Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Cagak Apa Empyak

Kahanan negara kok saya suwe tansaya ora karuhan. Sing mula bukane saka rega BBM mundhak, banjur mudhun mintip-mintip kaya munggah gunung merapi, maju saklangkah mundure ping pindho. We lha, bola-bali pancen kahanan, dadiya wong cilik bisane mung nyuwara paling dhuwur mung isa sambat karo nggresula. Musibah sing ora kira wujude, kaya longsor Banjarnegara, motor mabur Air Asia tiba, Banjir, pasar kobong, lan mbok menawa isih akeh maneh. Ora marem karo berita musibah, e lha dalah, kok isih ketambahan lelakone pejabat sing nemen ngisin-ngisinke ukum negara. Mbiyen ugawis nate kedadeyan, KPK vs POLRI, saiki kok dibaleni meneh. Dinalar-nalar kok ketemune mung isi kewan, endi sing cecak nglawan kadal, banjur alihan menyang kadal nglawan baya. Idhak-idhak melu mikir, malah kadhang kala nambahi bubrah.Sakora-orane yen direwangi mikir, negarane isa mapan lan mener, jenenge we lelakon, jebule malah uripe dhewe pating klawer. Wis, nek ngono luwih karuhan ngangsu banyu tinimbang melu nggrundhe...

Tanpa Harus Menyakiti Budaya!

Akidah Islam Adakah kita pernah bertanya, mengapa pada satu waktu kereta yang melaju bisa terlepas dari relnya? Ya, tentu ada beragam penyebabnya. Entah karena sentakan kecepatan yang tidak rata, karena jarak relnya yang sudah berubah, atau bisa juga karena pengait antar rel-nya lepas. Sama halnya ketika kita berbicara tentang Islam, yang fitrahnya adalah agama bagi seluruh alam, akan tetapi dalam konteks majemuk pengamalannya seringkali kita dihadapkan pada situasi yang mau tidak mau kita harus memakluminya sementara. Kita dilahirkan dan tumbuh di lingkungan yang dihidupi oleh budaya, bahkan sebenarnya kita pun sedang menciptakan dan mewariskan sebuah budaya. Bermula dari itu, untuk menyandingkan antara Islam dan budaya, seolah-olah kita harus membuat tebing sebagai pembatasnya. Di sinilah letak persoalannya, ketika hal-hal yang berkaitan dengan budaya dipertemukan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, maka akan terjadi banyak benturan yang saling memisahkan. Dan tentu ini bu...

Topeng

Latar belakang yang mendasari saya menulis catatan ini adalah kekecewaan saya terhadap gerakan mahasiswa yang menolak pengenalan politik di wilayah kampus. Ada yang mengejutkan ketika pendidikan politik di area kampus dianggap sebagai suatu hal yang seolah-olah kotor dan menjijikkan. Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin pemikiran semacam itu diutarakan oleh mahasiswa yang mengklaim dirinya sebagai seorang yang  idealis , independen dan peduli. Saya prihatin, ketika pendidikan politik akan menjadi hal yang terlarang dan berhukum haram di kampus saya. Coba bandingkan, antara pendidikan politik yang difasilitasi KPU dan berstatus diizinkan oleh birokrasi dengan aksi pornografi dan budaya seks bebas. Kira-kira, dari dua hal di atas, mana yang paling menunjukkan tingkat kebobrokan moral yang paling tinggi. Logikanya jika kita masih berakal, bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang telah mendapat pendidikan politik di kampus akan terlibat sebagai pelaku kroyokan dalam kampanye,...

Menjadi Guru itu, Tergugah atau Tergugat?

Ada banyak hal di sekeliling kita yang terkadang kita remehkan dan jarang terjamah oleh perhatian kita, padahal beberapa di antaranya, tidak sedikit yang justru memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita. Maka benarlah petuah kehidupan : “beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari masa sebelumnya”, karena orang-orang yang bisa mendapatkan hikmah adalah mereka yang menggunakan akal dan mata hatinya untuk berpikir. Pengalaman di masa lalu, maka layaklah ia disebut sebagai guru kehidupan, karena ia yang mengajarkan bagaimana sebuah kesalahan itu tidak seharusnya terulang. Memang, kemana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun. Ada yan...

Timur Menggugat Miss World

Mas-mas åjå dipléroki, mas-mas åjå dipoyoki, karêpku njaluk dièsȇmi, tingkah lakumu kudu ngȇrti cårå, åjå ditinggal kapribaden katimuran! mêngko gȇk kèri ing jaman? mbok yå sing éling! éling bab åpå? iku budåyå! pancèné bȇnêré kandamu. ( Karya Ki Narto Sabda, Tokoh Budayawan ) Begitulah petikan lirik  tembang  Jawa, yang merupakan perwakilan sebuah ungkapan keprihatinan terhadap runtuhnya kehormatan dan kedudukan budaya ketimuran di negerinya sendiri. Bagaimana kita akan dikenal sebagai bangsa, jika kita tidak pernah mengakui dan menghargai budaya kita sendiri.  Adab  unggah-ungguh /  tahu sopan santun, begitu melekat pada bangsa ini ketika kita tampil dan berdiri atas nama Indonesia. Di belahan dunia manapun, di negara bagian manapun, ketika kita menginjakkan kaki di sana, mau tidak mau, maka kita adalah perwajahan dari budaya bangsa Indonesia. Negara ini tidak pernah merdeka, selama bangsa kita masih menjadi budak yang setia untuk bangs...