu juga dengan persoalan kehidupan, jika pedoman, hukum dan sistem yang mengatur itu jelas; Islam, maka untuk menjalankan dan menetapkan suatu hal, Insya Allah akan berpihak pada kebenaran yang hakiki. Umar mengatakan (dalam buku Dr. Yusuf Al- Qardhawy) : “Kebenaran itu amat jelas, tidak samar bagi orang yang pandai (memahaminya)” [2]
Ditambahkan lagi di dalam As Sunnan dan Musnad serta lainnya dari An Nawas bin Sam’an (dalam buku Yusuf Al-Qardhawy), Nabi SAW bersabda :
“Allah memberikan sebuah contoh jalan yang lurus, dan pada yang kedua sisi jalan terdapat dua pagar, dan pada kedua pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang selalu terbuka. Dan pada pintu-pintu tersebut terdapat tabir – tabir yang tergerai, dan penyeru yang selalu memanggil dari awal jalan, serta penyeru yang selalu memanggil dari atas jalan. Jalan yang lurus itu adalah Islam, tabir – tabir yang tergerai alah hukum – hukum Allah, pintu – pintu yang selalu terbuka adalah larangan – larangan Allah. Maka jika seorang hamba hendak membuka salah satu pintu dari pintu – pintu tersebut, ia akan dipanggil oleh seorang penyeru : “Wahai hamba Allah, jangan kau buka pintu itu, karena kalau kamu membukanya kamu pasti akan bersikeras memasukinya. Penyeru dari awal jalan itu adalah kitabullah, dan penyeru dari atas jalan adalah nasihat Allah di dalam hati setiap orang beriman” [3]
Menyadari bahwa segala sesuatu berjalan secara bertahap, maka untuk mengembalikan islam sebagai pedoman kehidupan, tidak mungkin akan selesai satu atau dua hari saja, kita butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjalankan proses pembenahan ini. Lewat dakwah yang terkonsep, tertata dan berkelanjutan, itulah yang bisa kita lakukan. Menggandeng budaya untuk mencapai apa yang kita cita – citakan bersama: islam yang kaffah, islam yang masyhur. Tentu akan banyak tantangan yang kita hadapi ketika mencoba merangkul budaya dalam ikhtiar kita menyampaikan wahyu Allah, mengingat bahwa budaya memiliki daya sensitifitas yang sangat tinggi. Persepsi awam sering menganggap bahwa ketika budaya disandingkan dengan Islam, maka habislah budaya itu. Padahal jika kita menilik konsep yang ada di awal, tugas Islam adalah menjaga, mengatur dan menyelaraskan kehidupan manusia, bukan untuk melenyapkan kehidupan. Justru Islam berada di garda terdepan untuk melepaskan dari jeratan jaman jahilliyah,-kebodohan dan mengantarkan umat manusia menuju peradaban, -segala yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.
Berangkat dari masyarakat yang sangat dekat dengan budaya, maka bertolak dari itu adalah kewajiban kita bersama untuk berdakwah menyesuaikan dengan bahasa kaum kita. Memasukkan nilai – nilai Islam dalam budaya tanpa mengurangi sedikitpun nilai yang ada dalam Islam itu sendiri ; tauhid. Benturan yang seringkali terjadi adalah meluruhnya esensi Islam yang tersampaikan melalui budaya, sehingga hal inilah yang menyebabkan posisi Islam masih kabur / samar-samar di tengah kerumunan budaya. Why? Karena pemahaman tauhid, yang merupakan pondasi awal, diabaikan. Betapa sangat pentingnya kejelasan akidah tentang pemahaman tauhid, bahkan hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membenahi akidah umat islam dari masa transisi jahilliyah dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sekali lagi, mengapa penekanan terhadap pemahaman tauhid sangat diutamakan, karena jika tidak, dakwah yang telah dilakukan dengan penuh perjuangan ini, hanya akan sia – sia. Betapa banyak orang yang terombang – ambing karena saking banyaknya paham – paham dari luar Islam yang berkembang di masyarakat. Inilah yang menjadi tantangan kita bersama di jalan dakwah ini, membenahi akidah tanpa menyakiti budaya yang terlanjur mengikat masyarakat kita. Maka, entah akan bertopeng dengan gaya apa, yang jelas nilai-nilai Islam harus tetap tersampaikan dengan utuh, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Dan akhirnya, izinkan kalimat ini terkukuhkan dengan doa : “semoga keharmonisan Islam dan budaya mengantarkan kita pada satu rasa yang sama : Cinta karena Allah”.
____________________________________________________
[1] Kutipan tersebut diambil dari buku karya Abdul Munir Mulkhan yang berjudul “Kearifan Tradisional Agama bagi Manusia atau Tuhan”. Tahun Terbit : 2000. Penerbit : UII Press Yogyakarta (Anggota Ikapi). Yogyakarta.
[2] Dikutip dari buku karya Dr. Yusuf Al- Qardhawy yang berjudul “Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyi, Mimpi,Jimat, Perdukunan dan Jampi” : Halaman 39. Tahun Terbit : 1997. Penerbit : Bina Tsaqafah, Jakarta.
[3] Dikutip dari buku karya Dr. Yusuf Al- Qardhawy yang berjudul “Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyi, Mimpi,Jimat, Perdukunan dan Jampi” : Halaman 40. Tahun Terbit : 1997. Penerbit : Bina Tsaqafah, Jakarta.
***
ditulis dalam rangka menyambut sarasehan nasional forum SKI berbasis budaya oleh : @win_wir, desain logo : Gafar Baba
Anggota Tim Jaringan UKMF AL-HUDA FBS UNY Tahun 2013
